Buscar

Cara Cepat Hamil & Tips Hamil
Rezeki dari SMS
Showing posts with label cerita manajemen. Show all posts
Showing posts with label cerita manajemen. Show all posts

Dec 31, 2011

Seni Penolakan Haibara kala Mempersiapkan Family Gathering

Haibara kesal dengan sesuatu menyebalkan yang harus dilakukan untuk kesekian kalinya. Ini gara-gara dirinya diseret  Shinichi Kudo untuk ikut serta menjadi panitia family gathering di kantornya. Jabatannya gak tanggung-tanggung lagi.  Koordinator acara family gahthering!

Haibara yakin seyakin-yakinnya bahwa sembilan puluh persen pekerjaan panitia family gathering ini ada di seksi acara.  Jadi Shinichi memberi “gunung gajah” untuk dipikul Haibara. Kerjanya pasti berat banget, berjibun-jibun serta akan memakan habis waktunya. Gimana nggak berat kalo harus membuat acara yang menarik buat 4000 orang!.



Udah gitu Shinichi dan teman-teman lainnya pengen acara beda sama sekali dari tahun lalu. Gak boleh sama!  Harus ada novelty-nya kata mereka.  Sebagai salah satu dampaknya pengisi acara dari mulai pembukaan hingga penutup  adalah kaum profesional dari luar perusahaan. 

Definisi profesional menurut Shinichi adalah layak masuk TV. Artinya jika si pengisi acara belum pernah ditayangkan di TV berarti dia belum bisa dipentaskan di family gathering.  Sebuah persyaratan yang ditentukan oleh Shinichi, tapi dampaknya langsung terasa oleh Haibara, yaitu dirinya harus jungkir-balik & pontang-panting mencari pengisi acara.

Sebenarnya semua itu menyenangkan Haibara yang emang demen bikin acara seperti ini. Yang menyebalkan hanya satu, yaitu wanti-wanti Shinichi kepada Haibara untuk pandai-pandai menolak semua permintaan dari kalangan internal untuk tampil — termasuk bila ada request dari para petinggi di kantor.

Bahkan bos-nya sendiri pun harus ditolak jika minta anaknya bisa tampil di family gathering.  Itu semua karena cita-cita Shinichi untuk membuat integrated family gathering. Entah dari mana dia mendapat istilah itu. Yang pasti Haibara yakin itu bukan ide asli Shinichi, secara anak itu bukanlah ahli tentang acara-acara seperti ini. 

Integrated Family Gathering menurut Shinchi berarti  acara dari awal sampai akhir adalah satu kesatuan yang sudah dipersiapkan dari sejak membuat konsep acara.  Jadi pengisi acara ditentukan berdasarkan konsep acara dan bukan sebaliknya.  Nyatanya emang demikian. Setelah ditentukan konsep acara, maka panitia kecil yaitu Shinichi, Haibara, Kogoro dan dua teman lainnya membutuhkan waktu tiga minggu hanya untuk memperdebatkan susunan detail acara dan siapa saja yang akan mengisi acara.

Debat selepas jam kerja yang berlangsung hingga larut malam bahkan terkadang sampai dini hari itu untungnya berhasil melahirkan blueprint family gathering yang menjadi panduan bersama semua panitia. Disitu sudah tercantum semua pengisi acara, tidak boleh ada tambahan lagi. 

Blueprint itu juga menjadi panduan dalam hal tolak menolak para peminat jadi pengisi acara. Jadi masalahnya bukanlah kualitas para peminat tersebut,  tapi karena konsep acara menghendaki pengisi acara yang sesuai dengan konsep itu dan mereka telah selesai dipilih oleh panitia.  

Alhasil sampai tujuh hari menjelang acara, Haibara udah menolak belasan calon pengisi acara. Dari mulai band lokal karyawan, anak karyawan, keluarga rekanan kantor, hingga pihak-pihak luar yang ingin berpartisipasi. Semuanya ditolak dengan sukses oleh Haibara.   

Namun kali ini yang minta beda. Dia adalah seorang petinggi, bekas koordinator Haibara saat dirinya mengikuti satu project yang dipimpin orang itu beberapa tahun yang lalu. Si Bapak ingin anaknya tampil di panggung family gathering.

Paduan suara anak-anak SMP.  Sebenarnya seru juga siy karena Haibara tahu persis suara mereka bagus-bagus. Dia pernah melihat mereka pentas di Sabuga.  Namun blueprint  udah terbit.  Slot acara sudah tersusun rapi.  Bisa dibom Shinichi bila dirinya merubahnya hanya karena dirinya  gagal menolak satu permintaan saja.

Wuhhh kali ini Haibara harus berusaha keras untuk menolaknya dengan halus.  Secara dirinya banyak berhutang budi pada si Bapak yang telah mengajarinya banyak hal tentang perprojekan.  Sungguh sial dirinya harus melakukan penolakan ini.  Satu hal yang tidak pernah diduganya menjadi bagian dari tugas sebagai koodinator acara family gathering -– menjadi Sang Penolak.  Dus Haibara tiba-tiba merasa menggenggam bola panas yang harus secepatnya dia padamkan.

Haibara ingat seminggu yang lalu dirinya dengan susah payah berhasil menolak permintaan teman dekatnya untuk menampilkan adiknya yang telah lima tahun ikut sanggar tari dengan cita-cita ingin bisa pentas di kantor kakaknya.  Dirinya harus tegar saat melihat si adik kecewa dari sebelumnya hatinya berbunga-bunga karena mengira dapat tampil di panggung dengan ditonton ribuan orang itu.  Secara Haibara sering banget berenang bareng si adik itu di hari-hari libur – dapatlah dibayangkan kekeluan lidahnya.  Pahitnya mengecewakan teman dekat benar-benar dia rasakan saat itu

Penolakan yang lebih ringan -- dilakukan Haibara terhadap salah satu instansi keamanan yang ingin menampilkan band yang baru saja mereka bentuk.  Juga dari  klub lawak yang salah satu anggotanya adalah karyawan kantor. Juga dari beberapa orang luar yang berminat mengisi acara. Untunglah  mereka semua  bisa mengerti alasan yang dikemukakan Haibara.

Haibara berusaha keras menjelaskan adanya blueprint family gathering yang harus dipatuhi. Juga tentang  DP semua pengisi acara yang sudah dibayar dan acara sudah tersusun rapi hingga hitungan menit.  Semua itu membuat pengisi acara tak memungkinkan untuk dirubah lagi. Dan memang demikianlah adanya.  Kadangkala dia menghibur para peminat tersebut dengan menyarankan mereka untuk mengajukan diri pada acara yang lain seperti ulang tahun himpunan kayawan atau acara DKM.  Sebuah penolakan yang dikritik Shinichi sebagai melemparkan bola panas pada orang lain.

^_^

Setelah hampir satu jam dalam keraguan, akhirnya Haibara memberanikan diri menjawab SMS itu. Dia sudah terlalu lelah mencari-cari  kalimat yang enak untuk diungkapkan.

“Mohon maaf Pak,  slot waktu pengisi acara sudah penuh, gak bisa diselip-selipin lagi. Jadi panitia tidak bisa menampilkan paduan suara si adik”

“Saya hanya butuh waktu paling lama 20 menit untuk menampilkan 4 lagu. Please tolonglah mereka sudah sangat antusias untuk tampil di family gathering”. Demikianlah bunyi  jawaban atas SMS Haibara

Duh! Haibara pusing gimana cara dia bisa menolak permintaan kedua  ini. Secara dia sudah divonis mati oleh Shinichi gak boleh merubah-rubah acara lagi karena semuanya sudah dihitung hingga satuan menit oleh Show Director. Tak satu menit-pun yang dibiarkan lowong tanpa detail kegiatan yang harus dilakukan pada menit tersebut.  Memasukkan pengisi acara baru berarti mulai kerja besar lagi menyusun acara.

Akhirnya Haibara memutuskan untuk melenggang ke ruangan Shinichi untuk minta “pertanggung jawaban” dengan cara memilihkan jawaban yang paling pas buat Si Bapak. Saat dirinya duduk di depan meja Shinichi dan ngomong tentang hal itu, anak itu hanya nyengir kuda seraya menyuruh Haibara mengatakan hal-hal yang lain bersamaan dengan SMS penolakan yang akan dikriimkannya.

“Kalo gak salah si Bapak baru saja pindah ke rumah baru yang ada kolam di halaman depannya. Omongin saja tentang itu, mudah-mudahan membantu mencairkan suasana” kata Shinichi

“Busyet lu!. Dasar tukang kasiy beban moral berat ke orang, udah tahu aku dekat dengan dia malahan aku yang disuruh menolak dia!” kata Haibara sambil tiba-tiba saja kepalanya serasa muncul tanduk saking kesalnya melihat kecuekan Shinichi. Rasa-rasanya dirinya ingin menyeruduk Shinichi dengan tanduk itu.  Tapi sudahlah. Percuma saja berantem dengan si tukang nyengir. Malahan dia seneng kalo diseruduk Haibara. Akhirnya dengan hati masygul Haibara memakai juga saran Shinichi pada SMS-nya.

“Punten pisan Pak, kita sudah susun acara hingga hitungan menit. Jadi benar-benar kami tidak bisa lagi menyelipkan pengisi acara lain. Semua jadwal sudah confirm ke pengisi acara, dan kami kesulitan bila harus buat konfirmasi baru lagi dengan mereka.  Btw saya sudah lihat rumah bapak yang baru, asyik banget ada kolam besar di halaman depan, saya pernah lihat Bapak baca koran sambil duduk di gazebo di tengah kolam. Kayaknya seru banget!”

Satu jam belum ada jawaban dari Si Bapak. Hingga Haibara mulai gelisah sambil sesekali melirik Shinichi yang masih sibuk dengan kertas-kertas pekerjaannya.  Akhirnya Haibara membuka laptopnya dan mulai sibuk dengan SOP-SOP baru yang harus dibuatnya.  Dia memutuskan untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaanya. Namun untunglah, dua jam kemudian ada jawaban dari si Bapak, dan isinya pendek namun sangat melegakan.

 “OK, saya pernah mengalami jadi panitia, jadi saya dapat memahami kesulitan Haibara”.


Wuuiiiih.... Haibara serasa melayang-layang di antara mega-mega. Pekerjaan yang disangkanya sulit itu ternyata tidak sesukar yang dibayangkan.  Ternyata si Bapak dapat memahami alasan Haibara. Jadi hal-hal  yang ditakuti selama beberapa jam terakhir ini tidak nyata, hanya ada pada bayangannya sendiri (Undil-2011).

Gambar dari :artstor 

Jul 2, 2011

Cara Mitsunari Mengatasi Rasa Kantuknya

Seperti malam-malam sebelumnya Mitsunari kembali keluar kamar karena kantuk tak tertahankan. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tugas presentasi kuliah buat besok pagi, serta tumpukan dokumen kantor yang harus dibereskan malam ini telah memaksanya untuk menunda tidurnya. Semua harus beres malam ini. Sialnya matanya tak tahan lagi untuk tidak terpejam.

Maka seperti yang biasa dilakukannya, Mitsunari keluar dari rumahnya sambil menenteng ransel dan berjalan menuju warung tenda yang berada hanya 300 meter dari rumahnya. Warung itu melekat pada pinggiran sebuah taman kecil di tengah pertigaan Jalan Eijkman. Taman berbentuk segitiga dengan panjang sisinya 20 meter itu pada dua sisinya dijejali deretan warung. Satu sisi yang lain berisi mobil-mobil yang diparkir. Mitsunari menuju salah satu warung yang menjadi langganannya.

Warung langganan Mitsunari menjual makanan standar kakilima. Pecel lele, sop kikil, soto ayam, bebek goreng dan ayam goreng. Mitsunari biasa memilih salah satu menu secara bergantian. Namun untuk malam ini yang hanya bertujuan mengusir kantuk, Mitsunari memesan kopi susu plus beberapa potong pisang goreng saja. Dia ngobrol barang 5-10 menit dengan Bapak yang melayani makan, baru kemudian menyingkir ke tempat duduk dari semen yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pembatas taman.

Di bawah penerangan sinar lampu taman yang lumayan terang, Mitsunari meneruskan segala tetek bengek tugas kuliah dan kerjaan kantor di situ. Dikeluarkannya laptop dan buku-buku dari dalam tas, kemudian Mitsunari mulai beraksi membereskan tugasnya.

Anehnya saat mengerjakan tugas di warung ini Mitsunari berkurang jauh kantuknya. Mungkin karena pengaruh angin malam, mungkin juga karena obrolan orang-orang di warung yang membuatnya bersemangat mengerjakan tugas karena melihat orang lain juga terjaga. Sesekali diseruputnya kopi dan dicomotnya pisang goreng sebagai selingan. Satu dua kali dia ikutan nyeletuk menimpali obrolan yang tengah berlangsung seru di warung.

Biasanya pengunjung warung secara konstan datang dan pergi silih berganti. Jarang warung sampai kosong. Obrolan di sana pun bervariasi topiknya, tergantung selera pengunjungnya. Mitsunari tak ambil pusing dengan isi obrolan karena pikirannya tertuju paa tugas-tugasnya. Dia menyelesaikan semua tugas kuliah dan dokumen kantornya bersamaan dengan jam tutup warung. Pukul 3 pagi kala penjaga warung beres-beres warungnya, saat itulah biasanya pekerjaan Mitsunari juga sudah selesai.



Untung malam ini tidak hujan. Jika hujan tiba-tiba turun Mitsunari bisa pindah ke serambi mushola yang ada di seberang taman. Di serambi yang tidak berdinding itu, dia dapat meneruskan pekerjaannya hingga selesai.

Terkadang bila kantuk tidak tertahankan, Mitsunari masuk ke kamar mandi Mushola dan menyegarkan badannya dengan mengguyurkan air ke kepalanya. Jika kantuk benar-benar parah Mitsunari mandi di tempat itu. Lazimnya kantuk Mitsunari jauh berkurang setelah mandi.

Diam-diam Mitsunari berasa berhutang budi pada warung yang telah membantunya memicingkan mata semalaman. Tanpa bantuan mereka bisa jadi tugas-tugas kuliah ataupun pekerjaan kantor terlambat atau bahkan terbengkalai. Untunglah mereka membuka warung di tempat itu sehingga Mitsunari yang harus lembur dapat terbantu (undil – 2011)

Apr 30, 2011

Persahabatan Romo Wage dan Romo Sunu

Salah seorang sahabat yang sering disambangi Romo Wage adalah Romo Sunu. Nama lengkapnya Sunu Catur Gunawan Wibisono, seorang juragan bubur kacang hijau  (burjo) yang berjualan di pertigaan menuju Jalan Sukajadi. Di kiri kanan jalan tersebut terdapat banyak kios-kios kelontong dan pakaian yang terkenal harga barangnya murah sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli.
 

Dampaknya warung burjo Romo Sunu juga selalu ramai dikunjungi pelanggan dan juga sopir-sopir angkot yang sedang ngetem cari penumpang di pertigaan Sukajadi.

Salah satu yang dikagumi Romo Wage pada diri Romo Sunu adalah keteraturan hidupnya. Romo Sunu selalu mulai berjualan pukul 9 pagi dan tutup pukul 3 sore, sesaat sebelum Ashar. Sehabis itu dia pulang ke Langgarnya dan menjadi imam Sholat Ashar di sana. Kemudian dia pergi ke kebun untuk menyiram sayuran-sayurannya.

Nanti pukul 5 dia sudah ada di langgar lagi untuk mengajar mengaji orang-orang tua hingga maghrib. Dilanjutkan dengan mengajar ngaji anak-anak kecil hingga Isya. Khusus untuk malam Jumat, Romo Sunu memberi pengajian umum yang diikuti oleh banyak sopir angkot yang rata-rata telah kenal baik dengan Romo Sunu.

Keistimewaan yang lain dari Romo Sunu adalah dia seorang pecinta buku, khususnya buku-buku agama. Menurut Romo Sunu, dia butuh selalu baca buku agar materi pengajiannya ada rujukan tertulisnya dan sesuai dengan kondisi masakini.

Di warung buburnya terdapat rak-rak buku yang berisi ratusan buku agama. Setiap hari, disela-sela waktu melayani pembeli dia menyempatkan diri membaca buku-buku tersebut. Awalnya sebagian besar bukunya berbahasa arab, oleh-oleh dari melanglang buana selama 10 tahun sejak lulus dari STM . Namun saat ini Romo Sunu sengaja membeli buku-buku berbahasa Indonesia agar bisa dipahami oleh teman-temannya yang sering pinjam buku untuk dibaca di rumah.

Biasanya setelah mencorat-coret bahan pengajian di kertas bekas, Romo Sunu akan mengetiknya di sebuah laptop kuno yang dibelinya saat masih menjadi awak kapal dagang. Setelah selesai diketik, tulisan itu dibagikan pada para peserta pengajian.


Inilah keistimewaan lain dari Romo Sunu, dia selalu membagikan bahan pengajian dalam bentuk tulisan sehingga bisa dibaca lagi di rumah. Hal itu juga berlaku untuk pengajian yang diikuti oleh anak-anak kecil. Untuk anak kecil, biasanya Romo Sunu melengkapi bahan pengajiannya dengan dongeng-dongeng pengalamannya selama melanglang buana menjadi ahli elektronik di kapal-kapal dagang.


Karena bahan-bahan pengajiannya berupa tulisan, maka perlahan-lahan tulisan-tulisan itu beredar dari tangan ke tangan dan dari fotocopy ke fotocopy. Lambat laun orang-orang mulai mengenal Romo Sunu, dan Pengajian Malam Jumatnya bertambah ramai. Bahan pengajian yang untuk anak kecil-pun telah banyak di pakai di playgroup dan taman kanak-kanak sebagai bahan mengajar karena banyak dihiasi cerita-cerita menarik.

Hampir setiap hari ada orang yang berkonsultasi soal agama dan masalah sehari-hari di warung buburnya, terutama sopir-sopir angkot dan karyawan toko. Romo Sunu yang pernah nyantri selama hampir 8 tahun itu akan menjawabnya dengan senang hati. Untuk jawaban yang dirinya masih ragu, Romo Sunu akan berkonsultasi dengan guru ngajinya.

Karena seringnya memberi konsultasi berbagai macam masalah pada banyak orang tersebutlah maka lama-kelamaan Sunu Catur Gunawan Wibisono dipanggil Romo, yang artinya bapak. Itu karena orang-orang di sekitarnya menganggap Sunu yang masih muda itu punya kebijaksanaan seperti seorang bapak bagi mereka. Sehingga layak dituakan dan dihormati.

Lambat laun orang mengenal Sunu Wibisono sebagai Romo Sunu, karena kebijaksanaannya. Sunu yang selama 10 tahun menjadi teknisi elektronika kapal selepas lulus STM tersebut pulang ke rumah karena diminta bapaknya untuk mengurus Langgar peninggalan kakeknya. Sunu yang pernah mondok di pesantren tersebut diharapkan dapat menghidupkan kembali Langgar tua itu dengan sholat jamaah dan pengajian.

^_^

Romo wage sering mampir ke warung Romo Sunu sekedar untuk mengobrol sana-sini membahas kehidupan sehari-hari, juga untuk mengundang Romo Sunu memberi pengajian di rumahnya. Kebetulan Romo Wage punya belasan angkot, dan dia secara rutin mengumpulkan mereka untuk diberi pengajian oleh seorang guru ngaji. Guru yang rutin ditunjuk Romo Wage adalah Romo Sunu, yang sudah kenal baik dengan kehidupan sehari-hari para sopir sehingga pengajiannnya dapat sesuai dengan kebutuhan mereka.

Setiap kali mendapat buku agama yang bagus, Romo Wage menghadiahkannya untuk Romo Sunu. Sebaliknya saat mendapat kiriman barang dari teman-temannya yang masih bekerja di kapal dagang, Romo Sunu tak lupa memberikan sebagian kepada Romo Wage. Tak heran persahabatan mereka semakin erat.

Salah satu jasa Romo Wage yang tidak bisa dilupakan Romo Sunu adalah gagasan Romo Wage pada Romo Sunu untuk menjual air minum dalam botol gelas. Kini lebih dari setengah dari omzet penjualan Romo Sunu berasal dari penjualan air putih dingin dan air jeruk nipis dingin yang dikemas pada botol gelas. Dalam sehari kulkas dua pintu di warung Romo Sunu bisa harus 3- 4 kali diisi untuk melayani permintaan pembeli.

Sebagian besar pembelinya adalah sopir angkot dan karyawan toko di Jalan Sukajadi. Menurut mereka minum air putih dingin dalam botol gelas serasa lebih mantap dibanding dalam botol plastik. Demikian juga air jeruk nipis Romo Sunu rasanya orisinal, mengingatkan mereka pada air jeruk nipis di rumah nenek saat mereka masih kecil.

Biasanya mereka ambil botol itu pada pagi hari dan dibalikkan sore hari setelah isinya diminum. Setiap hari ada ratusan botol kosong yang harus dicuci untuk diisi lagi keesokan harinya. Berkat jualan air minum dalam botol gelas itulah Romo Sunu dapat selalu membeli buku-buku baru (undil-2011).

gambar diambil dari:  http://server.dragoart.com/

tags: Cerpen, Romo Wage, Romo Sunu, Cerita Pendek, Cerita Manajemen, Cerita Bisnis, Romo adalah panggilan untuk ayah

Apr 17, 2011

Don't Just Clever, It’s Not Enough

Dian and Doni had just graduated from university. Dian took the study of bacteria, while Doni the fungi. Both are willing to work hard and be ready to stay for months in the microbiology laboratory for completed the research.

They are smart students, but Dian’s academic achievement is much prominent than Doni. Dian is a student with a very brilliant academic achievement, and additionally her non-academic achievements are no less convincing.

Cum laude predicate and a wad of certificates of her non-academic achievement make almost all their friends be sure that Dian will steadily moving toward the professional work faster than Doni who his achievement was not so prominent.

However the reality is different with their friends prediction. Just less than a month Doni be accepted to work at a factory of papers. Doni also gets offering of jobs from several companies. Otherwise Dian have need of one year in waiting before gets a job in a little bank. She don’t get any offering of jobs from another companies.

Why?

Dian is realy more clever than Doni, but Dian didn't have the skill which possessed by her friend. Doni has the skill to utilizing his knowledge of microbiology. Dian just a clever student, however she don’t know how to take advantage of her exceptional academic ability

Like a sprinter, Dian only able to win a championship which held in a special stadium for the runner. But if she has to compete the championship of run in the wild, Dian will be lose. Despite her run very fast, Dian only know the way of run on the highway.

There is absolutely unthinkable for her to running through a shortcut ways, like climbing down an valleys, crossing the rivers, or crossing a fields to reaching the destination faster. Consequently Dian’s achievement easily surpassed by a runner with the speed far below her.

Unlike Dian, Doni not just rely on jobs information that are in the university information center or in any newspapers. Doni studying many companies profile to predicting whether the companies needs his expertise, then send the resume to them. There are many companies need Dian and Doni ability.

Like The factory of negative film which assume the fungus is a threat for their negative film roll, The paper manufacturers who confuse when the paper rolls break off caused of overgrown of fungus; The wheat flour producers who want to have a mold-free warehouse; The food factories who want the food free of bacteria and fungi; The museum of painting in Singapore who wants to protect the collection from fungal attack, even the petrochemical industry were keen to recruit Doni after gets a presentation on wastewater treatment using microbes which cheaper and faster than the conventional one.

Doni has ability to optimizing the application of his expertise, so he gets a positive responses from many companies. The skills to use the knowledge is the key. Just clever is not enough. Dian should have ability to expanding the knowledge and see the problems from various perspectives in order to succesfully applying the knowledge in the real world (undil - 2011)

Sep 20, 2010

Common Sense

Suatu ketika Shinichi Kudo bertemu Kirana yang sedang bingung untuk mengetahui volume tangki penampung air yang baru saja dipinjamnya dari Departemen lain. Tangki setinggi delapan meteran tersebut adalah tangki lama yang sudah tidak terpakai, sehingga tidak dilengkapi dokumen-dokumen pendukung yang berisi informasi tentang dimensi, volume, material tangki maupun spesifikasi teknis lainnya. Jadilah Kirana pusing mencari cara mengetahui volume tangki.

“Kalo mo ngukur volume tangki gampang. Gak perlu repot-repot menghapal rumus yang bikin pusing. Volume itu sebenarnya luas alas kali tinggi. Jika barang berbentuk silinder, tentu saja luas alas adalah luas lingkaran alas silinder dan tinggi direpresentasikan oleh tinggi silinder. Dirimu cukup suruh anak buahmu mengukur diameter alas tangki lalu dihitung luasnya, kemudian dikalikan tinggi tangki. Langsung ketemu volume tangki deh!”

Kirana manggut-manggut tanda setuju. Ternyata dia tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui volume tangki. Gak perlu nyari-nyari dokumen tangki jaman baheula yang belum tentu ada. Semua dapat diatasi dengan mempergunakan pengetahuan sederhana yang sebenarnya dapat dengan mudah dikuasai semua orang.

^_^

Kali lain Shinichi Kudo kedatangan seorang tamu yang membicarakan tentang pengiriman tabung gas. Saat tamu tersebut bertanya tentang prosedur keselamatan penanganan tabung gas, Shinichi diam. Tidak tahu harus menjawab apa, karena dirinya tidak pernah memperhatikan bagaimana tabung gas diterima di perusahaannya. Untunglah waktu itu ada Samijo yang kebetulan sering memesan tabung gas.

Samijo mengatakan bahwa prosedur penanganan tabung gas mengikuti prosedur keselamatan standar. Tabung gas di dalam mobil diberdirikan dengan posisi tegak lurus dan diikat dengan rantai sehingga tidak akan terguling. Tabung gas juga dilengkapi dengan valve pengaman sehingga tidak akan bocor.

Sebelum diterima dari vendor, dipastikan terlebih dahulu bahwa kondisi fisik tabung tidak cacat, sambungan-sambungan, gasket, & regulator terpasang dengan benar dan berfungsi dengan baik. Metode penurunan tabung gas dari mobil-pun dilakukan secara aman, dengan mempergunakan alat bantu dan dilakukan oleh minimal dua orang untuk menghindari jatuh atau tergulingnya tabung gas saat diturunkan.

Samijo dapat menjelaskan dengan runtut dan jelas sehingga tamu itu puas dan dapat mengerti bahwa perusahaan sangat memperhatikan prosedur keselamatan dalam penanganan tabung gas. Samijo ingat dan mampu menjelaskan peristiwa sederhana yang sebenarnya juga sering dilihat Shinichi. Hal itu membuat Shinichi diam termangu, apa yang salah pada dirinya?

^_^

Common sense adalah pengetahuan sederhana yang dipahami oleh masyarakat umum. Common sense bukanlah merupakan pengetahuan khusus dan luar biasa yang hanya bisa dikuasai segelintir orang. Kebanyakan orang dapat menguasai common sense dengan menggunakan akal sehat. Bahkan common sense bisa diketahui dengan sendirinya oleh seseorang seiring pengalaman hidupnya.



Contoh common sense adalah perkalian 5 x 5 = 25, 10 x 10 = 100 dan 25 x 25 = 625, yang dapat dijawab oleh banyak orang dengan nyaris tanpa perlu berpikir. Pengetahuan itu telah meresap selama duduk di bangku sekolah dasar dan siap dipergunakan bila diperlukan. Common sense berupa penguasaan perkalian tersebut bukan sesuatu yang luar biasa atau perlu kejeniusan. Cukup dengan kemampuan otak yang biasa-biasa saja dan memori ala kadarnya seseorang dapat menguasai perkalian-perkalian sederhana.

Dalam banyak kasus, common sense sangat berguna untuk memecahkan permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Seperti masalah volume tangki yang dihadapi Kirana dan masalah penanganan tabung gas yang ditanyakan oleh tamu Shinichi Kudo. Sebenarnya baik Kirana maupun Shinichi Kudo dapat memecahkan permasalahan mereka dengan mempergunakan common sense yang telah mereka ketahui. Hanya saja mereka berdua tidak terlatih dalam penggunaan common sense untuk memecahkan masalah.

Perlu latihan agar dapat mempergunakan common sense. Manusia perlu berlatih untuk mempergunakan informasi yang tersedia dan merangkainya menjadi informasi yang sistematis & berguna. Dalam kasus Kirana, dia dapat memperoleh informasi ukuran-ukuran fisik tangki, seperti tinggi dan diameter. Selanjutnya dia mempergunakan common sense yang diketahuinya sewaktu SD tentang metode mengukur volume tabung. Dari penggabungan informasi dan common sense, akan diperoleh informasi tentang volume air yang dapat ditampung oleh tangki.

Kirana perlu berlatih mempergunakan informasi yang tersedia pada tangki dan menghubungkan dengan khasanah pengetahuan dan pengalaman yang telah dia miliki.

Dalam kasus Shinichi Kudo, tentu dia pernah mendengar atau membaca bagaimana cara penanganan tabung gas yang sering ditayangkan di media massa. Shinichi hanya perlu menceritakan ulang pengetahuan tersebut dengan runtut dan sistematis untuk menjawab pertanyaan tamunya tentang penanganan tabung gas. Tidak perlu menghapal prosedur atau petunjuk teknis karena semua itu hanyalah common sense yang bisa diketahui semua orang. Apalagi Shinichi sering melihat tabung gas diturunkan dari mobil pengangkutnya.

Shinichi dapat melatih common sense dengan mencoba menceritakan kembali sesuatu yang dilihatnya dalam kalimat-kalimat yang runtut dan sistematis. Berusaha menceritakan kembali sebuah peristiwa step demi step secara berurutan dan logis akan memaksa Shinichi untuk melihat lebih seksama. Dengan melihat lebih seksama dia akan bisa menceritakan dengan lebih sistematis. Hal itu tidak memerlukan kemampuan istimewa, hanya perlu sedikit berpikir untuk mengelaborasi apa yang baru saja dilihatnya.

Pengamatan secara seksama bukan berarti harus menghapal langkah demi langkah secara mendetail, yang diperlukan adalah mengetahui langkah-langkah utama dan alasan dibalik langkah tersebut. Dengan mengetahui hal-hal yang penting maka kita akan dapat dengan mudah mengelaborasi keseluruhan langkah dengan penjelasan yang sistematis dan logis.

Pendeknya common sense adalah sebuah tool yang sangat powerful untuk memecahkan permasalahan sehari-hari. Kita hanya perlu mengamati dengan lebih seksama dan berlatih mengelaborasi hasil pengamatan itu dengan sistematis (Undil, 26 Juni 2010. Inspired by kuliah immuno engineering Prof. Santoso. MD, 25/06/10).


Aug 15, 2009

Dongeng Sang Kancil dan Kijang Pelari

Kamu bukan seorang pelari yang militan! 
Kamu hanyalah seorang pelari yang setengah-setengah! 
Mana mungkin kamu bisa menang melawan 
Kancil dengan upaya seminim itu!!!



Sang kancil tersenyum mendengar keluh kesah kijang yang baru saja hari kemarin dikalahkannya saat mereka berdua berlomba lari di depan mata seluruh penghuni hutan.

Bayangkan! Kijang sang jawara lari sepanjang masa akhirnya takluk dari Sang Kancil yang lebih dikenal sebagai binatang bijak bestari daripada sebagai jagoan lari. Kebesaran nama Kijang Pelari bahkan tak dapat ditandingi oleh singa raja hutan yang tak pernah sanggup menangkapnya.

“Bagaimana mungkin saya kalah dari kamu! Padahal aku telah berlatih keras setiap hari dan mengorbankan waktu untuk keluarga hanya untuk mempersiapkan diri bertanding lari”
keluh Kijang sambil matanya berkaca-kaca meratapi gelar pelari terbaik sepanjang masa yang telah beralih pada Sang Kancil.

^_^

Dua binatang itu masih bercakap-cakap sambil berjalan beriringan kala hujan rintik-rintik tiba-tiba turun membasahi rerumputan di sepanjang jalan setapak yang mereka lalui. Kijang cepat-cepat mengajak Kancil untuk berteduh di sebuah gua yang terletak di tepi jalan agak menjorok ke dalam.

Alih alih mengikuti ajakan tersebut, Sang Kancil malahan tersenyum lalu berkata pada Kijang

“Dengar Kijang! Alasan kekalahan Kijang dari Kancil baru saja terjawab oleh gerimis rintik-rintik”

Kijang terkejut dan speechless, tidak tahu apa yang dimaksud Sang Kancil. Apa hubungan gerimis rintik-rintik dengan kekalahan dirinya.

“Gerimis kecil rintik-rintik cukup untuk menghentikanmu dari berlatih. Kamu hanyalah seekor kijang pelari yang setengah hati. Hujan kecil kau jadikan alasan untuk tidak berlatih!. Urusan tetek bengek di rumah kau jadikan alasan untuk memperpendek latihan!

Kijang tertegun mendengar kata-kata Sang Kancil. Dia memang sering menolak berlatih karena harus mencari pucuk daun-daunan buat anak-anaknya, padahal sebenarnya itu bisa dilakukannya sore hari setelah berlatih. Masalahnya Kijang tidak mau kerja lembur hanya karena harus berlatih. Dia maunya berlatih hanya di jam-jam kosong dari pekerjaan saja. Tidak mau menunda sebuah tugas untuk dikerjakan sore hari setelah berlatih. Pekerjaan dulu, baru setelah ada waktu kosong dia mau berlatih.

“Kamu bukan seorang Kijang pelari militan! Kamu bukan seorang Kijang pelari fundamentalis! Kamu hanya mau sedikit berkorban untuk meraih gelar pelari terbaik sepanjang masa! Kamu berlatih setengah setengah! Kamu berupaya ala kadarnya, sambil berharap faktor-faktor lain akan membantumu memenangkan lomba lari! Gak bisalah! Mana bisa dirimu menang dengan cara itu!

Hujan rintik-rintik belum berhenti kala Sang Kancil melanjutkan kata-katanya.

“Aku juga punya banyak hambatan seperti kamu! Tapi aku tetap berlatih walaupun itu berarti aku harus kerja ekstra mencari rumput di sore hari seusai berlatih! Aku juga tidak pernah berhenti oleh gerimis rintik-rintik. Aku mau menunda pekerjaan memperbaiki rumahku dari sore menjadi malam hari karena aku harus berlatih! Aku tidak ragu-ragu untuk berkorban, sementara kamu lempeng saja, bertindak seperti biasa tanpa mau membuat pengorbanan ekstra!.

Kijang termenung mendengar kata-kata Sang Kancil. Dirinya memang tidak pernah sepenuh hati berlatih untuk menjadi pelari terbaik sepanjang masa. Dirinya hanyalah makhluk setengah hati, bukan seorang yang militan. bukan seorang fundamentalis. Pantas saja dirinya gagal meraih kembali gelar itu. Diam-diam Kijang merasa dirinya pantas kalah dari Sang Kancil (undil – bandung agt 2009)


tags: dongeng sang kancil, cerpen, cerita pendek, cerita anak, cerita manajemen, cerita psikologi

Jun 6, 2009

Cerita Pendek Manajemen: Think Out of Box


foto: kamera poppy


Adalah Ibing dan Ibang. Dua bersaudara yang bekerja di dua perusahaan yang berbeda namun memiliki tugas serupa. Mereka bertugas mengelola dan memelihara kamar dingin, serta setiap hari melakukan review terhadap recorder suhu kamar dingin.

Namun cara kerja mereka berbeda. Jika Ibang selalu larut dalam rutinitas, Si Ibing secara rutin meluangkan waktu untuk mengambil jarak dari pekerjaan, belajar, mengevaluasi dan melakukan perbaikan.

Ibing bekerja di sebuah perusahaan importir daging dan bertugas menangani 20 kamar dingin tempat penyimpanan daging. Sedangkan Ibang bekerja di perusahaan eksportir ikan yang bertanggung jawab terhadap 20 kamar dingin tempat penyimpanan ikan. Walaupun cara kerjanya berbeda, keduanya sama-sama teliti, terampil dan memiliki kecepatan yang sama dalam menyelesaikan pekerjaan.

Bila ada penyimpangan mereka dengan sigap mengundang bagian teknik untuk melakukan perbaikan. Selama masih terjadi gangguan suhu, mereka memantau dengan ketat kualitas barang yang tersimpan di dalam kamar dingin untuk memastikan bahwa semua barang dalam kondisi segar dan tidak mengalami kebusukan. Mereka juga membuat laporan bulanan kondisi kamar dingin untuk direview oleh bagian QC.

^_^

Alkisah lima tahun kemudian terlihat perbedaan nyata antara kamar dingin Ibang dan kamar dingin Ibing. Kamar dingin Ibing jarang sekali mengalami gangguan dan jika terjadi gangguan akan cepat teratasi. Jumlah gangguan yang terjadi di kamar dingin Ibing jauh menurun dibanding lima tahun lalu.

Kontras dengan milik Ibing, kamar dingin Ibang masih seperti yang dulu. Jumlah gangguan dan lama perbaikan masih sama dengan lima tahun lalu. Ibang tidak banyak melakukan perbaikan pada kamar dinginnya. Dia lebih banyak berfungsi sebagai pengisi formulir data yang rapi dan tidak tertarik untuk melihat lebih jauh sesuatu di balik grafik-grafik suhu yang tercetak di kertas recorder.

Pengetahuan Ibang tentang kamar dingin-pun nyaris sama dengan sekian tahun silam. Dia tidak banyak belajar tentang teori-teori kamar dingin dan mempergunakannya untuk menuntaskan permasalahan yang dia hadapi sehari-hari. Ibang sepenuhnya bergantung pada orang-orang teknik untuk melakukan perbaikan bila terjadi gangguan kamar dingin.

Berbeda dengan Ibang, Si Ibing banyak belajar tentang kamar dingin. Dia rajin mencatat setiap gangguan dan berdiskusi dengan bagian teknik tentang penyebabnya. Catatan-catatan Ibing dalam dua tahun telah menjadi database kondisi kamar dingin yang berisi jenis-jenis kerusakan, ciri-cirinya dan cara perbaikannya. Kemudian Ibing bergerak lebih jauh untuk mengatasi masalah dengan menghilangkan akar penyebabnya.

Komponen-komponen mesin yang lemah diganti dengan yang berkualitas lebih baik. Kegiatan pemeliharaan rutin disesuaikan dengan kondisi terkini mesin dan diarahkan untuk mencegah terjadinya gangguan. Lalu lintas barang ke dalam kamar dingin-pun di atur untuk meminimalkan gangguan terhadap suhu. Tak heran dalam jangka lima tahun -- kondisi kamar dingin Ibing telah berubah menjadi jauh lebih baik.

^_^

Ibing tahu persis apa yang harus dilakukan agar dapat terus berkembang di pekerjaan adalah thinking out of box. Berpikir tanpa dibatasi kebiasaan-kebiasaan rutin sehari-hari.

Pada intinya dirinya tidak boleh terjebak pada rutinitas. Dirinya harus meluangkan waktu untuk berpikir tentang masa depan. Tentang peluang-peluang yang harus dia temukan di celah-celah pekerjaan sehari-hari.

Tanpa berusaha untuk mengambil jarak dengan kesibukan sehari-hari seperti mereview recorder dan mengatur posisi barang di kamar dingin -- dirinya bakalan beku, tidak berkembang dan terjebak pada rutinitas. Dia hanya akan mengulang-ulang hari-harinya, bukan berkembang dari hari ke hari. Dia hanya akan punya pengalaman satu hari yang terus diulang-ulang hingga bertahun-tahun.



Akibatnya meskipun dia sudah bekerja selama satu tahun, tapi sebenarnya dia hanya punya pengalaman kerja sehari yang diulang-ulang seolah-olah telah satu tahun. Lain halnya bila dia sejenak mengambil jeda, berhenti sejenak untuk mengevaluasi –- semuanya akan terlihat lebih jernih.

Kelemahan-kelemahan dan peluang-peluang akan terlihat lebih jelas bila dia rela meluangkan waktu untuk membuat evaluasi. Perbaikan hanya dapat dilakukan bila dia mengambil jarak dari rutinitas.

Thinking out of Box juga berarti Ibing harus menambah pengetahuan yang dimiliki. Bisa dari orang-orang yang lebih ahli atau lebih berpengalaman. Bisa juga ilmu didapat dari buku-buku ataupun sumber informasi lain seperti browsing dari internet.

Dengan bekal tersebut, Ibing tidak perlu mengulang kesalahan orang lain untuk mendapatkan pengetahuan baru. Dia cukup menyerap pengetahuan yang telah dimiliki orang lain untuk diterapkan pada pekerjaan sehari-hari (Undil – Juni 2009).


Jan 5, 2009

Romo Wage dan Penjual Kupat Tahu

Cerita ini terjadi sewaktu Romo Wage masih muda (Romo= dalam bahasa jawa adalah panggilan untuk bapak). Waktu itu dia merantau ke sebuah kota besar dan menjadi asisten seorang penjual kupat tahu.

Satu porsi kupat tahu dagangan majikannya berisi sebuah ketupat yang telah diiris-iris, sejumput taoge, sebuah tahu goreng, lalu diatasnya diberi bumbu kacang seperti yang biasa digunakan pada sate ayam. Begitulah bentuk masakannya dari hari ke hari, dari bulan ke bulan sampai berganti tahun tak pernah berubah.

Sebenarnya Romo Wage telah berusaha memberi saran kepada majikannya untuk memberi variasi pada kupat tahunya, tapi sang majikan menolaknya. Dia khawatir justru para pelanggannya tak senang lalu beralih ke pedagang kupat tahu lain yang banyak mangkal disekitar tempatnya berjualan. Jadilah usulan Romo Wage muda mentok. Baik usulan variasi pada kerupuk, pada tahu, maupun pada bumbu ditolak oleh majikannya.

Genap setahun membantu majikannya, akhirnya kesempatan itu tiba. Seusai lebaran sang majikan bermaksud berlibur agak lama di kampung. Untuk sementara dia menyerahkan gerobak dagangannya pada Romo Wage, dengan pesan untuk dengan cermat meracik bumbu agar pelanggan tidak lari. Romo Wage manggut-manggut, dalam hatinya dia ingin melakukan lebih dari sekedar mempertahankan rasa, dia ingin mengembangkan menu kupat tahu buatannya.

Untuk menghindari kemarahan majikannya, Romo Wage tidak mengganti resep, tetapi memilih memberi tambahan menu pada kupat tahunya. Dia menawarkan pindang telur, telur dadar, telur matasapi yang telah diberi bumbu pedas, ayam rica-rica pedas, pepes tahu dan pepes ikan sebagai teman makan kupat tahu. Kerupuk yang ditawarkan juga diberi variasi, kerupuk putih, kerupuk udang, kerupuk ubi bahkan emping melinjo. Dia juga memberi dua pilihan rasa bumbu kacang, yaitu rasa manis dan rasa asin untuk mengakomodir selera pelanggannya.

Variasi yang ditawarkan Romo Wage pada mulanya tidak ditanggapi oleh pelanggannya. Mereka tetap pada menu lama dan tidak berminat mencoba menu baru yang ditawarkan Romo Wage. Tapi kemudian Romo Wage menyadari bahwa dirinya hanya jual kupat tahu saat sarapan pagi saja. Rupanya para pelanggannya tidak ingin makan macam-macam untuk sarapan. Mereka hanya ingin sekedar pengganjal perut. Hal itu disadarinya setelah dia mengamati banyak diantara pekerja yang makan bersama para pelanggannya membawa bacang, lontong berisi bumbu atau sekedar roti tawar untuk sarapan pagi.

Jadilah Romo Wage mengubah strateginya. Kini dia juga jualan pada saat jam makan siang. Ternyata strategi itu tidak sia-sia. Pada mulanya para pelanggannya hanya menoleh heran ke gerobak kupat tahu yang biasanya hanya jualan di pagi hari. Namun pelan-pelan mereka mulai tertarik. Pertamanya hanya satu dua orang mencoba dengan tambahan lauk ayam rica-rica atau pepes ayam. Kemudian pelan-pelan pelanggannya bertambah. Rupanya mereka puas dengan paduan rasa baru yang dibuat Romo Wage untuk ketupat tahunya. Akhirnya pada jam makan siang-pun gerobak kupat tahu Romo Wage masih diminati oleh para pekerja yang hendak makan siang.

Tentu saja majikannya sangat kaget setelah tahu apa yang berhasil dilakukan Romo Wage. Dia juga senang dengan keberhasilan itu dan bahkan menawarkan gerobaknya untuk dipakai Romo Wage di siang hari. Romo Wage dengan halus menolak tawaran itu karena dirinya akan pindah ke kota lain dimana sahabatnya telah menawarkan posisi untuk membantu menjaga sebuah kios tempat penjualan barang bekas (undil 03 Januari 2009)

Dec 30, 2008

Cerpen Manajemen: Sebuah Cerita Otomatisasi

Seorang newbie (pekerja baru) akhirnya memutuskan menemui bossnya untuk mengajukan keberatan atas pekerjaan yang telah dilakukannya selama satu tahun masa kerjanya. Dia menginginkan pekerjaan yang lebih menantang kemampuannya. Dia butuh pekerjaan yang lebih sesuai dengan tingkat ketrampilannya.

Newbie:
Begitulah Pak. Berilah saya pekerjaan yang lebih menantang daripada hanya mencuci tangki-tangki secara manual dengan tangan saya dan sterilisasi tangki secara manual juga dengan menyemburkan steam ke dalam tangki. Karena semuanya masih manual, jadi harus saya tungguin. Kalau hanya untuk mencuci dan sterilisasi tangki seperti itu tak perlulah saya kuliah engineering lima tahun di universitas.

Boss:
Lalu siapa yang akan mencuci dan sterilisasi tangki?

Newbie:
Eh, siapa yah? Gak tahu Pak. Mungkin kita perlu rekrut operator baru untuk mengerjakannya.

Boss:
Kita tidak diperbolehkan merekrut operator baru terkecuali ada pekerjaan baru yang menuntut seorang pekerja full time. Lagipula pekerjaanmu bagus. Tangki-tangki kita terawat baik setelah kau tangani.

Newbie:
Tapi gimana dung Pak. Saya butuh aktualisasi kemampuan saya. Saya butuh pekerjaan yang membuat pengetahuan saya berkembang. Saya takut pengetahuan yang saya dapat selama kuliah akan hilang karena tidak pernah dipergunakan.

Boss:
Okey kalau begitu. Kamu akan saya beri pekerjaan baru, tetapi pekerjaan lama tidak boleh ditinggalkan.

Newbie:
Wah! Gak mungkin Pak!. Pekerjaan sekarang saja sudah menyita seluruh jam kerja saya.

Boss:
Habis gimana dong! Mau gak diberi tambahan job-job baru yang lebih menantang?

Newbie:
Pusing dong saya Pak. Saya pengen beralih job, bukan nambah job!

Boss:
Perusahaan tidak ingin membebani keuangan dengan karyawan baru.

Newbie:
Yah....batal deh.

Boss:
Kok batal? Kamu kan belum dengar jenis pekerjaan baru yang ku tawarkan?.

Newbie:
Eh, maaf Pak... pekerjaan macam apa siy?

Boss:
Dengar baik-baik. Pekerjaan baru pertama buat kamu adalah proyek otomatisasi pencucian tangki!

Newbie:
Hah! Otomatisasi! Waaaah bagus banget Pak! Pencucian tangki akan selesai jauh lebih cepat! Mau! Saya mau pekerjaan itu Pak!

Boss tertawa, kemudian berkata:
Sebenarnya aku mengharapkan usulan ini datang dari kamu. Aku bayangkan dirimu datang padaku untuk mengajukan otomatisasi tangki sehingga kamu punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang “sesuai” dengan tingkat ketrampilanmu.


Kita merekrut lulusan universitas untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan manual dengan harapan mereka akan tergerak untuk melakukan otomatisasi. Seperti katamu tadi, kalau tidak melakukan otomatisasi berarti waktumu habis hanya untuk mencuci tangki atau sterilisasi tangki. Jika telah terotomatisasi kamu tinggal pencet tombol dan segalanya akan dikerjakan oleh sistem yang telah kamu bangun (undil - 23des08)

Aug 19, 2008

Ketika Kesempatan Tiba

Alkisah seorang pemuda berkeinginan untuk memperbaiki kehidupannya dengan merantau ke sebuah kota bernama Kota Hukum. Pemuda tersebut berharap di Hukum kehidupannya akan lebih baik dari sebelumnya. Pesona Hukum yang terkenal sebagai sebuah kota yang adil dan sejahtera telah membuatnya benar-benar terpikat untuk pindah ke sana.

Pada suatu hari berangkatlah Si Pemuda menuju Hukum dengan membawa sejuta harapan. Dibayangkannya kehidupannya akan jauh lebih baik dibanding saat dirinya masih tinggal di kampung halaman. Impian itu sebentar lagi akan terwujud setelah dirinya sampai di Hukum. Setelah beberapa hari menempuh perjalanan akhirnya Si Pemuda sampai di pintu gerbang Hukum. Nampak seorang penjaga berdiri tegak mengawal pintu gerbang dengan menyandang senjata lengkap.

Saat si pemuda hendak melintasi pintu gerbang tiba-tiba Si Penjaga menahan langkahnya.

Berhenti disitu!. Kamu tak boleh masuk!” seru Si Penjaga.

“Mengapakah saya tak boleh nak masuk?”

“Jangan banyak tanya! Pokoknya kamu tak boleh masuk!

‘Tapi saya datang dari jauh untuk tinggal di Kota Hukum. Apa alasanmu mencegahku masuk ke Hukum?

“Pokoknya tunggu saja disitu! Kamu gak boleh masuk!” kata Si Penjaga dengan dingin.

Akhirnya Si Pemuda menyerah dan duduk menunggu di muka Hukum. Sampai malam hari Si Penjaga tak kunjung mengijinkan dirinya untuk masuk ke dalam kota. Si Pemuda kemudian menginap di sana.

Begitu seterusnya hari demi hari si pemuda menunggu ijin dari Si Penjaga pintu yang tak kunjung diberikan. Bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu hingga Si Pemuda telah menjadi kakek-kakek -- ijin melintasi pintu gerbang belum juga di dapat. Sampai kemudian Si Pemuda telah benar-benar uzur. Menjelang ajalnya dia memberanikan diri bertanya kepada Si Penjaga.

“Aku selama ini tak pernah melihat seorang-pun melintasi pintu gerbang ini. Emangnya pintu ini diperuntukkan bagi siapa?”

“Pintu gerbang ini khusus untukmu. Bukan buat orang lain. Sayang kamu tak cukup berani untuk melintasi. Aku akan menutupnya hari ini!”

^_^

Kisah di atas diolah dari cerita Di Muka Hukum karya Franz Kafka (Bruno, 1998). Kisah tersebut menceritakan tentang seseorang yang gagal memanfaatkan kesempatan. Tentang para penunda waktu yang menganggap kesempatan diperuntukkan bagi orang lain dan bukan untuk dirinya. Padahal dengan bekal sedikit keberanian, kesempatan telah terbuka lebar baginya.

Si Pemuda adalah gambaran seseorang yang akan melakukan sesuatu tetapi terus ditunda-tunda karena seolah-olah ada seorang “penjaga pintu gerbang” yang mencegahnya memulai pekerjaan. Penjaga yang sebenarnya tak punya otoritas untuk mencegahnya.

Penjaga itu sebenarnya tidak ada. Dia hanyalah hambatan-hambatan dan risiko-risiko yang mencegah seseorang melakukan sesuatu. Kadangkala seseorang tak punya cukup keberanian melakukan sesuatu karena takut mengambil risiko dan terus menundanya. Padahal risiko itu sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi dibesar-besarkannya di dalam benaknya. Rintangan-rintangan itu akan dapat dia atasi bila saja dia punya cukup keberanian.

Referensi: Frank J. Bruno, 1998, Stop Procrastinating, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.







Aug 16, 2008

Kariagus Si Ahli Teori yang tidak pernah Praktek

Kariagus berang kala suatu ketika Mataharikus menyebut Kariagus sebagai THEORON alias Theory-Only. Waktu itu Kariagus sedang menjelaskan tentang kiat-kiat sukses menjadi seorang fotografer. Sebenarnyalah Mataharikus bilang gitu karena kesal dengan si Kariagus yang sangat bersemangat dalam mendiskusikan teknik-teknik memotret tingkat tinggi, tetapi tak pernah datang saat diundang latihan bersama klub fotografi selepas kerja.

“Kamu itu hasil jepretan kamera digitalmu tiga bulan lalu aja belum ditransfer ke komputer kok mau ngajarin kiat sukses jadi fotografer lho!. Mbok ya-o dibuktikan dulu, gak ada tumpukan file-file di memori kameramu!” kata Mataharikus sambil tertawa geli.

Karuan saja Kariagus berang. Berani-beraninya Si Rikus jelek ini menyebut dirinya sebagai tukang teori tanpa pernah praktek. Bagaimana mungkin makhluk ini punya nyali mengejek teori-teorinya yang diklaimnya lebih canggih daripada teori-teori yang mendasari peluncuran Apollo ke bulan!

“Bah-bah! Akan kubuktikan padamu wahai Mataharikus yang berpikiran sempit! Teori-teoriku itu amat canggih dan bukan mimpi siang bolong! Aku akan jadi juara lomba fotografi di kantor tahun ini! kata Kariagus sembari mengomel-ngomel.

^_^

Singkat cerita Kariagus mendadak rajin berdiskusi dengan para fotografer di kantornya. Dia juga memborong buku-buku teknik fotografi. Dibacanya dengan tekun dan dicocokkannya dengan hasil diskusi. Tak puas dengan itu, dibrowsingnya teknik memotret menggunakan kamera digital via Google. Dibacanya dan dipelajari dengan seksama. Semua pengetahuan itu dia sintesa menjadi satu pengetahuan fotografi yang dianggapnya sophisticated!

Akibat sumber pengetahuan yang melimpah ruah itu dalam waktu singkat Kariagus menjadi jagoan fotografi. Bahkan mungkin dia yang paling jago se-kantor. Dari mulai teori cara memegang kamera hingga teori cara mengatur pencahayaan telah dia kuasai dengan baik. Segala yang diperlukan untuk dapat memotret dengan canggih telah dia miliki.

Tapi ada sayangnya. Semua penguasaan itu hanyalah teori. Kariagus hanya tahu teorinya dan tidak pernah mempraktekkannya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk berlatih. Bahkan Kariagus tidak tahu fasilitas apa saja yang ada di kameranya. Dia juga tidak tahu teori-teori mana saja yang bisa dipraktekkan di kameranya.

Tak heran menjelang hari-h, Kariagus resah. Dia bingung dengan segala macam teori canggih yang dimilikinya. Dirasakannya dirinya hanya hebat bila bercerita tentang cara memotret yang baik tanpa harus memperagakan dengan kamera. Begitu ada orang yang ingin peragaan, Kariagus jadi pusing. Secara dia tidak pernah praktek, hanya berputar-putar di alam pikiran saja. Dia hanya di awang-awang. Tak mungkinlah dirinya mengajarkan praktek memotret. Lalu bagaimana nanti saat lomba? Mampukah dia merealisasikan sophisticated-mind nya dalam wujud foto-foto menawan?

^_^

Ramalan Mataharikus akhirnya memang terbukti. Akibat kurang berlatih Kariagus gagal mengaplikasikan teorinya! Foto-foto hasil jepretan Kariagus jauh dari standar juara. Kebanyakan gambarnya kabur. Kalau gambarnya tidak kabur ya gelap! Kariagus bete sekali! Kali ini karena segala perkataan Mataharikus tentang dirinya benar-benar terbukti dengan telak!


^_^

Kariagus sadar akan kekurang-berlatihan dirinya. Dia ingin memperbaikinya. Makanya minggu paginya dia keliling Bandung. Dibawanya kamera dan satu buku teknik memotret yang paling tipis. Dibacanya halaman demi halaman dan langsung dipraktekkan. Ternyata tidak mudah! Untuk melintasi satu bab buku saja perlu berjam-jam. Tapi dia terus mencoba dan mencoba. Dia sama sekali tidak rela dicap sebagai seorang theoron. Hiks! Theoron boleh aja. Tapi prakteknya dia juga bisa!

Dia merasa dirinya adalah seorang yang mampu mewujudkan inspirasi menjadi kenyataan. Dia terus membaca dan memotret. Dia hanya istirahat untuk sholat dan makan. Kariagus terus mengelilingi Bandung sambil memotret hingga tengah malam. Seperempat buku telah dibacanya. Dia puas. Paling tidak untuk hari ini dirinya bukanlah seorang theoron.

Lagipula dia merasa menjadi seorang theoron-pun tidak apa-apa -- asal tidak di semua hal hanya bisa teori belaka. Paling tidak kini dia telah mempraktekkan sebagian teorinya. Bahkan dengan bekal teori saja-pun Kariagus merasa bisa bermanfaat dengan mengajarkan teorinya pada orang lain. Siapa tahu mereka bisa merealisasikan dengan lebih baik? Seperti halnya seorang pelatih yang sukses mencetak anak didik yang lebih handal dari dirinya (undil-2008)



Aug 3, 2008

Kekuatan Visualisasi dengan Gambar dibanding Tulisan

Bandingkan dua cara mengambarkan bunga matahari berikut ini. Cara pertama adalah teknik deskipsi menggunakan kata-kata. Cara kedua menggunakan gambar bunga matahari.

1. Bunga Matahari
Sebuah bunga berbentuk bulat besar, dengan mahkota bunga berwarna kuning, mahkota berbentuk bulat telur, terdiri atas beberapa lapis dan tersusun rapi mengelilingi sebuah lingkaran berwarna coklat. Pada lingkaran coklat tersebut terdapat biji-biji bunga matahari...


2. Bunga Matahari

Gambar bunga matahari

^_^

Perhatikan bedanya. Dengan bantuan sebuah gambar, bunga matahari cukup diterangkan dengan tiga buah kata, yaitu gambar bunga matahari. Tidak dibutuhkan deskripsi panjang lebar untuk menggambarkan penampakan sekuntum bunga matahari. Hasilnya juga lebih jelas dibanding penggambaran menggunakan kata-kata. Sebuah gambar mewakili sejuta kata yang tidak terucapkan secara verbal.

Penggunaan gambar pada SOP (Standard Operating Procedure) dikenal dengan nama visualisasi SOP. Berkat visualisasi -- sebuah SOP menjadi lebih mudah dimengerti oleh operator. Visualisasi juga mencegah operator salah menafsirkan kata-kata yang tertera pada prosedur kerja. Pada kasus perakitan sebuah alat, visualisasi sangat membantu operator untuk mencocokkan pekerjaannya dengan gambar yang tertera pada SOP. Operator melihat gambar kemudian merakit komponen-komponen alat sesuai gambar. Dengan cara demikian pekerjaaan jauh lebih mudah dilakukan dan kesalahan perakitan dapat diminimalkan (Undil-2008)



Bacaan:
Anonymous, 2008, Bahan Pelatihan Autonomuos Maintenance, PQM Consultants, Jakarta

Jul 20, 2008

Poka Yoke

Minggu lalu saya ikut pelatihan autonomous maintenance, yaitu perawatan mandiri mesin-mesin produksi oleh personil produksi. Tujuannya untuk mencegah terjadinya breakdown, yaitu mesin rusak dan berhenti bekerja. Inti dari pelatihan yang diselenggarakan oleh PQM Consultants, Jakarta pada tanggal 9-10 Juli 2008 itu adalah orang produksi sebagai personil yang sehari-hari mengoperasikan mesin adalah orang yang paling tahu bila terjadi penyimpangan kecil pada mesin dan dapat segera melakukan tindakan perbaikan.

Dengan deteksi dini gangguan kecil pada mesin, maka gangguan yang lebih besar diharapkan dapat dicegah. Dengan memelihara mesin secara benar dan mengoperasikan mesin sesuai prosedur, maka breakdown mesin dapat dicegah. Disamping mengoperasikan mesin, seorang operator produksi juga diharapkan melakukan improvement untuk memperbaiki kinerja mesin. Salah satu trik yang diajarkan untuk improvement dan mencegah kesalahan pengoperasian mesin adalah poka yoke.

Apa itu poka yoke?

Contoh poka yoke adalah sim card handphone kita. Bentuk sim card handphone adalah segiempat dengan salah satu sudut dipotong. Dengan bentuk seperti itu pemasangan simcard ke dalam handphone tidak akan terbalik. Seandainya terbalik-pun sim-card tidak akan dapat masuk ke tempatnya. Dengan poka yoke kemungkinan rusaknya mesin oleh kesalahan pemasangan komponen alat dapat dicegah.

Contoh lain poka yoke adalah colokan pada bagian belakang komputer. Setiap colokan berbeda bentuknya sesuai peruntukan, sehingga tidak akan terjadi kesalahan pemasangan. Untuk mesin-mesin tertentu poka yoke sangat diperlukan, terutama bila kesalahan pemasangan akan mengakibatkan kerusakan mesin atau kerusakan produk.



Untuk tangki penampung produk di departemen produksi, poka yoke dapat diterapkan pada adapter koneksi pipa. Ukuran adapter untuk koneksi pipa udara, pipa produk dan pipa lainnya dapat dibedakan sehingga operator tidak akan melakukan kesalahan penyambungan yang bisa mengganggu produk. Suplai udara tidak akan disambungkan pada jalur produk yang dapat mengakibatkan produk berbuih, demikian juga sebaliknya.

Pada software komputer poka yoke juga tersedia. Misalnya pada saat kita hendak keluar dari word processor seperti MS Word biasanya ada pemberitahuan apakah kita akan menyimpan file yang sudah dibuat atau tidak. Sehingga kita tidak akan kehilangan hasil kerja berjam-jam hanya karena lupa tidak menyimpan. Demikian juga bila kita menyimpan dengan nama yang sama dengan file lama, otomatis akan diberi warning bahwa file baru kita akan menimpa file yang lama. Warning itu membuat kita tidak akan kehilangan file lama karena tertimpa file baru.

Untuk uang kertas sepertinya perlu poka yoke ukuran. Uang pecahan yang berbeda seperti 10 ribu dan 100 ribu selain perlu dibedakan warnanya juga perlu dibedakan ukurannya. Sehingga tidak akan terjadi pecahan 10 ribu terselip diantara gepokan uang 100 ribuan yang bisa mengakibatkan pertikaian antar orang yang bertransaksi.

Poka yoke lain yang diperlukan saat ini adalah poka yoke untuk standar samping sepeda motor. Pengendara sepeda motor kadangkala lupa belum menaikkan standar samping saat menjalankan motornya, akibatnya pada saat dia berbelok ke kiri, standar akan menyentuh jalan dan bisa mengakibatkan terganggunya keseimbangan pengendara. Seandainya ada aksesori tambahan atau sistem yang mencegah terjadinya kelupaan itu tentu menjadi nilai lebih bagi merek sepeda motor yang memilikinya. Ada ide untuk poka yoke standar samping sepeda motor ini? (undil-2008)


Jul 6, 2008

Yachinta, Disiplin Diri dan Kemampuan Berkonsentrasi

Rana Admira duduk di sebuah bangku mungil di tengah salon milik ibunya. Matanya tak pernah berhenti menekuni buku pelajaran yang sedang dibacanya. Hilir mudik pengunjung salon yang datang silih berganti tak membuatnya terganggu. Suara-suara alat-alat potong rambut dan obrolan seru para pelanggan salon tidak membuatnya mengalihkan perhatian. Matanya tak pernah lepas dari buku pelajaran IPA yang kini tinggal beberapa halaman lagi selesai.



Yachinta Satrasmara sampai terheran-heran dengan kemampuan sepupu kecilnya itu menekuni buku pelajaran di tengah keramaian. Bagaimana mungkin adik kecil itu tidak terganggu oleh suasana belajar tidak menunjang di sekelilingnya. Duduk tenang, diam dan tak tergoyahkan!

Hiks! Sebuah kemampuan alami yang mengagumkan. Tak heran nilai-nilai raport anak itu juga sangat menawan. Dengan kemampuan berkonsentrasi seperti itu -- seandainya otak Rana tidak cemerlang-pun—Yachinta yakin nilai-nilai raportnya tetap akan menawan.

Kemudian Yachinta membandingkan dengan dirinya. Di tempat yang memang dari sononya dirancang untuk bekerja-pun dirinya susah berkonsentrasi. Di kantor dirinya sungguh susah untuk tidak teralihkan perhatiannya. Meja besar meeting, tamu-tamu dari bagian lain dan teman-teman kerja yang enak diajak ngobrol sungguh merupakan godaan yang tak terkira untuk konsentrasinya.

Bagaimana mungkin dirinya bisa membereskan kerjaan tepat waktu bila setiapkali baru beberapa lembar menyelesaikan dokumen langsung mulutnya tidak tahan untuk terjun dalam obrolan tak berujung dengan siapa saja yang sedang mengobrol di dekatnya, terutama bila salah satu pengobrol adalah Shizuka. Sang soulmate bagi Yachinta dalam urusan obrol mengobrol. Kalau di dekat Shizuka sungguh susah bagi Yachinta untuk tidak membuka mulut.

Andai dia bisa meminjam “kemampuan Rana” beberapa jam saja, niscaya pekerjaannya cepat beres. Kemampuan alami Rana untuk memusatkan perhatian akan sangat berguna di tempat kerja. Diam-diam diakuinya bahwa dirinya kalah jauh dari Rana yang baru kelas 4 SD dalam hal menahan diri. Anak itu baru “beredar” main dengan teman-temannya setelah PR selesai. Sementara dirinya sering membawa kerjaan ke rumah dan tidak diapa-apakan hingga hari besoknya masuk kerja lagi. Seolah-olah dengan membawa kerjaan ke rumah sudah “sah”, walaupun pekerjaan tersebut didiamkan saja.

Belum lagi buku-buku GMP dari perpustakaan yang harus dibacanya ternyata lebih sering diam menetap di dalam tas. Buku-buku itu setiap hari hilir mudik bersama dirinya dari rumah-kantor-rumah-kantor tetapi tak pernah dibaca hehehe!. Sementara belasan buku-buku menarik tentang biografi, komputer, IT dan manajemen telah dilalap habis. Duh duh Yachinta sedih banget melihat prioritasnya yang berantakan! Disadarinya Rana yang belum berumur 10 tahun lebih unggul dari Yachinta dalam soal mendisiplinkan diri.

Belajar dari perilaku Rana, akhirnya Yachinta menilai kembali kemampuannya dalam “mendisiplinkan diri“ sebelum bermimpi bisa meraih kemampuan berkonsentrasi. Di dalam dirinya ternyata dua hal itu berhubungan erat. Tanpa disiplin diri saat konsentrasinya pecah, Yachinta akan membiarkan konsentrasi terus pecah dan bahkan mengikuti keinginannya untuk berhenti kerja sejenak untuk mengobrol atau melakukan hal-hal lain yang lebih menarik.

Tanpa disiplin dirinya akan hanyut pada “godaan” dan menjauh dari pekerjaan yang harus diselesaikan atau buku-buku yang harus dibaca. Sebaliknya dengan disiplin diri Yachinta akan cepat kembali berkonsentrasi pada saat teralihkan oleh hal-hal lain. Dengan disiplin Yachinta tidak akan membiarkan kesukaan mengobrolnya akan mengganggu kemampuan dirinya menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Disiplin akan membuatnya menutup sebuah buku menarik tentang seorang tokoh IT untuk menyelesaikan sebuah buku GMP Guidance. Malu dong ama Rana kecil yang mampu meletakkan komik kesayangannya untuk menyelesaikan sebuah buku pelajaran (undil-2008)


Baca juga:
Yachinta, Meja besar dan Kemampuan Berkonsentrasi

Jul 2, 2008

Cerpen Manajemen: Yachinta, Meja Besar dan Kemampuan Berkonsentrasi

Yachinta Sastrasmara keheranan akan dirinya sendiri yang dari tadi pagi pukul tujuh teng hingga saat ini pukul empatbelas siang belum juga menyelesaikan review satu dokumen pun. Ada dua belas dokumen yang harus dia selesaikan minggu ini, dan hingga hari Rabu nan gerah ini belum satu pun terselesaikan. Ada sih kemajuan dari setiap dokumen, namun nggremet alias pelan-pelan tidak kelar-kelar.




Selidik punya selidik Yachinta menemukan jawabannya. Pangkalnya adalah kesukaannya mengobrol dan kemudah-pudaran konsentrasi Yachinta. Untuk yang pertama jangan ditanya. Dari jam tujuh hingga kini tak terhitung topik yang diobrolin dengan Shizuka, teman satu ruangan. Emang siy semenjak kepindahan makhluk satu itu dari ruangan lain, Yachinta seperti gelas mendapat tutupnya.

Obrolannya mendapat “apresiasi” yang sangat memuaskan dari Shizuka, yang berujung pekerjaan yang dikerjakan bareng-bareng di atas meja besar (walau pekerjaannya punya masing-masing personil) berjalan dengan kecepatan satu kilometer per jam alias lebih siput dari siput.

Kalau bukan dari Shizuka godaan ada saja datang dari siapa saja. Meja besar di seberang meja Yachinta itu adalah godaan bagi setiap orang di departemennya untuk bekerja di sana. Terutama buat mereka-mereka yang pekerjaannya melibatkan setumpuk besar dokumen. Meja yang besar berarti ada banyak ruang kosong untuk menjereng dokumen hingga bisa leluasa di baca. Beda bila dikerjakan di meja sendiri nan sempit yang membuat dokumen harus ditumpuk-tumpuk hingga tidak leluasa saat dibaca.

^_^

Silih berganti orang bekerja di meja besar itu benar-benar mengganggu konsentrasi Yachinta. Secara dirinya adalah pelanggan tetap meja itu ostosmatis dirinya tergoda untuk mengobrol dengan siapa saja yang sedang mampir disitu. Ostosmatis pula Yachinta yang belum menguasai seni bekerja sambil mengobrol kehilangan kecepatan kerjanya.

Bukan hanya itu. Saat sedang bekerja di mejanya sendiri-pun, Yachinta suka tergoda untuk menghampiri meja besar bila mendengar obrolan seru yang melibatkan teman-temannya. Apalagi bila Shizuka ada disitu. Wah tambah tergodalah si Yachinta untuk nimbrung. Akibatnya kecepatan kerjanya lagi-lagi berkurang.

Kemudah-buyaran Yachinta benar-benar membuat pusing dirinya sendiri. Disadarinya kemampuan berkonsentrasinya sangat kurang. Ditengah hiruk pikuk departemennya benar-benar sulit bagi dirinya untuk fokus pada pekerjaan. Apalagi bila meja besar sedang dipinjam orang untuk meeting. Diskusi seru saat meeting selalu saja berhasil menarik minatnya -- sehingga teralihlah konsentrasi dari dokumen-dokumen yang sedang dikerjakannya.

Lalu disadarinya sebenarnya dirinya lebih cocok bekerja di tempat sepi. Inilah yang membuat pekerjaannya digarap jauh lebih cepat setelah jam pulang kerja. Pada saat itu sebagian besar teman-temannya sudah pulang dan para tamu dari departemen lain sudah tidak ada. Dalam suasana nir gangguan tersebut otak Yachinta bekerja jauh lebih efisien. Andai saja dia punya lebih banyak waktu sepi, pastilah pekerjaannya cepat beres.

Namun Yachinta juga sadar bahwa impian siang bolong itu sulit terwujud. Suasana sunyi senyap tidak bisa terwujud karena tuntutan pekerjaan. Yach, mau tak mau dirinyalah yang harus menyesuaikan diri. Entah gimana caranya dirinya harus bisa tabah bekerja di meja sendiri, walaupun godaan untuk nimbrung ngobrol di meja besar benar-benar dahsyat. Benar-benar godaan yang amat sangat dahsyat sekali buat orang seperti Yachinta. Andai ada kursus teknik bekerja efektif sambil mengobrol, Yachinta tak akan ragu menyerahkan sepertiga gajinya untuk ikut serta.

Yachinta tahu bahwa dirinya harus belajar mengendalikan diri untuk tidak mengobrol saat pekerjaan masih menumpuk. Dia harus menjauhi meja besar bila ada makhluk-makhluk menarik sedang beraktifitas di meja itu – agar dirinya tidak terseret dalam obrolan yang tidak berujung. Dia harus menutup mata rapat-rapat. Dia harus menahan diri untuk tidak memakan umpan-umpan “lezat” yang dilempar dari meja besar, demi efisiensi waktu kerja.

Hiks! Yachinta baru menyadari kemampuan berkonsentrasi pada pekerjaan di semua kondisi adalah sebuah ketrampilan yang harus diraihnya. Kemampuan berkonsentrasi adalah harta yang tidak ternilai harganya di dunia kerja.

Walaupun begitu Yachinta juga berusaha memaklumi bila dirinya bisa lebih cepat saat bekerja di suasana sepi. Mungkin itu sudah bakatnya. Yang hendak Yachinta kembangkan adalah ketabahan bekerja di “segala cuaca”, sekalipun kecepatan kerjanya tidak akan sehebat di tempat yang sepi gangguan (undil-2008).

Baca juga:
Yachinta, Disiplin Diri dan Kemampuan Berkonsentrasi


Jun 2, 2008

Mencetak SDM Unggul: Manusia Multitalenta, SDM Versatilis & T-Shape People

Membaca T-Shape People-nya Wage Indrya Nugraha dan SDM Versatilis-nya Romi Satria Wahono saya jadi tertarik untuk mengambil contoh di lapangan. Menurut saya pada dasarnya manusia T-Shape maupun manusia versatilis merujuk pada orang yang sama. Yaitu seorang yang beyond spesialis. Seorang pekerja yang lebih dari sekedar seorang spesialis. Manusia istimewa ini memiliki kemampuan multitalenta yang diperolehnya melalui pengalaman yang panjang selama menjadi spesialis.


^_^


Sebagai orang produksi, Planta Famina yang berbasis mikrobiologi dituntut bukan hanya bekerja di lingkup membiakkan mikroba di departemennya, tetapi juga menyelesaikan pekerjaan teknik mekanik, persediaan material dan administrasi yang berkaitan dengan proses produksi.

Planta tidak dituntut menguasai bidang teknik seperti memasang sebuah sistem sterilisasi insitu (teknik sterilisasi dengan menyemburkan steam langsung ke alat yang hendak disterilisasi), tetapi Planta harus mampu menjelaskan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh sistem sterilisasi insitu agar sesuai dengan kebutuhan Planta.

Misalnya insitu harus memiliki sistem pembuangan satu arah sehingga air dari luar tidak dapat masuk ke dalam ruangan. Kemudian insitu harus mampu mensterilisasi 3 tangki sekaligus tanpa menaikkan suhu ruangan hingga tetap berada di batas persyaratan. Setelah selesai sterilisasi harus bisa dialirkan udara ke dalam tangki untuk menjaga agar tekanan tangki tetap posistif sehingga udara dari luar tidak dapat masuk.

Suplai steam harus menggunakan valve (kran) otomatis dengan kisaran suhu naik dan turun paling besar 0,2 derajad celcius dan tidak boleh dibawah suhu 121 derajad Celcius. Recorder pada saat mencapai suhu sterilisasi harus membuat tanda berupa garis merah dan recorder bisa mencetak waktu mulai dan waktu selesai sterilisasi. Pendeknya Planta harus mengkomunikasikan kebutuhannya hingga para engineer mampu menterjemahkannya dalam sebuah rancangan insitu sterilisasi.

Demikian juga dengan Mesin Pengolah Air. Planta harus mengkomunikasikan kebutuhannya dengan para ahli WTP (Water Teatment Plant) sehingga diperoleh sebuah mesin yang paling sesuai dengan kebutuhan departemennya.

WTP harus memiliki sistem pengolahan air yang sesuai dengan jenis air baku (raw water) yang tersedia di perusahaan. Kapasitas produksi WFI (Water for Injection = air bebas pyrogen sehingga bila disuntikkan ke tubuh manusia tidak menimbulkan demam) harus sesuai kebutuhan. Volume tangki WFI disesuaikan dengan pola konsumsi WFI dan kecepatan aliran sirkulasi WFI harus sesuai persyaratan dalam SOP. Semuanya harus digambarkan dengan jelas sehingga para engineer itu paham dan mampu menerjemahkannya dalam rancangan mesin yang sesuai.

Di sisi pengelolaan persediaan spare part dan bahan baku, Planta dituntut untuk menjamin agar bahan baku dan spare part mesin tidak kehabisan ditengah jalan. Artinya untuk bahan baku dia harus menyeimbangkan persediaan bahan baku dengan waktu yang dibutuhkan bagian pengadaan untuk membeli bahan baku dari vendor. Dengan demikian jumlah persediaan bahan baku di gudang tidak berlebihan atau kurang. Untuk keperluan itu Planta harus bisa menjelaskan trend konsumsi bahan baku di departemennya dengan pihak gudang dan bagian pengadaan.

^_^

Untuk dapat berkomunikasi dengan para ahli bidang lain sebaiknya seorang versatilis mengetahui backbone, atau dasar-dasar umum ilmu lain. Misalnya untuk sebuah alat sterilisasi insitu otomatis komponen utamanya adalah:

(1) controller yang mengatur kerja valve dan dapat diprogram untuk melakukan sterilisasi pada suhu dan waktu tertentu sesuai kebutuhan kita,
(2) valve steam otomatis yang membuka dan menutup berdasar perintah controller
(3) recorder yang mencatat suhu dan tekanan selama sterilisasi
(4) suplai steam (sumber steam yang akan disemburkan ke dalam alat), steam trap (untuk membuang kondensat steam yang terbentuk selama proses sterilisasi) dan alat-alat penunjang lain.

Berbekal pengetahuan tentang insitu seorang mikrobiolog versatilis dapat mengkomunikasikan kebutuhannya dengan para engineer.

Dr. Romi Satria Wahono menggambarkan versatilis bukanlah seorang generalis yang menguasai banyak bidang tapi kulitnya saja, tetapi dia memiliki keahlian tertentu selanjutnya dengan berbekal pengalaman kerjanya, manusia ini mengembangkan kemampuannya menjadi meliputi banyak bidang. Seorang versatilis memiliki pengalaman dan kemampuan melakukan berbagai macam tugas yang melibatkan multidisiplin (versatile).


Apakah versatilis harus sangat ahli di semua bidang?.


Tentu saja tidak. Yang penting adalah kemampuan mengkomunikasikan bahasa teknis menjadi bahasa yang dimengerti para ahli di bidang lain. Dr. Romi Satrio Wahono memberi contoh di industri IT di Amerika, dimana 80% pekerjaan IT berada di perusahaan-perusahaan non IT. Oleh karenanya spesialis IT dituntut memiliki kemampuan mengkomunikasikan konsep-konsep IT dengan bahasa yang dimengerti oleh orang-orang non IT agar dapat dibangun sistem IT yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Untuk dapat mengkomunikasikan bahasa teknis menjadi bahasa awam tentu saja diperlukan pengetahuan dasar yang kuat yang diperoleh seorang versatilis selama pendidikan ditambah pengetahuan selama proses dari seorang newbie (pendatang baru) menjadi seorang spesialis.



Skema Sistem Sterilisasi Insitu

Masalahnya adalah bila seorang pekerja menjadi spesialis aja belum mampu, tentu terlalu jauh untuk bermimpi menjadi versatilis. Pengalaman kerja yang panjang tidak selalu membentuk seseorang menjadi spesialis yang matang.

Bisa saja seorang pekerja hanya mengetahui kulitnya saja tanpa didukung penguasaan prinsip-prinsip dasar dari pekerjaan yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun. Untuk menjadi spesialis seorang pekerja harus bersedia mengorbankan waktu -- terkadang waktu tidur -- untuk mempelajari dasar-dasar scientific pekerjaan yang sehari-hari dilakukannya (undil).

Rahasia Puaskan Istri Anda

Tags

Abu Nawas (29) Amazing (27) Anak Kecil (33) Aneh Dan Unik (28) BB++ (57) CERITA LUCU (181) CERITA LUCU DEWASA (84) Cerita (47) Cerita lucu abu nawas (38) Cerita ngocol (76) Cewe Cowo (64) Dokter (66) English Joke (32) English Jokes (57) Five story (24) Gallery (20) Gambar (89) Gambar Plesetan (315) Gambar n Foto Lucu (52) Guru (102) HP (40) Heboh (105) Hot Spot (34) Humor Dewasa (117) Humor Indonesia (70) Humor Umum (112) Humor and Jokes (87) Iklan Kocak (46) Indonesian Jokes (70) Info (130) Istri (75) Keren (49) Kesehatan (28) Kisah Abu Nawas (66) Komik (299) Komik Mahasiswa (123) Komik dewasa (30) Kumpulan Cerita Humor Dewasa Lucu (118) Kumpulan SMS Humor Lucu (40) Lucu (389) Mahasiswa (37) Maho (61) Mengenal Diri (58) Murid (54) Ngeri (28) Ngocol Aja (113) Parah (48) Pasien (30) Pelayan (36) Pembeli (38) Pengetahuan (35) Penjual (53) Polisi (63) SMS (83) Sekolah (55) Seven story (35) Sex (35) Sms Cinta (88) Sms Jail (52) Sms Narsis (62) Sms Romantis (80) Sms iseng (286) Sms lucu (204) Sms untuk pacar (62) Sms untuk sahabat (70) Sms untuk teman (88) Suami (41) Teka Teki (36) Tips (66) Top Ten (43) Top sepuluh (53) Umum (75) Wanita (48) bego (146) cerita anak (29) cerita manajemen (20) cerita ngakak (122) cerita pendek (179) cerpen (65) dongeng sang kancil (28) goblog (151) gokil (341) hikayat abu nawas (28) humor (99) humor abu nawas (37) kocak (340) koplak (348) lirik lagu keren (29) ngakak (352) pluralisme dan kebenaran (33) psikologi (25) puisi (106) sms idul fitri (40) sms ucapan selamat tidur (86) video (74)
Rezeki dari SMS
 
Kumpulan Humor Terbaru | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger