Buscar

Cara Cepat Hamil & Tips Hamil
Rezeki dari SMS
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Jun 16, 2012

Ketika Pak Wagu mengkritik Romo Sunu yang Pergi Umroh


Suatu hari Romo Wage (Romo = panggilan untuk bapak dalam Bahasa Jawa) diajak berjalan-jalan oleh sahabatnya -- Romo Sunu -- untuk melihat-lihat kebun anggrek yang baru saja dibangun Romo Sunu di tanah kosong di sebelah timur kampung.  Tanah itu dibeli Romo Sunu setahun yang lalu, dari sononya memang direncanakan untuk dijadikan kebun bunga buat memberi lapangan kerja pada para pemuda kampung yang masih menganggur.

Namun tanpa disangka-sangka saat mereka sedang menikmati keindahan warna-warni bunga dari deretan tanaman anggrek yang berjuntai di dalam rumah kaca, tiba-tiba muncullah  Pak Wagu dengan segala komentarnya.  

Mulanya Pak Wagu basa-basi mengajak ngobrol tentang bunga-bungaan, lalu beralih topik tentang sulitnya mencari pekerjaan saat ini. Juga tentang kemiskinan yang masih ada di wilayah kampung mereka.  Belakangan tiba-tiba Pak Wagu menyindir Romo Sunu yang baru saja pulang dari Umroh ke Mekah.

Mulanya dia memuji-muji tentang ibadah haji dan umroh yang menyatukan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Tapi kemudian dia mengatakan banyak hal yang lebih penting daripada sekedar kepuasan spiritual seperti umroh. Menurut Pak Wagu,  mengalokasikan uang umroh untuk membantu orang-orang miskin akan jauh lebih baik daripada berangkat umroh ke Mekah. Kata Pak Wagu, kebahagiaan orang-orang miskin lebih penting daripada pergi ke Mekah.

‘Jadi begitulah Romo Sunu.  Sebenarnya Anda lebih utama tidak berangkat umroh, tapi sumbangkan saja uangnya untuk memberi sembako pada orang-orang yang kurang beruntung. Itu akan jauh lebih bermanfaat buat sesama” kata Pak Wagu menceramahi dua orang sahabat itu.

Romo Sunu hanya senyum-senyum kecil mendengar “ceramah” Pak Wagu tersebut. Dia tidak bermaksud menjawab kata-kata tetangganya itu. Dibiarkannya Pak Wagu sibuk dengan pendapatnya sendiri. Namun kediaman Romo Sunu itu membuat Pak Wagu dongkol. Bagaimana mungkin saran sebaik itu tidak didengarkan oleh Romo Sunu?.  Pak Wagu sungguh merasa berhadapan dengan orang yang berpikiran picik.  

“Gimana Romo Sunu?  Benarkan kalo memberi sembako itu lebih bermanfaat daripada Umroh?” desak Pak Wagu pada Romo Sunu.

Romo Sunu diam saja sambil tangannya bergerak meneliti pot-pot anggrek yang tergantung berjajar rapi. Dia merasa tak perlu melayani orang seperti Pak Wagu yang dari sononya pengen berdebat. Namun tidak demikian dengan Romo Wage. Dia merasa Pak Wagu agak sedikit keterlaluan dengan desakannya itu. Maka dia tak tahan untuk nimbrung bicara.

“Pak Wagu, itu uang punya Romo Sunu sendiri. Tentu dia tahu bagaimana cara terbaik membelanjakan uangnya” ujar Romo Wage.

“Tahu cara belanjakan uang gimana? Orang dia malah sibuk umroh bukannya membantu orang yang membutuhkan!” tangkis Pak Wagu.

“Dengar Pak Wagu! Siapa yang membangun rumah untuk orang-orang jompo di dekat Kantor Lurah?. Siapa yang menggagas bea siswa untuk siswa-siswi miskin di kampung kita? Siapa yang  menyumbang Ambulans untuk kelengkapan fasilitas masjid di kampung  kita?. Itu semua adalah hal-hal bermanfaat bagi sesama yang telah dilakukan Romo Sunu!” kata Romo Wage dengan nada tinggi.

Pak Wagu terdiam. Dia mengakui bahwa semua itu adalah sumbangan dari Romo Sunu. Tak ada lagi anak putus sekolah di kampung ini karena kurang biaya setelah Romo Sunu membuat yayasan untuk memberi bea siswa. Juga mobil Ambulans gratis bagi seluruh warga kampung, lampu-lampu masjid yang diganti lampu LED, tempat pengolahan sampah dan bahkan papan penunjuk jalan di kampung adalah sumbangan dari Romo Sunu yang terkenal rajin mengetuk pintu-pintu tetangganya untuk diajak Sholat Subuh berjamaah di Masjid itu.

“Nah sekarang bagaimana dengan dirimu Pak Wagu dan juga teman-temanmu yang suka mengkritik kegiatan takmir masjid yang dianggapnya membuang-buang uang itu. Pernahkan kalian melakukan hal-hal bermanfaat bagi sesama seperti yang dilakukan Romo Sunu?”

Pak Wagu tambah diam lagi. Dirinya jadi malu sekali. Selama ini dia tak pernah menyumbang sebesar yang dilakukan Romo Sunu.  Dirinya jarang sekali mengeluarkan uang untuk membantu panti jompo, apalagi ikut urunan membeli  Ambulans. Demikian juga dengan teman-teman yang sehaluan dengannya. Mereka jarang memberi sumbangan uang maupun tenaga untuk kepentingan masyarakat banyak. Dia dan teman-temannya lebih suka membuat diskusi  untuk mengkritik cara-cara  pembelanjaan uang oleh orang-orang seperti Romo Sunu.  

Romo Wage tersenyum melihat Pak Wagu kebingungan mencari jawaban. Dia hapal betul dengan kebiasaan Pak Wagu dan teman-temannya yang lebih suka berteriak-teriak mengkritik orang-orang yang menyisihkan uangnya untuk berangkat Umroh. Padahal orang-orang yang Umroh itu jugalah yang selama ini menjadi tulang punggung kegiatan-kegiatan sosial di kampung. Sedangkan orang-orang yang suka mencerca itu tak pernah melakukan apa-apa selain membuka pedebatan kusir yang tak ada habis-habisnya (Undil-2012)

May 22, 2012

Sebuah Cerita Tidak Masuk Akal

Suatu ketika Dina kehilangan  HP-nya. Sudah seminggu dicari-cari tak ketemu juga. Dari mulai kolong tempat tidur, atas lemari, bawah meja hingga atap kamar mandi semuanya nihil tidak ketemu. Akhirnya Dina give up, menyerah dan beli HP baru lagi. Untungnya Ibu-nya mau memberi uang untuk keperluan itu. Walaupun tipenya harus downgrade alias turun dari yang sebelumnya dia miliki. Tanpa kamera dan bukan touchscreen.

Pada suatu malam yang cerah Dina berbaik hati, berbagi menu makan malamnya berupa segumpal rendang super duper pedas pada Molly, kucing kesayangannya. Sesaat kemudian Molly muntah-muntah. Upss!!! Dina baru ingat klo Molly alergi - gak doyan segala yang pedas-pedas. Maka tanpa basa basi Si Molly terus beraksi mengeluarkan isi perutnya sampai akhirnya muncullah benda yang selama ini dicari-cari. 'Gedebuk" HP Dina tiba-tiba nongol diantara benda-benda yang dikeluarkan Molly. 

Dina nyaris tak percaya dengan kenyataan itu. HP ketemu kembali di tempat yang sama sekali tidak dia perkirakan. Dalam perut seekor kucing!. Berarti Si Molly punya diam-diam punya mulut yang bisa melar seperti ular hingga bisa menelan HP. "Wah inilah keberuntunganku" pikirnya. Dina jadi ingat saat dia coba meng-call HP-nya, Molly selalu beguling-guling di lantai sambil mengeong-ngeong. Barangkali perutnya terasa geli sekali seperti ada yang gelitikin karena HP dalam posisi mode getar. Makanya dia guling-guling gak jelas kaya gitu.

Pernah Dina mencoba SMS ke HP itu ternyata ada yang membalas. Tapi bahasanya tidak dimengerti oleh Dina. Bisa jadi SMS dibaca oleh cacing-cacing dalam perut Molly. Tentu saja balasannya dalam bahasa cacing yang tidak dimengerti oleh Dina. Tapi menurut Dina bisa juga jawaban SMS itu karena HP tertekan oleh usus Molly yang mencoba mencerna HP karena dikira makanan. Entahlah mana yang benar.

Kemudian setelah dipikir-pikir olehnya kenapa HP bisa ditelan Molly teringatlah dia bahwa HP-nya hilang saat dirinya sedang makan malam. Waktu itu dia pegang HP sambil menyantap ikan duri lunak. Bau amis ikan pastilah nempel di HP. Ditambah lagi screen savernya bergambar ikan gerak-gerak - dengan gambar luar biasa jernih itu telah memukau Molly. Mungkin HP-nya tanpa disadari terjatuh di bawah meja makan, Si Molly langsung menelannya karena  disangka ikan model baru. 

Kini dengan peristiwa itu Dina jadi hati-hati dengan HP-nya. Takut dimakan sama Molly lagi. Dina juga tahu Molly tidak sendirian punya hobby menghilangkan barang-barang. Dito, adik Dina yang udah umur tiga tahun itu punya hobby serupa. Bedanya dia lebih suka membanting barang apa saja yang didekatnya. Makin berteriak kaget si pemilik barang, makin senanglah dia. Terakhir iPad Ayah dijepitin ke pintu setelah dibanting gak pecah-pecah. Makanya sejak saat itu Dina cepat-cepat mengantongi HP-nya klo lihat adiknya datang.

May 18, 2012

Dongeng Burung Merak yang Berbulu Indah dan Gagak Si Pengejek

Kala gerimis turun dari langit,
burung-burung memilih pergi,
berteduh di gua-gua atau batang kayu mati
Aku tetap di sini berteman gerimis,
kusuka pada lengkung indah pelanginya,
kucinta warna-warninya yang menawan hati


 ^_^

Alkisah di Hutan Wanabolong tinggal Burung Merak dan keluarganya. Burung Merak sangat terkenal di saentero hutan karena keindahan bulunya. Warnanya dan bentuk bulu-bulunya yang indah membuat penampakan Burung Merak sedap dipandang mata dan mengundang decak kagum para penghuni hutan. Apalagi Burung Merak pandai menari, setiap sore menjelang matahari terbenam dia mengembankan bulu-bulu ekornya yang indah sambil menari berputar-putar dengan gerakan-gerakan cantik mengiringi terbenamnya matahari.













Namun disamping mengundang decak kagum, keindahan bulu-bulu itu juga suka dijadikan bahan ejekan burung-burung tertentu. Pasalnya tidak seperti burung yang lain, Burung Merak tidak pandai terbang jauh. Dia hanya mampu terbang setinggi atap rumah dan dalam jarak yang dekat. Lebih seringnya jalan-jalan di darat saja. Makanya Gagak dan teman-temannya sering mengejeknya sebagai si penyandang bulu-bulu hiasan yang tak berguna. 

Tentu saja Merak tertawa saja mendengar ejekan itu. Secara makanan dan minuman tersedia melimpah di hutan Wanabolong, sehingga dirinya tak perlu pergi jauh-jauh untuk mendapatkannya. Si Merak gemar makan biji-bijian, pucuk rerumputan, dedaunan dan serangga. Dirinya tak perlu capek-capek terbang glidik seperti Gagak yang suka makan yang aneh-aneh. Tak bisa terbang jauh-pun tak apa-apa, toh dirinya tidak hidup dalam kekurangan. Biasanya Gagak terdiam sambil bersungut-sungut bila mendengar jawaban seperti itu.

Suatu ketika terbetik kabar bahwa bangsa manusia telah membuka hutan di balik bukit, sebentar lagi mereka akan membuka hutan Wanabolong juga untuk dijadikan tanah pertanian. Para penghuni hutan heboh. Masing-masing telah punya rencana untuk menyelamatkan diri. Gajah sudah jauh-jauh hari mengungsi dengan membawa keluarganya. Dia sadar betul ukuran tubuhnya yang besar akan memudahkan dirinya ditangkap. Kijang, kerbau, monyet dan babi hutan juga telah bersiap-siap untuk menyusul hengkang ke hutan terdekat. 

Bangsa burung juga telah pada mengungsi ke hutan belantara di lereng gunung. Kini tinggal beberapa hewan saja yang masih belum mengungsi. Diantaranya terdapat Burung Merak. Si Merak tidak bisa ikut mengungsi karena terhalang sungai yang sangat lebar. Dirinya tidak dapat menyeberangi sungai yang membentang membatasi Hutan Wanabolong dengan hutan terdekat karena jaraknya terlalu jauh untuk diterbangi. Sementara untuk menyeberang lewat air, dirinya tidak sekuat kijang atau kambing yang tidak akan hanyut terbawa arus. 

Makanya dia memutuskan tetap tinggal di Hutan Wanabolong saja sambil memikirkan cara lain untuk menyelamatkan diri selain mengungsi. Berita itu membuat Gagak yang telah mengungsi tertarik balik ke Wanabolong sekedar untuk mengejek merak yang malang.

"Duh duh kasihan teman kita yang tampan ini. Benar khan kata aku juga!. Bulu-bulumu itu hanyalah hiasan tak berguna. Kini kau harus menerima nasibmu tak bisa mengungsi seperti binatang yang lain...wkwkwk " kata Si Gagak setelh berhasil menemukan Merak.

"Terimakasih Gagak atas masukanmu. Aku punya rencana lain selain mengungsi" sahut Si Merak dengan santai

"Rencana lain??? Rencana dari hongkong.... wkwkwkwk" kata Gagak tambah nafsu mengejek Si Merak

Merak tertawa kecil, lalu membacakan sebuah puisi


Kala gerimis turun dari langit,
burung-burung memilih pergi,
berteduh di gua-gua atau batang kayu mati
Aku tetap di sini berteman gerimis,
kusuka pada lengkung indah pelanginya,
kucinta warna-warninya yang menawan hati

Gagak geleng-geleng kepala tidak mengerti maksud puisi itu, walaupun dalam hati mengagumi keindahannya.  Dirinya sangat kecewa, Merak sama sekali tidak terpengaruh oleh ejekannya.

^_^

Hari yang dinantikan tiba. Ratusan manusia tampak memasuki Hutan Wanabolong sambil membawa gergaji dan kereta-kereta kuda untuk mengangkut kayu. Pelan-pelan mereka mulai merambah hutan dan menebangi kayu-kayu. Dibersihkannya pohon-pohon besar yang ada di hutan ini untuk dirubah jadi tanah pertanian. Si Merak bersama keluarganya tidak lari meninggalkan hutan. Justru dia mendekati kelompok manusia itu sambil berjalan perlahan-lahan berputar-putar memamerkan bulu-bulunya yang indah. Tak ketinggalan istri dan anak-anaknya membuntuti di belakangnya.

Saat melihat Merak yang berbulu indah para pembuka hutan itu berdecak kagum. Mereka sangat terpesona oleh keindahan bulu-bulu Merak yang menawan. Maka ditangkaplah Merak dan keluarganya, kemudian dimasukkannya ke dalam kandang besar untuk jadi tontonan.

Beberapa tahun kemudian hutan telah selesai dibuka dan di bekas Hutan Wanabolong telah berdiri kampung baru yang memiliki tanah pertanian yang luas. Merak dan keluarganya beruntung tinggal di rumah Pak Kepala Kampung yang memiliki halaman yang luas. Merak tak lagi dikandangkan, tapi dia dibiarkan lepas di halaman dan waktu sore kembali sendiri masuk ke kandang di belakang rumah. 

Makanan untuk Merak telah disediakan oleh Pak Kepala Kampung. Seandainya tidak disediakan-pun di halaman rumah tedapat banyak tumbuhan berbiji yang bisa dimakan olehnya. Merak puas dan bersyukur bahwa bulu-bulu indahnya ternyata bukannya tidak berguna seperti kata Gagak, tapi dapat membuat dirinya menjadi peliharaan bangsa manusia (Undil -2012).     

Gambar diambil dari : wikipedia

May 12, 2012

Dongeng Pak Wangsa dan Angsa Bertelur Emas

Alkisah dua tahun lalu Pak Wangsa mendapat hadiah anak angsa dari seseorang yang tidak dikenal. Belakangan setelah si angsa dewasa ternyata setiap hari mengeluarkan sebutir telur emas. Mulanya Pak Wangsa tidak yakin akan keberadaan telur emas itu. Namun setelah ditanyakan pada Tukang Kemasan di pasar, tahulah dia bahwa angsanya benar-benar mengeluarkan butiran telur emas.











Bukan main gembiranya hati Pak Wangsa. Sejak lama dia memendam cita-cita memajukan kampungnya yang rata-rata penduduknya miskin dan buta huruf. Sebagian besar tanah di kampungnya berupa padang gersang nan tandus. Kebanyakan penduduk berprofesi sebagai petani dan peternak. Umumnya miskin karena hanya lahan-lahan yang berada di kanan-kiri aliran sungai yang bisa ditanami. Pak Wangsa terhitung sebagai peternak dengan tanah yang luas, tetapi tidak semua tanahnya bisa dimanfaatkan karena tak ada pasokan air.

Selama ini penghasilan dari peternakan sapi perahnya hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya. Dari 100 hektar tanahnya hanya sepertiga yang bisa ditanami, itupun hanya rumput-rumputan untuk makanan sapi. Biaya untuk membayar orang untuk menyiram rumput-rumputnya tak berselisih jauh dengan hasil penjualan susu. Makanya impian untuk memajukan kampung belum berhasil diwujudkannya.

Dengan adanya angsa bertelur emas, kini Pak Wangsa bisa mengumpulkan biaya untuk membangun saluran irigasi yang dipergunakan mengairi daerah-derah yang kering. Dia tak segan menyingsingkan lengan untuk merancang dan sekaligus membiayai berbagai pekerjaan terkait usaha menghidupkan tanah-tanah gersang. Dibangunnya parit-parit baru untuk menghidupkan ladang-ladang di timur desa yang sudah puluhan tahun ditinggalkan pemiliknya karena kekurangan air.

Dipekerjakannya para pemuda yang selama ini suka nongkrong di warung-warung penjual wine -- sambil mabuk-mabukan -- dengan bayaran yang bagus. Perlahan-lahan jumlah pedagang anggur merah maupun anggur putih menyusut drastis, karena setelah sibuk bekerja para pemuda tak lagi tertarik untuk mabuk-mabukan seperti pada saat mereka masih menganggur.

Seiring perbaikan irigasi, lambat laun tanah-tanah gersang mulai bisa ditanami. Ladang-ladang baru muncul dan hasil pertanian yang bisa dijual ke kota meningkat. Penduduk sangat senang dengan usaha-usaha Pak Wangsa. Tak ada lagi pemuda-pemuda mabuk begajulan yang nongkrong di warung wine. Kesejahteraan orang-orang kampung juga meningkat. Sejauh ini tak ada yang tahu kalau uang Pak Wangsa dari telur angsa. Setahu mereka Pak Wangsa rajin berderma setelah majunya perdagangan istrinya yang setiap hari berjualan kain di kota.

^_^

Masih ada satu cita-cita Pak Wangsa yang belum kesampaian, yaitu membuat waduk besar di selatan desa yang dikelilingi bukit-bukit. Waduk itu akan mengubah padang gersang dan tandus di wilayah ini menjadi tanah pertanian yang subur dan makmur. Jika hanya membuat parit-parit irigasi maka masih ribuan hektar tanah yang tidak akan tersentuh air sampai puluhan tahun yang akan datang.

Namun untuk mewujudkan itu Pak Wangsa membutuhkan uang tak kurang dari 10.000 keping dinar emas. Jumlah yang tidak sedikit dan membutuhkan 1000 butir telur emas untuk mendapatkannya. Artinya Pak Wangsa harus menunggu 1000 hari lagi karena angsanya hanya bertelur satu butir sehari.

Bermacam-macam cara telah dipikirkan Pak Wangsa dan keluarganya. Termasuk istrinya yang mengusulkan agar si angsa disembelih saja agar telur-telur dapat diperoleh lebih cepat. Tentu saja Pak Wangsa tidak setuju. Dia tahu persis jika si angsa disembelih tentu di dalam perutnya tidak akan ada satu butir telurpun, bahkan hal itu akan menyebabkan dirinya kehilangan sumber emas.

Usulan dari anaknya lain lagi. Si anak mengusulkan Pak Wangsa mengajak warga untuk bersama-sama membikin waduk. Mereka diminta merelakan tanahnya untuk dibangun waduk agar tanah-tanah tandus di sekeliling desa bisa dirubah menjadi lahan subur bagi semua orang. Telur emas akan dipergunakan untuk membiayai makan dan minum selama mereka bekerja. Dengan cara ini diharapkan waduk dapat diselesaikan walaupun perlahan-lahan.

Pak Wangsa mengesampingkan usulan anaknya itu. Dari pengalamannya sangat sulit mengajak penduduk kampungnya untuk merelakan tanah demi pembuatan fasilitas umum. Untuk pembuatan jalan desa saja perlu waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan mereka agar melepaskan tanah untuk membangun jalan. Itu-pun dengan imbalan uang yang cukup menguras keuangan kampung. 

Lagipula mereka belum tentu percaya kalo Pak Wangsa mampu menggaji selama mereka bergotong royong. Uang dari mana?. Artinya Pak Wangsa harus menceritakan tentang telur angsa emasnya pada masyarakat umum, dan itu dapat mengundang para penjahat untuk mencurinya.

^_^

Setelah sebulan berpikir dan merenung setiap hari, akhirnya Pak Wangsa mendapat ilham untuk menyelesaikan masalahnya. Dia teringat pada seorang saudaranya yang bekerja pada pembesar di Kota Bergota. Si Bangsawan adalah seorang saudagar yang aktifitas bisnisnya membeli rempah-rempah dan timah dari para raja di pulau-pulau di kawasan timur lalu menjualnya kepada para pedagang Arab dan Gujarat kota-kota pelabuhan yang kaya di wilayah barat.

Kapal dagangnya tak kurang dari 50 Jung besar khas pedagang dari Pulau Jawa. Saking besarnya jung-jung miliknya, kapal-kapal itu sering jadi tontonan menarik penduduk di pulau-pulau kecil yang disinggahi. Jung terbesar bisa mengangkut 5000 ton lada sekali jalan. Setelah jung-jung telah penuh muatan dari pemilik kebun rempah-rempah, maka akan bertolak menuju pelabuhan-pelabuhan di kawasan barat seperti Tuban, Bergota, Jepara, Pekalongan, Cirebon, Palembang dan Malaka yang dipenuhi para pembeli dari mancanegara. Sang Saudagar juga memiliki bisnis pos yang melayani pengantaran surat dan barang antar kota-kota pelabuhan besar di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa melalui jalur laut. Kekayaannya sangat melimpah, sehingga uang 10.000 keping dinar emas tidak berarti baginya.

Dari penuturan saudaranya Pak Wangsa tahu bahwa saudagar itu seorang penggemar hewan piaraan. Ada bermacam-macam burung aneh dan langka yang dipelihara di rumahnya. Termasuk beberapa ekor burung unta dan burung cendrawasih yang diperoleh dari rekan bisnisnya di kawasan timur. Dia juga memiliki belasan hewan berkantung yang disebut kangguru. Konon hewan aneh itu diperolehnya dari para pelaut yang sengaja dikirimnya ke sebuah pulau besar di sebelah selatan Laut Bali. Para pelaut diutus ke pulau itu dengan membawa belasan ahli kimia dari Madrasah di Tuban yang hendak  menyelidiki kemungkinan dibukanya pertambangan emas dan timah di sana.

Dia juga dikenal dermawan. Tahun ini dia menyumbangkan tak kurang dari 30.000 buku-buku koleksinya yang berbahasa Arab dan Melayu untuk perpustakaan madrasah tinggi di Tuban. Tahun lalu Si Saudagar menyumbangkan 10 kapal perang Jung Jawa lengkap dengan meriam-meriamnya untuk Syahbandar Bergota. Dia merasa armada laut Kesultanan Demak Bintoro yang menguasai lautan nusantara perlu terus menerus  diperbaharui. Kekuatan Armada Perang inilah yang membuat kehadiran para penjelajah samudra dari Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris tidak menyurutkan dominasi para Pelaut Jawa di Nusantara yang terus terjaga selama masih tegaknya negara maritim di Pulau Jawa.


Maka pada suatu pagi yang cerah Pak Wangsa berangkat ke Kota Bergota untuk menemui Sang Saudagar setelah sebelumnya mengirimkan surat lewat saudaranya. Perlu waktu satu minggu dengan berkuda untuk sampai di rumah saudagar di Bergota yang ternyata menyambut kedatangannya dengan sangat ramah. Setelah bercerita menggebu-gebu tentang keinginannya untuk membangun waduk di kampungnya, Pak Wangsa menawarkan angsanya kepada si Saudagar dengan harga 10.000 keping dinar emas. Sama dengan biaya pembuatan waduk. 

Si Saudagar diam-diam merasa kagum dengan semangat Pak Wangsa membangun kampungnya. Orang ini mirip sekali dengan dirinya yang juga rela mengorbankan hartanya untuk kemajuan negara maritim di Jawa. Maka dia bersedia membantu Pak Wangsa.

Namun sebelum memutuskan membeli angsa, dia merasa perlu meminjamnya selama seminggu  untuk membuktikan kebenaran cerita bahwa si angsa itu mampu bertelur emas. Seminggu kemudian Si Saudagar percaya kebenaran cerita Pak Wangsa dan setuju membayar 10.000 keping dinar emas tunai untuk angsa Pak Wangsa. Bahkan dia mengirimkan pembantu-pembantunya yang ahli ilmu ukur dan ahli rancang bangunan yang pernah berguru langsung pada Koca Mimar Sinan untuk merancang waduk dengan cermat sesuai kondisi topografi wilayah itu.

Akhirnya Pak Wangsa berhasil mewujudkan keinginannya untuk membangun waduk di selatan kampungnya. Setelah waduk selesai dibangun maka daerah-dearah tandus di wilayah itu berangsur-angsur berubah menjadi lahan-lahan subur dengan hasil pertanian yang melimpah ruah dan menjadikan daerah itu salah satu wilayah termakmur di negeri itu. Pak Wangsa sendiri cukup puas dengan tanah pertaniannya yang sekarang bisa ditanami berbagai macam tanaman pangan disamping rumput untuk makanan sapi-sapinya (Undil-2012)

Apr 6, 2012

Cerita Anak: Kancil dan Biri-biri Pemberani

"Seorang pemberani bukanlah orang tanpa rasa takut, tapi orang yang tetap maju walaupun hatinya diliputi ketakutan"

^_^

Dalam kisah Sang Kancil terdampar di kota yang terkepung, diceritakan penduduk kota kelaparan karena telah dikepung musuh selama enam bulan. Kancil mengusulkan sebuah strategi untuk menyelamatkan penduduk kota. Pak Walikota setuju dengan taktik Sang Kancil. Taktiknya adalah melepaskan biri-biri gemuk beserta anak-anaknya ke perkemahan musuh. Tujuannya agar musuh mengira kota memiliki persediaan makanan yang melimpah sehingga hewan peliharaan-pun masih gemuk-gemuk karena diberi makan yang cukup.










Sesaat setelah menemukan biri-biri gemuk yang akan dilepaskan ke perkemahan musuh, Sang Kancil bercakap-cakap dengan induk biri-biri. Si Induk tampak ketakutan saat tahu dirinya bakalan dilepaskan ke perkemahan musuh. Sementara ketiga anaknya tampak riang-riang karena membayangkan bakalan mendapatkan rerumputan segar di luar benteng.

"Aduhai sungguh malang nian nasibku dikirim ke perkemahan musuh, entah jadi sate atau gule nampaknya akhir hidupku ada di dapur mereka"  kata Induk Biri-biri

"Dengar Biri-biri. Jikalaupun kamu bertahan di sini, kamu mungkin hanya menunda beberapa minggu atau mungkin hanya beberapa hari sebelum disembelih tuanmu karena mereka saat ini telah kekurangan makanan"

"Yah, aku tahu. Tapi setidaknya aku masih punya pengharapan"

"Dengan tugas ini pun kamu juga punya pengharapan. Lagipula andainya kamu disembelih kamu mati terhormat sebagai biri-biri yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kota"

"Yah, aku tahu itu. Tapi aku takut sekali. Jauh dalam lubuk hatiku aku ingin sekali berarti sudah itu biarlah aku mati. Tapi keinginanku itu kalah oleh rasa takutku"

"Dengarlah sob. Ketakutan itu ada pada diriku juga. Ada juga di dada panglima perang yang gagah perkasa!. Ada di hati Pak Walikota yang bijaksana, juga ada di diri orang-orang yang sedang terkepung di kota ini!. Musuh bisa melakukan apa saja terhadap diri kita bila mereka menaklukkan kota. Seorang pemberani bukanlah orang tanpa rasa takut, tapi orang yang tetap maju walaupun hatinya diliputi ketakutan!" ujar Kancil

Biri-biri mendongakkan kepalanya. Kemudian dia berdesis mengucapkan kata-kata dengan lirih

"Aku tidak punya pilihan lain kecuali menjadi seekor biri-biri pemberani. Biarlah aku mengikuti semua rencanamu. Que sera sera. Apa yang akan terjadi, terjadilah!"

Sang Kancil menepuk-nepuk pundak biri-biri pertanda salut atas keberaniannya yang mulai muncul. Biri-biri mencoba tetap tabah dan memaksakan diri untuk tersenyum. Sesaat kemudian dia ingat pengharapan yang dijanjikan Sang Kancil

"Ngomong-omong  pengharapan apa yang kau tawarkan padaku?"

"Aku akan memberimu ramuan yang membuatmu memuntahkan isi perutmu dalam tiga jam. Biar mereka menyangka kita masih mampu memberi makan jagung dan gabah pada biri-biri sebagai pertanda kita punya persediaan makanan yang melimpah"

"Jadi mereka tidak perlu menyembelih diriku untuk memeriksa isi perutku?"

"Yah benar. Mereka tak perlu menyembelih dirimu untuk melihat apa yang engkau makan. Mudah-mudahan mereka cukup puas dengan melihat jagung dan gabah yang kau muntahkan"

^_^

Maka biri-biri mengajak anak-anaknya untuk memakan jagung dan gabah yang dihidangkan pada mereka. Dia meminta anak-anaknya untuk makan tanpa ragu-ragu untuk membuat perutnya kenyang. Dia mencoba percaya keberhasilan taktik ramuan yang akan membuat dirinya muntah dalam tiga jam. 

Mudah-mudahan sebelum masa tiga jam itu dirinya tidak keburu disembelih oleh pasukan musuh. Namun jikalau dirinya disembelih-pun misinya akan tercapai. Karena musuh akan mendapati jagung dan gabah saat membelah isi perutnya yang merupakan isyarat bahwa di kota ini ada banyak makanan. Musuh diharapkan mendapatkan kesan bahwa kota yang tengah kelaparan ini memiliki gudang-gudang makanan yang melimpah ruah sehingga membatalkan pengepungan karena menganggapnya sia-sia.


^_^

Nasib baik tergaris bagi si biri-biri. Diberanikannya dirinya untuk berjalan-jalan semakin jauh keluar benteng. Dibiarkan dirinya ditangkap saat berjalan di antara perkemahan musuh. Untunglah Panglima musuh tidak memerintahkan menyembelih dirinya. Dia hanya terheran-heran melihat tubuh gemuk induk biri-biri. Si Panglima tambah terheran-heran lagi setelah si biri-biri memuntahkan gabah dan jagung dari dalam perutnya.

Seperti perkiraan Sang Kancil -- setelah melihat isi perut biri-biri -- Si Panglima langsung menyangka Kota Urban masih punya banyak persediaan makanan yang banyak. Dia  tanpa ragu-ragu memerintahkan pasukan yang mengepung kota untuk mundur dan menghentikan pengepungan Sebuah misi menegangkan yang berakhir manis bagi Si bIri-biri pemberani (Undil-2012). 

gambar diolah dari: www.geekalerts.com


Mar 14, 2012

Dongeng Si Kancil dan Biri-biri di Kota yang Terkepung

Gara-gara jembatan bambu yang ambrol saat diseberangi Si Kancil – hanyutlah dia terbawa arus sungai yang deras sampai berpuluh-puluh kilometer  ke arah pemukiman penduduk. Sambil terus berpegangan erat pada potongan bambu sisa jembatan yang terseret arus air, Si Kancil mengkipat-kipatkan tangannya agar tubuhnya bergerak menepi. Setelah seharian digoyang-gaying aliran air akhirnya dia terhempas ke sebuah lubang di tepi sungai.



Si Kancil yang terdampar di sebuah lorong kecil yang  pas dengan ukuran  tubuh mungilnya itu mau tak mau terpaksa  masuk lebih jauh ke dalam lorong.  Dia tak bisa keluar melalui sungai karena arusnya  terlalu deras. Maka dengan susah payah dia berjalan perlahan-lahan menelusuri lorong. Setelah setengah hari berjalan dalam kegelapan akhirnya  didapatinya  lorong berujung pada sebuah parit kecil persis di tengah sebuah kota. Saat dirinya keluar dari parit tersebut dilihatnya pemandangan penduduk kota yang sangat mengenaskan.

Bocah-bocah, orang  muda, orang tua, laki-laki maupun perempuan nampak bertubuh kurus kering dan lemah lunglai.  Daun-daun pepohonan sudah gundul, bahkan rerumputan-pun jarang Agaknya mereka habis dimakan oleh penduduk kota. Dari cerita orang-orang yang ditemuinya tahulah Si Kancil bahwa Kota  Urban telah dikepung musuh selama enam bulan sehingga tidak ada pasokan makanan dari luar kota.

Seorang lelaki muda yang bertubuh tegap walaupun mulai terlihat kurus menceritakan semuanya kepada Sang Kancil saat mereka bertemu di Balai Kota. Rupanya orang itu adalah Pak Walikota yang saat ini  rambutnya sering berdiri karena  otaknya berpikir keras mencari jalan keluar dari kekurangan pangan. Dia tidak tahu berapa lama lagi  rambutnya akan berdiri  kecuali Si Kancil mampu memberi solusi. Lumbung jagung dan beras di kota sudah sangat menipis. Kini bahan pangan hanya dibagikan  setiap dua hari sekali. Artinya rakyatnya makan sepiring nasi tiap dua hari sekali.

^_^

Tragedi kekurangan pangan ini berawal dari serangan yang dilakukan musuh terhadap Kota  Urban yang kaya raya ini. Rupanya majunya perdagangan Kota  Urban beberapa tahun belakangan ini dianggap membahayakan perdagangan di kota-kota tetangga.  Kemajuan pesat  itu  terjadi setelah walikota lama yang selama ini mengutamakan para pedagang asing tersingkir. Pak Walikota baru memberi perlakuan lebih adil pada pedagang pribumi.  

Kota Urban adalah kota terbesar di wilayah ini tetapi selama ini miskin. Hal itu karena pemerintah kota memberi fasilitas berlebihan pada para pedagang asing sehingga mereka berhasil memonopoli perdagangan. Akibatnya rakyat Kota Urban tetap miskin sementara para pedagang asing menjadi kaya raya. 

Walikota juga mengijinkan komplotan pedagang asing menjual ganja kepada penduduk kota. Dia juga membiarkan mereka memberi jatah ganja gratis kepada para pegawai negeri. Akibatnya pekerjaan para pegawai kota menjadi amburadul karena hari-harinya diisi dengan mabuk-mabukan ganja. Demikian juga dengan penduduk kota, banyak diantaranya menjadi tukang bengong karena mengisi hari-harinya dengan fly akibat menghisap ganja. 

Namun  setelah walikota lama tersingkir maka perlakuan istimewa pada  komplotan pedagang asing dicabut. Akibatnya  monopoli perdagangan  oleh para pedagang asing juga tamat riwayatnya.  Peredaran ganja juga dilarang. Hal itu berakibat perekonomian Kota Urban maju pesat karena penduduknya pada dasarnya memiliki hobby bekerja keras. Kini tidak ada lagi  diantara mereka yang menghabiskan waktu dengan bengong sambil menghisap ganja.  Hari-hari mereka menjadi produktif menghasilkan barang-barang yang laku dijual. Hanya dalam beberapa tahun perdagangan Kota Urban omzetnya jauh melampaui  kota-kota tetangga.  

Sejumlah besar anggota komplotan pedagang asing yang tersingkir merasa sakit hati.  Terutama sindikat penjual ganja. Mereka kehilangan pasar terbesar barang dagangan mereka. Karena itu mereka berusaha keras menyingkirkan walikota baru. Mereka menggunakan taktik pencitraan buruk terhadap Kota Urban. Dengan modal citra buruk itulah mereka akan  membujuk pemerintah-pemerintah kota asal  mereka agar menyerang Kota Urban. Setelah itu mereka bermaksud mengangkat kembali walikota lama agar kepentingan mereka dapat terlayani.  

Mula-mula mereka bersekutu dengan penegak hukum  yang bisa disuap di negeri mereka.  Lalu mereka menyewa para bandit, begal, kecu, maling dan perampok untuk melakukan aksinya di kota-kota mereka sendiri. Para penjahat  akan mendapat imbalan uang dalam jumlah besar jika mau mengaku sebagai teroris  suruhan  Walikota Urban yang ditugaskan untuk membuat kota-kota pesaing tidak aman. 

Para penjahat bayaran itu juga membuat kerusuhan dengan membakar gedung-gedung dan pasar-pasar.  Setiapkali tertangkap mereka mengaku sebagai teroris  yang dilatih Kota Urban.  Kadang-kadang para perampok biasa yang tertangkap -- sengaja dibunuh oleh penegak hukum dan diumumkan ke masyarakat sebagai para teroris. Para grayak kelas teri yang tertangkap dijanjikan keringanan hukuman jika bersedia mengaku  sebagai teroris. 

Aksi-aksi perampok yang mengaku sebagai teroris itu  juga sengaja dibesar-besarkan oleh koran-koran yang dimiliki komplotan pedagang asing sehingga timbullah kebencian umum terhadap penduduk Kota Urban. Mereka menyangka bahwa para  penjahat bayaran itu benar-benar  teroris binaan  Kota Urban. Setelah fitnah itu sukses maka mudah sajalah bagi para pedagang asing untuk membujuk pemerintah-pemerintah kota  menyerang Kota Urban.


^_^

Balatentara musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat tak mampu ditahan oleh pasukan pengawal Kota Urban walaupun persenjataan mereka jauh lebih modern. Ratusan pasukan senapan tidak sanggup menahan puluhan ribu pasukan musuh walaupun musuh hanya bersenjatakan busur panah, tombak dan pedang. Pasukan pengawal kota memutuskan untuk mundur ke dalam Kota Urban yang dibentengi tembok yang tinggi.

Musuh tidak mampu mendekati benteng kota karena pasukan senapan yang berjaga diatas benteng dengan cepat menghujani mereka dengan tembakan peluru-peluru tajam. Sementara musuh hanya bersenjatakan alat perang tradisional tidak mampu menjangkau pasukan senapan yang ada di atas benteng.  Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh musuh adalah mengepung Kota Urban sembari berharap Pak Walikota akan menyerah saat seluruh persediaan makanan habis. 

Sudah enam bulan musuh melakukan pengepungan. Namun belum ada tanda-tanda kota akan menyerah. Balatentara musuh yang mengepung sudah mulai gelisah. Mereka heran mengapa Kota Urban mampu bertahan selama itu tanpa pasokan makanan.

Sementara tanpa diketahui oleh para pengepungnya, kondisi Kota Urban sangat menyedihkan. Kekurangan bahan makanan maupun obat-obatan terjadi di seluruh kota. Kini mereka hanya bertahan dengan mengandalkan lumbung padi dan jagung yang sudah mulai menipis. Daun-daunan, tumbuhan, batang tanaman dan umbi-umbian telah mulai dikonsumsi penduduk kota karena jatah makanan yang dibagikan sangat sedikit. Akibatnya jumlah tanaman di kota ini juga telah menyusut dan tidak lama lagi akan ludes.

Sang Kancil yang sepakat akan membantu mengatasi kepungan musuh akhirnya menyarankan suatu strategi pada Pak Walikota. Setelah seharian berdiskusi panjang lebar  dengan Pak Walikota akhirnya beliau menyetujui mencoba taktik Sang Kancil, 

Untuk menjalankan strategi Sang Kancil -- Pak Walikota  harus menyediakan biri-biri yang gemuk beserta anak-anaknya. Setelah seharian dicari-cari di seluruh penjuru kota akhirnya didapatkanlah seekor biri-biri yang gemuk dengan tiga ekor anaknya yang tak kalah gemuk karena mereka dikandangkan di dekat mata air yang penuh lumut. Berkat memakan lumut-lumut yang menempel di bebatuan sekitar matair itulah para biri-biri itu tetap gemuk.


Kemudian Sang Kancil minta keluarga biri-biri itu diberi  makan biji-biji jagung dan gabah-gabah kering. Tentu saja Pak Walikota harus bekerja keras meyakinkan penjaga gudang agar bersedia mengeluarkan persediaan makanan yang sudah menipis untuk diberikan pada biri-biri. Sengaja biri-biri  induk beranak diberi makan banyak-banyak sampai perutnya penuh dengan biji-bijian tersebut.  Si Kancil lalu membuat ramu-ramuan khusus yang bikin muntah untuk induk biri-biri.  Ramu-ramuan itu baru akan bekerja tiga jam setelah diminumkan.

Rombongan biri-biri gemuk itu kemudian dilepaskan oleh Sang Kancil keluar dari benteng kota. Maka hewan-hewan  itu dengan suka cita berlarian ke sana kemari melihat rerumputan yang masih tumbuh subur di luar benteng. Tanpa terasa rombongan biri-biri itu semakin jauh dari benteng dan memasuki perkemahan musuh.

Beberapa prajurit penjaga musuh memergoki biri-biri induk-beranak itu dengan pandangan heran. Bagaimana mungkin sebuah kota yang telah dikepung selama berbulan-bulan masih memiliki biri-biri segemuk ini. Maka ditangkaplah biri-biri itu oleh para prajurit penjaga dan dibawanya pada panglima musuh.

Sang Panglima musuh tak kalah herannya melihat biri-biri yang gemuk itu. Disangkanya di kota yang tengah dikepungnya itu terdapat gudang-gudang besar tempat menyimpan rerumputan sehingga makanan biri-biri tercukupi. Kalau ada gudang rumput – mungkin ada juga gudang beras dan jagung yang besar untuk seluruh penduduk kota pikirnya.

Diam-diam Panglima musuh mulai bimbang harus berapa lama lagi dia melanjutkan pengepungan. Sementara sebagian pasukan sekutunya sudah mulai ingin menarik diri karena merasa terlalu lama melakukan pengepungan dan menganggapnya sebagai pengepungan yang sia-sia karena tak jelas kapan akan berakhir. Apalagi berita baru tentang para teroris yang sebenarnya adalah penjahat sewaan komplotan pedagang asing telah mulai menyebar di kalangan pasukan sekutu. Berita itu membuat semangat  tempur mereka merosot drastis karena merasa mereka bertempur demi membela kejahatan. Bila mati dalam pertempuran mereka sudah dapat mengira-ngira nasib buruk mereka di hari pembalasan.

Ditengah kebimbangan tersebut Si Panglima kaget melihat induk biri-biri batuk-batuk dan kemudian mulai memuntahkan isi perutnya. Rupanya ramuan Sang Kancil telah bekerja. Dalam waktu singkat biri-biri telah memuntahkan semua biji-biji jagung dan gabah yang memenuhi perutnya. Si Panglima musuh terpana saat mengenali makanan yang dimuntahkan biri-biri. Bagaimana mungkin kota yang telah terkepung masih mampu memberi makan biji-biji gabah dan jagung pada hewan. Pastilah itu karena mereka punya persediaan makanan yang sangat banyak.

Kini Panglima musuh tak ragu-ragu lagi. Dia menganggap pengepungan ini adalah sia-sia. Kota itu memiliki jumlah makanan yang melimpah ruah. Pengepungan yang berlarut-larut ini tidak akan ada hasilnya. Maka hari itu juga diputuskan olehnya untuk menarik mundur semua pasukannya.

^_^

Melihat musuh menarik mundur semua pasukannya – penduduk kota bersuka cita, Mereka berduyun-duyun datang pada Sang Kancil untuk mengucapkan terimakasihnya. Pak Walikota memberi penghargaan warga kehormatan kota kepada Sang Kancil.  Rambutnya sudah tidak berdiri lagi karena masalah kota telah dapat teratasi. Pintu gerbang kota telah dibuka kembali, para pedagang dapat membeli beras dan gandum lagi untuk dijual ke dalam kota. Pengepungan telah berakhir, penduduk kota kini dapat hidup normal seperti sediakala (Undil-2012).

gambar diambil dari scenicreflections.com

Mar 7, 2012

Cerpen Si Kancil Merayu Singa Barong

Alkisah Si Kancil sedang  apes ketika pada suatu sore saat sedang menyelidiki batu-batuan vulkanik dia terpergok oleh Singa Barong yang terkenal bertingkah laku sopan  tapi sangat buas terhadap binatang-binatang pemakan tumbuhan seperti Si Kancil.  Kali ini Si Kancil terpojok pada sebuah dinding bukit batu yang terjal tanpa dapat lari lagi. Singa Barong pelan-pelan menghampirinya dengan gayanya yang anggun seraya berkata:

“Tuan Kantjiel, ini hari sudah gelap. Tidak seharusnja binatang merumput seperti Tuan masih berkeliaran di luar rumah!  Sebutkan alasan Tuan masih berada diluar rumah! Bila dapat Saja mengerti,  maka Tuan akan Saja biarkan pergi! Tapi bila tidak masuk akal maka Tuan akan Saja makan














Sebagai sosok kutu buku yang berpengetahuan luas Kancil tahu persis sifat-sifat  Singa Barong yang dibeberkan panjang lebar pada Kitab Psikologi Carnivora yang dibacanya beberapa tahun silam. Jawaban apapun yang mucul dari mulut Kancil akan dibantah Singa Barong  yang ingin memangsanya. 

Singa Barong hanya sekedar cari-cari alasan saja untuk pembenar dirinya akan  memangsa hewan yang lebih lemah fisiknya seperti Si Kancil. Jadi jawaban tidaklah penting. Langkah yang perlu dilakukan sekarang adalah mempergunakan khazanah ilmu pengetahuan dari buku-buku yang pernah dibacanya untuk merayu Singa Barong agar mengurungkan niatnya memakan Kancil.

“Singa Barong, aku dengar aumanmu sekarang berubah jadi sangat merdu setelah kamu berlatih menyanyi pada burung beo?”  kata Si Kancil mencoba mencari sesuatu yang menarik buat Singa Barong.


Ternyata pilihan topik pembicaraan Sang Kancil tepat sasaran. Singa Barong yang sangat bangga dengan auman yang dianggapnya sangat merdu -- mendadak menjadi sangat senang mendengar pujian Si Kancil. Untuk sejenak dia lupa akan keinginan dirinya memangsa daging Kancil. Dia sangat tertarik mendengar Si Kancil menyebut-nyebut keindahan aumannya.

“Benar sekali Tuan Kantjiel. Saja telah berlatih keras selama satu tahun pada burung beo, dan kini Saja memiliki auman jang boleh dikata tidak akan mengetjewakan pendengarnja” kata Singa Barong dengan hati berbunga-bunga. Tentu saja Si Kancil tambah pede untuk membujuk Singa Barong yang kelihatan sangat tertarik dengan topik pembicaraan.

“Tidak inginkah aumanmu didengar oleh para binatang hutan dengan seksama dan penuh kekaguman?. Tidak inginkah dirimu menjadi pelantun auman yang digemari oleh para penghuni hutan? Aku bisa membuatkan partitur auman istimewa buatmu!”  tanya Kancil langsung to the point menawarkan keuntungan yang akan diperoleh Singa Barong bila bersedia  mengeksplorasi aumannya.

“Mauuuuuuu! Mau banget!!!  Saja ingin sekali mereka mendengarkan Saja mengaum dengan komposisi partitur ciptaan Tuan, sehingga mendjadi sebuah njanjian yang merdu untuk seluruh penghuni hutan!” kata Singa Barong penuh antusias. Singa Barong yang selama ini memendam rasa kesepian karena dijauhi para penghuni hutan sangat berharap auman indahnya akan membuat dirinya lebih dekat dengan mereka.

Sementara Si Kancil juga berlega hati. Dirinya telah berhasil  membujuk Singa Barong untuk melupakan daging kancil yang gurih dan menggantinya dengan mengekplorasi aumannya yang diharapkan akan menghibur penghuni hutan. Kini tiba saatnya Si Kancil membujuk Singa Barong ke tahap berikutnya, yaitu meninggalkan kebiasaan makan binatang-binatang hutan dan beralih menjadi penyantap ikan yang melimpah di sungai di pinggir hutan.

“Dengar Singa Barong! Saat ini para binatang hutan takut mendengar aumanmu! Mereka pada lari terbirit-birit karena takut kau mangsa!. Jadi kalau dirimu mau didengar oleh mereka semua,  harap berhentilah memakan binatang hutan!  Beralihlah menyantap ikan yang melimpah ruah di sungai. Ibaratnya dirimu cukup membuka mulut, mereka akan masuk sendiri saking banyaknya!” kata Si Kancil.

Sejenak Singa Barong merenungkan kata-kata Si Kancil. Dipikirkan untung rugi bila dirinya beralih dari menyantap binatang hutan menjadi menyantap ikan-ikan penghuni sungai. Kalau dipikir-pikir ternyata usulan Kancil memang lebih menguntungkan bagi dirinya. 

Dia tidak perlu susah-payah berburu binatang hutan yang makin lama terasa makin lincah dan susah ditangkap. Dia juga tidak akan dimusuhi oleh mereka, bahkan mungkin sebagian dari mereka bakalan menjadi penggemar aumannya. Itu membuka kemungkinan sebagian mereka akan menjadi sahabat dekat tempat berbagi suka dan duka -- sesuatu yang selama ini tidak dia miliki. Dengan semua alasan tersebut Singa Barong setuju dengan permintaan Sang Kancil. Sejak saat itu Singa Barong berhenti memakan daging binatang hutan dan beralih menyantap ikan-ikan penghuni sungai yang mengalir di pinggir hutan (Undil -2012).

Gambar Singa berbaring karya Rembrandt diambil dari en.wikipedia
     

Jan 22, 2012

Cerita Lucu tapi bukan Si Kancil Mencuri Ketimun

Alkisah Sang Kancil sedang berlatih main teater untuk sebuah pertunjukan besar di Hutan Utopia. Kali ini Sang Kancil harus memerankan Raja Kucing,  yang menjadi tokoh utama dalam pentas itu. Selama sebulan penuh Sang Kancil berguru kepada keluarga kucing anggora agar dapat memerankan Raja Kucing dengan sempurna.



Setelah dirasa cukup berlatih di keluarga kucing anggora, Sang Kancil memutuskan untuk mencoba memerankan kucing di kehidupan nyata. Maka dia berdandan sebagai kucing anggora dan turun ke kampung untuk berperan sebagai kucing di lingkungan manusia.
    
Rumah yang dimasuki oleh Sang Kancil berpenghuni keluarga muda yang baru memiliki bayi kecil bernama Reza. Dia adalah bayi umur 4 bulan yang baru bisa nangis owek owek. Mama Majda Yulianingrum baru kali ini punya bayi, sehingga belum tahu banyak tentang seluk beluk anak bayi.  Kancil masuk rumah sebagai seekor kucing kelabu yang kelaparan dan hendak mencari makan.

Kucing Kancil terus menerus bersuara eow-eow tanpa satu pun penghuni rumah yang tahu maksudnya, kecuali Reza.  Bahasa yang dipergunakan Reza yang owek-owek itu ternyata mirip dengan bahasa kucing yang baru saja dipelajari Sang Kancil.  Jadilah dua makhluk itu dapat nyambung ngobrolnya.

 “Owek-owek”

“Eow-eow”

“Owek-owek-oweek”

“Eow-Eow-Eoooow”

Dua makhluk itu ngobrol dengan seru sampai Mama Majda  bingung karena dikira anaknya nangis terus gak berhenti-berhenti. Padahal sebenarnya Reza sedang mengobrol dengan Kucing Kancil. Mama heran karena sudah dicek Reza tidak ngompol dan tidak pup. Saat diberi nenen juga tidak mau. Jadilah Mama pusing tujuh keliling, akhirnya Reza kembali ditaruh ke dalam box bayi.

Setelah Reza ditaruh ke dalam box bayi, Si Kucing Kancil mendekati Reza untuk melanjutkan obrolan mereka.

“Yi Bayi, aku lapar banget nih. Kamu punya timun gak untuk kumakan?”

“Timun itu kaya apa bentuknya?”

“Itu loh, buah yang bentuknya lonjong panjang, dan kulitnya warnanya hijaur”

“Wooo yang kalo dibelah warnanya merah itu yah?”

“Bukaaaan!  Itu mah semangka namanya. Timun itu yang suka dimakan bareng ayam goreng”

“Ayam goreng itu bentuknya kayak apa?”

“Itu loh yang kalo ditaruh di atas piring ada kaki, sayap dan kepalanya?”

“Woooo ayam goreng itu yang warnanya coklat yah?

“Betul yi”

“Aku tahu sekarang. Timun itu yang suka diiris-iris Mama untuk dimakan setelah makan ayam goreng yah?”

“Betul sekali. Punya gak dirimu?”

“Ada banyak di meja makan. Tapi aku belum bisa ngambilin nih. Aku juga belum bisa bicara pada mamaku. Mama gak mengerti dengan bahasaku. Gimana dung caranya ambil timun buatmu?”

“Udah gini aja. Kamu menangislah sekeras mungkin sampai digendong lagi sama mama kamu. Ntar klo kamu digendong sampai dekat meja makan, tanganmu tunjuk-tunjuk saja ke timun biar diambilin”

“Klo udah diambilin lalu diapain timunnya?”

“Dijatuhin ke lantai di depanku. Nanti aku akan bersuara  eow-eow sambil menyundul-nyundul kaki mamamu”

“Betul juga yah. Kamu pintar sekali Cing”

Kucing Kancil senyum-senyum sendiri karena senang sekali dikira kucing beneran oleh Reza, artinya aktingnya sebagai Raja Kucing saat pementasan nanti bakalan berhasil.

^_^

Seperti skenario Kucing yang sebenarnya adalah Sang Kancil -- Mama Majda cepat-cepat menggendong anaknya saat mendengar suara tangis Reza melengking tinggi. Karena tangisan Reza gak juga berhenti, Mama membawa Reza jalan-jalan keluar kamar. Saat mama berdiri di dekat meja makan tangan Reza menunjuk-nunjuk tumpukan timun di atas piring. Mama dengan cepat mengambilkan seekor timun, biar Reza berhenti menangis. 

Namun setelah timun dipegang Reza, tiba-tiba timun dijatuhkan ke depan kucing yang sedang berada di bawah sambil menyundul-nyundul kaki mama. Mama kaget dengan perbuatan Reza, tapi kemudian tertawa senang melihat ada seekor kucing yang menyantap timun yang dijatuhkan. “Wah anakku pintar sekali, masih bayi udah bisa ngasih makan kucing” ujarnya dengan bangga.

Namun kemudian setelah berpikir sejenak, Mama Majda jadi terheran-heran meilhat Kucing Kancil makan timun. “Mungkin kucing ini udah dibiasakan makan timun sama pemiliknya jadi dia enak aja menyantap ketimun. Wah aku gak boleh kalah sama kucing niy, aku harus lebih rajin makan sayur-sayuran”  pikir Mama.

Hari itu Sang Kancil cukup puas dengan aktingnya sebagai seekor kucing. Sampai saat dia kembali ke Hutan Utopia bayi Reza dan Mama Majda Yulianingrum tidak mengenali dirinya sebagai seekor kancil (Undil-2012)

gambar diambil dari : vincentvangoghgallery.org

tags: cerita lucu, cerita pendek,cerpen, dongeng sang kancil, 

Jan 8, 2012

More Sophisticated Story of Si Kancil Mencuri Timun

Sang Kancil dalam perjalanan dari Hutan Utopia menuju Gunung Sepikul mengikuti petunjuk buku Ki Wagenugraha, seorang ahli ilmu hayati paling mumpuni di saentero Pulau Jawa. Dalam Kitab Bab Suket-suketan karya Ki Wagenugraha tertera bahwa di Gunung Sepikul terdapat beberapa jenis rerumputan yang tahan kekeringan karena memiliki umbi akar yang berfungsi menyimpan cadangan air. 

Sang Kancil akan menanam rerumputan tahan kekeringan di seputar telaga di tengah Hutan Utopia agar kelak jadi makanan cadangan buat para penghuni hutan selama musim kemarau. 

Sudah dua minggu dia menempuh perjalanan jauh tatkala tiba di sebuah kebun tanaman ketimun yang nampak memiliki batang-batang yang kurus, daun-daun yang sebagian menguning  dan buah-buah kecil yang bergelantungan.

Baru saja Sang Kancil duduk, tiba-tiba bertiup angin kencang yang menerbangkan topi orang-orangan – boneka kayu yang dipasang ditengah kebun ketimun.  Sang Kancil segera berlari mengejar topi itu dan bermaksud memasangnya kembali ke tubuh orang-orangan. Sialnya saat tangannya menyentuh dada orang-orangan, tangannya menempel  pada tubuh si boneka kayu dan tidak bisa dilepaskan.  Semakin keras dia berusaha melepaskan, semakin banyak bagian tubuh Sang Kancil yang melekat pada orang-orangan. 


Pak Tani yang menemukan Sang Kancil terjebak pada tubuh orang-orangan langsung menyangka dirinya berhasil  menangkap pencuri yang selama ini mengganggu kebunnya. Maka ditetapkanlah hukuman pada Sang Kancil untuk bekerja membersihkan ladang Pak Tani selama 6 bulan terus menerus sebelum dia boleh pergi melanjutkan perjalanan ke Gunung Sepikul. Selama menjalani masa hukuman Sang Kancil akan dirantai kakinya dan dijaga oleh Anjing Gembala.

Tentu saja Sang Kancil sangat keberatan dengan hukuman itu. Ketimun yang ada di kebun Pak Tani masih terlalu kecil untuk dimakan, dan dirinya tidak bakalan doyan memakan timun mentah itu. Lagipula tidak ada bukti bekas gigitan atau sisa-sisa timun yang dimakan di kebun itu. Jadi tuduhan Pak Tani tanpa bukti.   

Namun kata-katanya tidak didengar sama sekali oleh Pak Tani yang yakin Sang Kancil telah sering beroperasi menjarah ketimun. Terpaksalah Sang Kancil rela menjalani hukuman sambil memikirkan cara secepatnya pergi ke Gunung Sepikul  agar penduduk Hutan Utopia tidak kekurangan rumput di musim kering yang akan datang.

Untunglah di sela-sela waktu menjalani hukuman di ladang Pak Tani, Sang Kancil sempat ngobrol-ngobrol dengan Anjing Gembala yang bertugas menjaganya supaya tidak kabur. Dari Si Anjing Gembala, Sang Kancil tahu bahwa para petani di desa akhir-akhir ini kekurangan air karena sumber air yang mengalir dari Gunung Putih telah dikuasai sekelompok orang bersenjata yang dipimpin seseorang yang dijuluki Orang Berkumis dari Gunung. 

^_^

Orangnya tinggi jangkung, berkulit putih bersih, bermata belo warna kecoklatan, berambut kemerahan yang dicukur cepak, dan berkumis warna merah yang jarang-jarang tumbuhnya. Walaupun demikian orang-orang menjulukinya Orang Berkumis dari Gunung. Orang ini sangat giat mencari pengikut baru. Sepekan sekali dia membayar tukang teriak di pasar-pasar untuk meneriakkan ajaran-ajarannya tentang kebebasan tanpa batas. Dia juga mengundang anak-anak muda untuk berkunjung ke perpustakaan miliknya dan berdiskusi tentang kebebasan.

Setealh merasa cukup kuat, kelompok orang yang menguasai Gunung Putih itu membendung sumber air yang memancar dari puncak gunung dan hanya membuka penuh aliran air ke dataran yang berada di sisi selatan Gunung yang tanahnya lebih rendah daripada sisi utara gunung.  

Aliran air ke arah utara masih ada tetapi tinggal setengahnya. Akibatnya tanah pertanian di desa-desa di sisi utara gunung tidak mendapatkan air yang cukup.  Pertumbuhan tanaman menjadi kurang bagus,hasil panen pun menurun. Secara umum baik padi maupun palawija hanya memberi hasil panen dua pertiga saja dari sebelumnya.  Pendeknya penduduk di sisi utara gunung dirugikan oleh pembendungan itu.
 
Belasan kali para petani mengirim utusan untuk meminta bendungan dibuka, tetapi selalu ditolak. Akhirnya para petani membentuk pasukan bersenjata dan berusaha merebut kembali  gunung itu -- namun selalu gagal. Sebenarnya jumlah kelompok yang dipimpin Orang Berkumis dari Gunung itu tidak banyak. Kekuatan mereka hanya belasan orang pasukan pemanah saja ditambah beberapa puluh pekerja tambang yang tak pandai memainkan pedang. Namun di sekeliling gunung itu terdapat dinding batu yang tidak bisa ditembus oleh para petani.  

Walaupun jumlahnya ratusan orang, pasukan petani selalu dipukul mundur karena hujan anak panah yang menimpa mereka saat berusaha mendekati benteng batu. Lagipula ketinggian benteng batu tersebut menyulitkan para petani untuk memanjatnya. Setelah mencoba berkali-kali dan gagal mengusir gerombolan dari gunung itu maka para petani menjadi jera dan mendiamkan mereka.

Pembendungan air oleh para penghuni gunung konon dilakukan untuk keperluan tambang. Mereka menggali tanah untuk mendapatkan tembaga dan emas dari gunung. Mereka memerlukan air dalam jumlah banyak untuk mencuci biji-biji tembaga dan emas yang masih bercampur dengan tanah.  Entah apa yang dipikirkan para penghuni gunung  yang mengabaikan nasib para petani di utara. Mungkin mereka menganggap berkurangnya sepertiga hasil panen adalah tidak seberapa dibanding manfaat yang bisa mereka raih dari menambang emas dari gunung.

^_^

Konon mereka adalah sekelompok orang yang memuja kebebasan. Mereka ingin merdeka dari pengaruh penguasa-penguasa yang ada di wilayah ini, seperti House of Pajangan yang berkuasa di sebelah barat dan House of Badegan di sebelah timur. Mereka ingin bebas menentukan hidup mereka sendiri tanpa campur tangan orang lain, tanpa etika, tanpa tatakrama, tanpa budaya maupun agama yang membatasi kebebasan mereka. Namun pada kenyataannya apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ditentukan oleh Sang Pemimpin, yaitu Si Orang Berkumis dari Gunung.

Orang Berkumis adalah bekas pedagang kaya yang telah puluhan tahun melanglang benua Asia, Eropa dan Afrika yang membuatnya memiliki pengalaman yang sangat luas. Kini dia memutuskan tinggal di Gunung Putih setelah terpesona oleh gunung yang dari kejauhan nampak berwarna putih kebiru-biruan. Dari pengalaman saat berbisnis dengan para ahli pertambangan di Kesultanan Gowa India, dia tahu bahwa warna kebiruan itu berasal dari tembaga. Dia yakin di gunung itu tersimpan tembaga dan bahkan emas yang akan membiayai ambisinya membentuk koloni yang terdiri atas orang-orang penganut kebebasan tanpa batas.

Maka dipergunakanlah seluruh kekayaannya untuk membiayai cita-cita itu. Dibentuklah pasukan kecil yang terdiri atas para pemanah ulung. Dibangunnya benteng batu di sekeliling gunung. Setelah semuanya siap, barulah dia berani membendung sumber mata air untuk mengolah hasil tambang dari Gunung Putih. Beberapakali serbuan dari para petani dengan mudah dipatahkan oleh tembakan dari busur-busur panjang milik pasukan pemanah yang berlindung di atas benteng batu yang menjulang tinggi. Benteng batu itu terlalu kokoh para petani.

Sebenarnya Si Orang Berkumis enggan menggunakan kekerasan fisik untuk mencapai tujuannya. Dia lebih mengandalkan cara-cara dengan memberi penjelasan panjang lebar tentang manfaat kebebasan tanpa batas pada masyarakat awam.

Sebuah perpustakaan besar dia bangun dan berisi ribuan buku tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk keperluan itu. Di sana terdapat buku-buku tentang kebebasan tanpa batas yang menjadi bekal para pengikutnya dalam usaha mencari pengikut baru dari kalangan penduduk desa. Orang Berkumis berambisi limabelas tahun yang akan datang, Perpustakaan Gunung Putih akan mampu sejajar dengan kebesaran Perpustakaan Madrasah Tinggi milik Sunan Bonang di Tuban yang tersohor sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban di Nusantara. Dia juga mempekerjakan beberapa juru tulis untuk mencatat kehidupan sehari-hari di Gunung Putih dan desa-desa sekitarnya sebagai bahan pertimbangan dalam  menentukan strategi mencari pengikut di wilayah ini. 

Si Orang Berkumis hanya sesekali mengirim orang-orangnya untuk mengancam para pemimpin petani yang terang-terangan menentang kehadiran mereka di Gunung Putih. Mereka dilatih untuk melakukan ancaman dengan diam-diam dan halus serta menghindari korban terluka. Umumnya dengan cara menaruh pisau belati di bantal orang yang diancam atau menaruh bungkusan berisi racun di dekat piring nasi mereka. Perbuatan itu adalah simbol bahwa Orang Berkumis mampu menikam atau meracun orang yang menentangnya kalau dia mau.  Tujuannya hanya untuk menakut-nakuti para petani sehingga tidak ada lagi yang berani bergerak menentang mereka.

Di sisi lain mereka memiliki para tabib yang hebat. Bila ada orang desa yang sakit dan tidak bisa sembuh oleh para tabib yang ada di desa, maka mereka akan mengutus orang untuk datang ke Gunung itu. Lalu Si Orang Berkumis akan mengutus tabib kepercayaannya untuk datang ke desa dan mengobati  si sakit hingga sembuh. Semua itu dilakukan tanpa bayaran.

Si Orang Berkumis juga suka memerintahkan anak buahnya mengirim sekarung beras pada orang-orang tua renta yang sudah tidak punya keluarga lagi. Juga pada anak-anak yatim yang hidup dalam kekurangan.  Dia juga tak segan-segan mengirimkan uang untuk keperluan anak-anak kecil yang ingin membeli mainan tetapi tidak punya uang.  Akibat dari kebaikan hati mereka itu sebagian penduduk tidak menganggap mereka orang jahat, terutama penduduk yang berada di sebelah selatan gunung yang tidak terganggu aliran airnya. Beberapa pemuda bahkan mulai terbujuk menjadi pekerja tambang di Gunung Putih.

^_^

Setelah mendengar kisah tentang Orang Berkumis dari Gunung, Sang Kancil minta diantar oleh Anjing Gembala untuk melihat-lihat sekitar Gunung Putih.  Dia tahu persis bahwa para penghuni gunung sengaja berbuat baik karena mereka ingin mendapatkan pengikut baru sebanyak-banyaknya untuk membangun negeri para pemuja kebebasan. Mereka juga sangat membutuhkan pasokan makanan dan pakaian dari desa-desa sekitarnya. Jika mereka berlaku kasar maka semua penduduk akan membenci dan memboikot mereka sehingga mereka bakalan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Sang Kancil bertekad akan mencari jalan guna menghentikan meluasnya ajaran sesat yang disebarkan Orang Berkumis. Dia tahu persis orang-orang bebas itu akan menghalalkan segala cara untuk membuat masjid-masjid sepi dan orang lebih suka pergi ke tempat hiburan daripada ke pengajian. Dia tak ingin negeri ini hancur karena berkuasanya segelintir pemuja kebebasan yang ingin melepaskan diri dari segala macam aturan.  Dia akan mengerahkan otaknya untuk melihat titik lemah benteng batu itu.

Setelah mengamat-amati sebentar gunung itu dan melihat benteng batu yang mengelilingnya Sang Kancil tersenyum dan tahu apa yang harus dilakukan para petani. Maka dia minta Anjing Gembala menemui Pak Tani untuk menyampaikan tawarannya. Sang Kancil akan membantu para petani merebut Gunung Putih, dan sebagai imbalannya dia minta dirinya dibebaskan.

Untunglah Pak Tani yang telah frustasi melihat sebagian pemuda telah terpengaruh ajaran si Orang berkumis dan mulai sering terlihat mabuk-mabukan di tempat umum -- dengan antusias menerima tawaran Sang Kancil. Dia setuju membebaskan Sang Kancil dari hukuman bila berhasil menolong para petani menaklukkan Orang Berkumis. Maka setelah mendengar uraian strategi  Sang Kancil semakin percayalah Pak Tani akan keberhasilan strategi yang ditawarkan tersebut. Sebuah strategi yang tidak terlalu rumit untuk dilakukan tetapi tidak pernah terpikirkan oleh para petani.

Maka dikumpulkannya para petani lainnya dan dikatakan bahwa dirinya akan membentuk pasukan seperti dulu lagi. Tapi ternyata tidak mudah. Kegagalan berulangkali yang menimpa mereka dan ancaman yang disebarkan Orang Berkumis dari Gunung Putih telah membuat Pak Tani kesulitan mengumpulkan orang-orang untuk melakukan perlawanan. Apalagi diantara pasukan yang terdahulu terdapat beberapa orang yang telah ditolong oleh si Orang Berkumis dari Gunung. Bahkan beberapa anak muda telah terbujuk meninggalkan sawahnya dan beralih menjadi pekerja tambang di Gunung Putih.

“Masa hanya karena beberapa keping uang emas kalian membiarkan hak kalian diambil oleh mereka? Semurah itukah harga diri kalian? Mereka orang-orang asing yang mengambil air kita, lalu mengancam kita dan membujuk kita dengan sedikit uang! Apakah kita membiarkan mereka mendiktekan pada kita perilaku mana yang dianggap baik dan perilaku mana yang salah sesuai kepentingan mereka! kata Pak Tani.

"Apa jadinya anak-anak kita bila jadi pengikut mereka lalu meninggalkan budaya, etika dan agama? Bagaimana jika keturunan kita menjadi pengikut ajaran kebebasan, pengisap ganja, maksiat, dan memuja hawa nafsu. Akan hancurlah masa depan negeri kita! Apa kalian tidak malu pada anak cucu kita kelak ketika mereka mendengar kita menjual masa depan mereka dengan harga sangat murah? Apa kalian tidak malu pada Tuhan yang memberi kita kekuatan dan akal untuk melawan para pemuja kebebasan?” teriak Pak Tani berapi-api yang membuat sekelompok petani tua dan muda yang menolak ikut serta dalam pertempuran menunduk malu.

^_^

Butuh waktu sebulan untuk mengumpulkan beberapa ratus orang. Hanya setengah dari jumlah petani yang berangkat untuk melakukan perlawanan beberapa waktu yang lalu. Namun Pak Tani tidak putus asa. Dia merasa dengan beberapa ratus orang ini,  kekuatan pasukannya telah berkali-kali lipat dari pasukan Orang Berkumis dari Gunung. Jadi dia yakin bila pasukannya berhasil menembus benteng maka pertempuran di dalam benteng batu akan dimenangkan oleh para petani. Dengan keyakinan itulah dia mulai mempersiapkan pasukannya dengan mempergunakan strategi Sang Kancil.

Setelah terkumpul orang-orang yang akan membebaskan Gunung Putih tibalah saatnya untuk mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan. Mereka mempersiapkan secara diam-diam karena khawatir rencana itu bocor ke telinga Orang Berkumis dari yang telah memiliki simpatisan dimana-mana. Oleh karena itu mereka membuat persiapan di gudang bawah tanah di bawah lumbung padi Pak Tani. Para petani secara bergiliran datang ke gudang itu dan membuat persiapan di sana.

Sang Kancil sengaja mengatur jadwal kerja para petani itu secara bergiliran karena khawatir akan menarik perhatian orang banyak. Biar mereka dikira kumpul-kumpul saja sesama petani yang sedang membicarakan hama dan pemupukan tanaman. Orang-orang yang tidak bersedia bergabung dalam pasukan tidak pernah diberitahu rencana itu, sehingga mereka menyangka Pak Tani gagal membentuk pasukan baru. Berita itulah yang sampai ke telinga Orang Berkumis sehingga dia hanya sesekali mengirim orang untuk mengamat-amati rumah Pak Tani.

Setelah semua perlengkapan siap, penyerangan tidak segera dapat dilakukan. Strategi Sang Kancil  hanya dapat diterapkan saat malam gelap gulita tak ada sinar rembulan ataupun bintang-bintang. Jika ada cahaya kemungkinan penyerangan akan gagal lagi karena ketahuan oleh musuh.

Para petani  dengan sabar menunggu sampai saat itu datang. Setelah sepuluh hari menunggu akhirnya malam itu tiba. Bulan muda sedang kecil-kecilnya, sementara mendung menggantung di langit menutup cahaya bintang-bintang. Malam gelap gulita menyelimuti Gunung Putih. Malam yang sempurna untuk menjalankan strategi pembebasan Sang Kancil.

Pada malam yang sunyi itu nampak sekelompok petani bersama Sang Kancil mendaki Bukit Biru yang terletak di sebelah utara Gunung Putih. Mereka menenteng Gantole-gantole besar yang terbuat dari kain dan rangka bambu. Rupanya para petani itu hendak menerobos  Gunung Putih dari udara. Mereka akan menaiki Gantole yang akan membawa mereka terbang bersama angin yang bertiup kencang.

Sudah sebulan ini para petani giat membuat gantole dari rangka bambu dan kain-kain yang mereka kumpulkan di gudang bawah tanah milik Pak Tani. Kain-kain dari mulai dari kain sarung, gorden  sampai jarik milik ibu-ibu petani disumbangkan untuk membuat Gantole. Mereka sadar betul bahwa mereka harus berkorban agar dapat hidup dengan bebas dari ancaman orang-orang Gunung Putih. Selama mereka masih menguasai Gunung Putih, maka keinginan untuk leluasa mendapatkan sumber air dan anak-anak mereka terbebas dari pengaruh ajaran sesat tidak akan tercapai. Kesadaran itulah yang menjadikan pembuatan Gantole-gantole cepat terselesaikan.

Untunglah di dekat rumah Pak Tani ada seorang ahli desain bernama Nyi Ida Nurnaeni. Seperti halnya Ki Wagenugraha yang menimba ilmu dari madrasah-madrasah di seluruh penjuru dunia, Si Nyi Ida Nurnaeni ini telah lama berkelana keliling dunia untuk menimba ketrampilan membuat desain beraneka ragam barang yang rumit-rumit.

Tak kurang dari kota-kota besar di dunia seperti Jepara, Tuban, Bergota, Malaka, Gowa, Alepo, Paris bahkan Constantinopel pernah dikunjunginya. Berkat keluasan ilmunya petunjuk-petunjuk Sang Kancil tentang cara membuat Gantole dengan mudah dipahaminya. Nyi Ida Nurnaeni juga dengan cepat dapat melatih para petani untuk membantunya menyelesaikan Gantole-gantole itu. 

^_^

Awalnya  nampaklah satu buah Gantole terbang dari atas Bukit Biru. Setelah nampak gantole itu terbang mulus mengelilingi bukit, segera diikuti oleh puluhan Gantole lain yang menyusul membelah langit malam yang kelam. Hingga tengah malam telah ratusan Gantole melayang mengitari Bukit Biru. Tak berapa lama kemudian Gantole-gantole itu bergerak menuju Gunung Putih.

Mereka nampak mengitari gunung itu satu kali sebelum tiba-tiba menukik turun ke sebelah dalam benteng  yang mengitari Gunung Putih. Ratusan petani itu terjun langsung ke markas Orang Berkumis dari Gunung Putih  yang telah berbulan-bulan membendung air mereka.

Terjadilah pertempuran seru di dalam Gunung Putih. Belasan pasukan Orang Berkumis kaget sekali mengalami serangan mendadak dari udara. Mereka sama sekali tidak menyangka bakalan digempur dari udara sehingga nampak tidak siap mengalami pertempuran jarak dekat. Mereka dengan cepat keteteran  menghadapi para petani yang menyerbu dengan senjata-senjata terhunus.

Jika saja serangan dilakukan dari darat orang-orang Gunung Putih akan dengan mudah memukul mundur para penyerang meskipun penyerang itu adalah ratusan pasukan kerajaan yang terlatih baik. Itu semua karena Orang Berkumis adalah seorang ahli strategi perang. Dia membangun benteng batu di Gunung Putih dengan pertimbangan yang matang.

Benteng itu sangat tinggi dan kokoh sehingga tidak akan dengan mudah ditembus oleh pasukan kavaleri terbaik sekalipun. Si Orang berkumis tak segan mengajarkan strategi perang kepada pengikutnya. Dia rajin menuliskan taktik-taktik perang yang dikuasainya dan menjadi buku yang wajib dibaca oleh para pasukan di Gunung Putih agar mereka terampil dalam menjaga benteng pertahanan.

Namun kali ini adalah serangan udara. Sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh Orang Berkumis. Pasukan pemanah tidak dipersiapkan untuk melawan banyak orang dalam pertempuran jarak dekat. Perlahan namun pasti pasukan Gunung Putih terdesak mundur. Mereka terdesak semakin mendekati markas pimpinan mereka yang berupa sebuah rumah besar dari batu. Satu persatu para gerombolan Gunung Putih itu jatuh ke tanah tak berdaya menghadapi keperkasaan pasukan petani. Sisanya menyerah sambil melolong-lolong minta diampuni.

Sementara Orang Berkumis nampak berusaha terus bertempur mempertahankan rumahnya. Dalam hatinya dia terheran-heran dengan kecerdasan orang yang telah menyerang banteng pertahanannya dari udara. Sesuatu yang tak pernah dia jumpai sepanjang hidupnya yang dihabiskan untuk berkelana melanglang dunia. Bukan main cerdasnya orang yang menggunakan strategi ini.  Tak malulah bila dia harus kalah oleh ahli strategi perang secerdas ini.

Kemudian saat dilihatnya satu persatu anak buahnya menyerah atau jatuh terkapar di tanah, hatinya menjadi kecut. Tak mungkin dia mampu melawan para petani ini seorang diri. Maka tak ada pilihan lain bagi dirinya selain menyerah. 

^_^

Malam itu juga bendungan yang membendung aliran sungai menuju desa dijebol. Air kembali mengalir  memenuhi parit-parit irigasi dan membasahi sawah-sawah yang kekurangan air.  Para petani lega, mereka juga sangat berterimakasih pada Sang Kancil yang telah memberi mereka bantuan dalam mengalahkan Orang Berkumis. Kini Gunung Putih telah dikuasai kembali oleh para petani.

Perpustakaan yang dimiliki Orang Berkumis itu diambil alih oleh para petani. Buku-buku yang bermanfaat dipertahankan sedangkan buku-buku sesat tentang kebebasan tanpa batas dibakar habis oleh para petani. Mereka tidak ingin pemikiran anak-anak muda yang masih belum matang akan dirusak oleh buku-buku sesat itu. Para petani sepakat untuk menempatkan beberapa orang terpelajar di kalangan mereka untuk menjaga perpustakaan itu sambil mengajarkan ilmu pengetahuan pada anak-anak petani.

Dari catatan-catatan yang ada di perpustakaan Gunung Putih diketahui bahwa di gunung tersebut bersarang sekelompok tikus besar pemakan ketimun yang sering turun ke desa untuk mencari makan. Tikus itu juga suka mengganggu gudang makanan milik Orang Berkumis, namun mereka hanya menyantap simpanan makanan berupa ketimun. Orang Berkumis belum berhasil menemukan tempat persembunyian tikus-tikus besar tersebut sehingga belum berhasil  memusnahkan mereka.  Dari catatan itulah Pak Tani tahu bahwa selama ini para pencuri ketimun bersembunyi di gunung ini.   

Kini tugas Sang Kancil untuk mengatasi masalah yang dihadapi para petani telah selesai. Namun masih ada satu hal yang mengganjal hati Sang Kancil, yaitu keengganan Pak Tani untuk mengakui bahwa dirinya telah salah karena menangkap Sang Kancil. Padahal telah ada bukti catatan di perpustakaan bahwa si pencuri adalah tikus besar. Walaupun demikian Sang Kancil tidak kecewa. Mungkin saat ini Pak Tani lupa mengakui kesalahannya karena orang itu sedang mendapat banyak pujian dari petani lain karena berhasil memimpin pembebasan Gunung Putih. Mungkin juga dia masih malu untuk mengakuinya  sekarang. Siapa tahu di masa datang dia bersedia mengakui kesalahan dan minta maaf pada Sang Kancil.

Lepas dari itu, Pak Tani memperlakukan Sang Kancil dengan sangat baik. Sebagai tanda terimakasihnya, dia meminta beberapa petani untuk mengantarkan Sang Kancil ke Gunung Sepikul dengan kereta kuda. Para petani itu dengan senang hati memenuhi permintaan tersebut. Mereka berharap para penghuni Hutan Utopia dapat terhindar dari ancaman kekurangan makanan dengan ditanamnya rumput-rumput tahan kering dari Gunung Sepikul ke dataran sekitar telaga di Hutan Utopia (undil – 2012).

gambar diambil dari: www.supercoloring.com/ 
           

Rahasia Puaskan Istri Anda

Tags

Abu Nawas (29) Amazing (27) Anak Kecil (33) Aneh Dan Unik (28) BB++ (57) CERITA LUCU (181) CERITA LUCU DEWASA (84) Cerita (47) Cerita lucu abu nawas (38) Cerita ngocol (76) Cewe Cowo (64) Dokter (66) English Joke (32) English Jokes (57) Five story (24) Gallery (20) Gambar (89) Gambar Plesetan (315) Gambar n Foto Lucu (52) Guru (102) HP (40) Heboh (105) Hot Spot (34) Humor Dewasa (117) Humor Indonesia (70) Humor Umum (112) Humor and Jokes (87) Iklan Kocak (46) Indonesian Jokes (70) Info (130) Istri (75) Keren (49) Kesehatan (28) Kisah Abu Nawas (66) Komik (299) Komik Mahasiswa (123) Komik dewasa (30) Kumpulan Cerita Humor Dewasa Lucu (118) Kumpulan SMS Humor Lucu (40) Lucu (389) Mahasiswa (37) Maho (61) Mengenal Diri (58) Murid (54) Ngeri (28) Ngocol Aja (113) Parah (48) Pasien (30) Pelayan (36) Pembeli (38) Pengetahuan (35) Penjual (53) Polisi (63) SMS (83) Sekolah (55) Seven story (35) Sex (35) Sms Cinta (88) Sms Jail (52) Sms Narsis (62) Sms Romantis (80) Sms iseng (286) Sms lucu (204) Sms untuk pacar (62) Sms untuk sahabat (70) Sms untuk teman (88) Suami (41) Teka Teki (36) Tips (66) Top Ten (43) Top sepuluh (53) Umum (75) Wanita (48) bego (146) cerita anak (29) cerita manajemen (20) cerita ngakak (122) cerita pendek (179) cerpen (65) dongeng sang kancil (28) goblog (151) gokil (341) hikayat abu nawas (28) humor (99) humor abu nawas (37) kocak (340) koplak (348) lirik lagu keren (29) ngakak (352) pluralisme dan kebenaran (33) psikologi (25) puisi (106) sms idul fitri (40) sms ucapan selamat tidur (86) video (74)
Rezeki dari SMS
 
Kumpulan Humor Terbaru | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger