Buscar

Cara Cepat Hamil & Tips Hamil
Rezeki dari SMS
Showing posts with label cerita anak. Show all posts
Showing posts with label cerita anak. Show all posts

May 18, 2012

Dongeng Burung Merak yang Berbulu Indah dan Gagak Si Pengejek

Kala gerimis turun dari langit,
burung-burung memilih pergi,
berteduh di gua-gua atau batang kayu mati
Aku tetap di sini berteman gerimis,
kusuka pada lengkung indah pelanginya,
kucinta warna-warninya yang menawan hati


 ^_^

Alkisah di Hutan Wanabolong tinggal Burung Merak dan keluarganya. Burung Merak sangat terkenal di saentero hutan karena keindahan bulunya. Warnanya dan bentuk bulu-bulunya yang indah membuat penampakan Burung Merak sedap dipandang mata dan mengundang decak kagum para penghuni hutan. Apalagi Burung Merak pandai menari, setiap sore menjelang matahari terbenam dia mengembankan bulu-bulu ekornya yang indah sambil menari berputar-putar dengan gerakan-gerakan cantik mengiringi terbenamnya matahari.













Namun disamping mengundang decak kagum, keindahan bulu-bulu itu juga suka dijadikan bahan ejekan burung-burung tertentu. Pasalnya tidak seperti burung yang lain, Burung Merak tidak pandai terbang jauh. Dia hanya mampu terbang setinggi atap rumah dan dalam jarak yang dekat. Lebih seringnya jalan-jalan di darat saja. Makanya Gagak dan teman-temannya sering mengejeknya sebagai si penyandang bulu-bulu hiasan yang tak berguna. 

Tentu saja Merak tertawa saja mendengar ejekan itu. Secara makanan dan minuman tersedia melimpah di hutan Wanabolong, sehingga dirinya tak perlu pergi jauh-jauh untuk mendapatkannya. Si Merak gemar makan biji-bijian, pucuk rerumputan, dedaunan dan serangga. Dirinya tak perlu capek-capek terbang glidik seperti Gagak yang suka makan yang aneh-aneh. Tak bisa terbang jauh-pun tak apa-apa, toh dirinya tidak hidup dalam kekurangan. Biasanya Gagak terdiam sambil bersungut-sungut bila mendengar jawaban seperti itu.

Suatu ketika terbetik kabar bahwa bangsa manusia telah membuka hutan di balik bukit, sebentar lagi mereka akan membuka hutan Wanabolong juga untuk dijadikan tanah pertanian. Para penghuni hutan heboh. Masing-masing telah punya rencana untuk menyelamatkan diri. Gajah sudah jauh-jauh hari mengungsi dengan membawa keluarganya. Dia sadar betul ukuran tubuhnya yang besar akan memudahkan dirinya ditangkap. Kijang, kerbau, monyet dan babi hutan juga telah bersiap-siap untuk menyusul hengkang ke hutan terdekat. 

Bangsa burung juga telah pada mengungsi ke hutan belantara di lereng gunung. Kini tinggal beberapa hewan saja yang masih belum mengungsi. Diantaranya terdapat Burung Merak. Si Merak tidak bisa ikut mengungsi karena terhalang sungai yang sangat lebar. Dirinya tidak dapat menyeberangi sungai yang membentang membatasi Hutan Wanabolong dengan hutan terdekat karena jaraknya terlalu jauh untuk diterbangi. Sementara untuk menyeberang lewat air, dirinya tidak sekuat kijang atau kambing yang tidak akan hanyut terbawa arus. 

Makanya dia memutuskan tetap tinggal di Hutan Wanabolong saja sambil memikirkan cara lain untuk menyelamatkan diri selain mengungsi. Berita itu membuat Gagak yang telah mengungsi tertarik balik ke Wanabolong sekedar untuk mengejek merak yang malang.

"Duh duh kasihan teman kita yang tampan ini. Benar khan kata aku juga!. Bulu-bulumu itu hanyalah hiasan tak berguna. Kini kau harus menerima nasibmu tak bisa mengungsi seperti binatang yang lain...wkwkwk " kata Si Gagak setelh berhasil menemukan Merak.

"Terimakasih Gagak atas masukanmu. Aku punya rencana lain selain mengungsi" sahut Si Merak dengan santai

"Rencana lain??? Rencana dari hongkong.... wkwkwkwk" kata Gagak tambah nafsu mengejek Si Merak

Merak tertawa kecil, lalu membacakan sebuah puisi


Kala gerimis turun dari langit,
burung-burung memilih pergi,
berteduh di gua-gua atau batang kayu mati
Aku tetap di sini berteman gerimis,
kusuka pada lengkung indah pelanginya,
kucinta warna-warninya yang menawan hati

Gagak geleng-geleng kepala tidak mengerti maksud puisi itu, walaupun dalam hati mengagumi keindahannya.  Dirinya sangat kecewa, Merak sama sekali tidak terpengaruh oleh ejekannya.

^_^

Hari yang dinantikan tiba. Ratusan manusia tampak memasuki Hutan Wanabolong sambil membawa gergaji dan kereta-kereta kuda untuk mengangkut kayu. Pelan-pelan mereka mulai merambah hutan dan menebangi kayu-kayu. Dibersihkannya pohon-pohon besar yang ada di hutan ini untuk dirubah jadi tanah pertanian. Si Merak bersama keluarganya tidak lari meninggalkan hutan. Justru dia mendekati kelompok manusia itu sambil berjalan perlahan-lahan berputar-putar memamerkan bulu-bulunya yang indah. Tak ketinggalan istri dan anak-anaknya membuntuti di belakangnya.

Saat melihat Merak yang berbulu indah para pembuka hutan itu berdecak kagum. Mereka sangat terpesona oleh keindahan bulu-bulu Merak yang menawan. Maka ditangkaplah Merak dan keluarganya, kemudian dimasukkannya ke dalam kandang besar untuk jadi tontonan.

Beberapa tahun kemudian hutan telah selesai dibuka dan di bekas Hutan Wanabolong telah berdiri kampung baru yang memiliki tanah pertanian yang luas. Merak dan keluarganya beruntung tinggal di rumah Pak Kepala Kampung yang memiliki halaman yang luas. Merak tak lagi dikandangkan, tapi dia dibiarkan lepas di halaman dan waktu sore kembali sendiri masuk ke kandang di belakang rumah. 

Makanan untuk Merak telah disediakan oleh Pak Kepala Kampung. Seandainya tidak disediakan-pun di halaman rumah tedapat banyak tumbuhan berbiji yang bisa dimakan olehnya. Merak puas dan bersyukur bahwa bulu-bulu indahnya ternyata bukannya tidak berguna seperti kata Gagak, tapi dapat membuat dirinya menjadi peliharaan bangsa manusia (Undil -2012).     

Gambar diambil dari : wikipedia

May 12, 2012

Dongeng Pak Wangsa dan Angsa Bertelur Emas

Alkisah dua tahun lalu Pak Wangsa mendapat hadiah anak angsa dari seseorang yang tidak dikenal. Belakangan setelah si angsa dewasa ternyata setiap hari mengeluarkan sebutir telur emas. Mulanya Pak Wangsa tidak yakin akan keberadaan telur emas itu. Namun setelah ditanyakan pada Tukang Kemasan di pasar, tahulah dia bahwa angsanya benar-benar mengeluarkan butiran telur emas.











Bukan main gembiranya hati Pak Wangsa. Sejak lama dia memendam cita-cita memajukan kampungnya yang rata-rata penduduknya miskin dan buta huruf. Sebagian besar tanah di kampungnya berupa padang gersang nan tandus. Kebanyakan penduduk berprofesi sebagai petani dan peternak. Umumnya miskin karena hanya lahan-lahan yang berada di kanan-kiri aliran sungai yang bisa ditanami. Pak Wangsa terhitung sebagai peternak dengan tanah yang luas, tetapi tidak semua tanahnya bisa dimanfaatkan karena tak ada pasokan air.

Selama ini penghasilan dari peternakan sapi perahnya hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya. Dari 100 hektar tanahnya hanya sepertiga yang bisa ditanami, itupun hanya rumput-rumputan untuk makanan sapi. Biaya untuk membayar orang untuk menyiram rumput-rumputnya tak berselisih jauh dengan hasil penjualan susu. Makanya impian untuk memajukan kampung belum berhasil diwujudkannya.

Dengan adanya angsa bertelur emas, kini Pak Wangsa bisa mengumpulkan biaya untuk membangun saluran irigasi yang dipergunakan mengairi daerah-derah yang kering. Dia tak segan menyingsingkan lengan untuk merancang dan sekaligus membiayai berbagai pekerjaan terkait usaha menghidupkan tanah-tanah gersang. Dibangunnya parit-parit baru untuk menghidupkan ladang-ladang di timur desa yang sudah puluhan tahun ditinggalkan pemiliknya karena kekurangan air.

Dipekerjakannya para pemuda yang selama ini suka nongkrong di warung-warung penjual wine -- sambil mabuk-mabukan -- dengan bayaran yang bagus. Perlahan-lahan jumlah pedagang anggur merah maupun anggur putih menyusut drastis, karena setelah sibuk bekerja para pemuda tak lagi tertarik untuk mabuk-mabukan seperti pada saat mereka masih menganggur.

Seiring perbaikan irigasi, lambat laun tanah-tanah gersang mulai bisa ditanami. Ladang-ladang baru muncul dan hasil pertanian yang bisa dijual ke kota meningkat. Penduduk sangat senang dengan usaha-usaha Pak Wangsa. Tak ada lagi pemuda-pemuda mabuk begajulan yang nongkrong di warung wine. Kesejahteraan orang-orang kampung juga meningkat. Sejauh ini tak ada yang tahu kalau uang Pak Wangsa dari telur angsa. Setahu mereka Pak Wangsa rajin berderma setelah majunya perdagangan istrinya yang setiap hari berjualan kain di kota.

^_^

Masih ada satu cita-cita Pak Wangsa yang belum kesampaian, yaitu membuat waduk besar di selatan desa yang dikelilingi bukit-bukit. Waduk itu akan mengubah padang gersang dan tandus di wilayah ini menjadi tanah pertanian yang subur dan makmur. Jika hanya membuat parit-parit irigasi maka masih ribuan hektar tanah yang tidak akan tersentuh air sampai puluhan tahun yang akan datang.

Namun untuk mewujudkan itu Pak Wangsa membutuhkan uang tak kurang dari 10.000 keping dinar emas. Jumlah yang tidak sedikit dan membutuhkan 1000 butir telur emas untuk mendapatkannya. Artinya Pak Wangsa harus menunggu 1000 hari lagi karena angsanya hanya bertelur satu butir sehari.

Bermacam-macam cara telah dipikirkan Pak Wangsa dan keluarganya. Termasuk istrinya yang mengusulkan agar si angsa disembelih saja agar telur-telur dapat diperoleh lebih cepat. Tentu saja Pak Wangsa tidak setuju. Dia tahu persis jika si angsa disembelih tentu di dalam perutnya tidak akan ada satu butir telurpun, bahkan hal itu akan menyebabkan dirinya kehilangan sumber emas.

Usulan dari anaknya lain lagi. Si anak mengusulkan Pak Wangsa mengajak warga untuk bersama-sama membikin waduk. Mereka diminta merelakan tanahnya untuk dibangun waduk agar tanah-tanah tandus di sekeliling desa bisa dirubah menjadi lahan subur bagi semua orang. Telur emas akan dipergunakan untuk membiayai makan dan minum selama mereka bekerja. Dengan cara ini diharapkan waduk dapat diselesaikan walaupun perlahan-lahan.

Pak Wangsa mengesampingkan usulan anaknya itu. Dari pengalamannya sangat sulit mengajak penduduk kampungnya untuk merelakan tanah demi pembuatan fasilitas umum. Untuk pembuatan jalan desa saja perlu waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan mereka agar melepaskan tanah untuk membangun jalan. Itu-pun dengan imbalan uang yang cukup menguras keuangan kampung. 

Lagipula mereka belum tentu percaya kalo Pak Wangsa mampu menggaji selama mereka bergotong royong. Uang dari mana?. Artinya Pak Wangsa harus menceritakan tentang telur angsa emasnya pada masyarakat umum, dan itu dapat mengundang para penjahat untuk mencurinya.

^_^

Setelah sebulan berpikir dan merenung setiap hari, akhirnya Pak Wangsa mendapat ilham untuk menyelesaikan masalahnya. Dia teringat pada seorang saudaranya yang bekerja pada pembesar di Kota Bergota. Si Bangsawan adalah seorang saudagar yang aktifitas bisnisnya membeli rempah-rempah dan timah dari para raja di pulau-pulau di kawasan timur lalu menjualnya kepada para pedagang Arab dan Gujarat kota-kota pelabuhan yang kaya di wilayah barat.

Kapal dagangnya tak kurang dari 50 Jung besar khas pedagang dari Pulau Jawa. Saking besarnya jung-jung miliknya, kapal-kapal itu sering jadi tontonan menarik penduduk di pulau-pulau kecil yang disinggahi. Jung terbesar bisa mengangkut 5000 ton lada sekali jalan. Setelah jung-jung telah penuh muatan dari pemilik kebun rempah-rempah, maka akan bertolak menuju pelabuhan-pelabuhan di kawasan barat seperti Tuban, Bergota, Jepara, Pekalongan, Cirebon, Palembang dan Malaka yang dipenuhi para pembeli dari mancanegara. Sang Saudagar juga memiliki bisnis pos yang melayani pengantaran surat dan barang antar kota-kota pelabuhan besar di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa melalui jalur laut. Kekayaannya sangat melimpah, sehingga uang 10.000 keping dinar emas tidak berarti baginya.

Dari penuturan saudaranya Pak Wangsa tahu bahwa saudagar itu seorang penggemar hewan piaraan. Ada bermacam-macam burung aneh dan langka yang dipelihara di rumahnya. Termasuk beberapa ekor burung unta dan burung cendrawasih yang diperoleh dari rekan bisnisnya di kawasan timur. Dia juga memiliki belasan hewan berkantung yang disebut kangguru. Konon hewan aneh itu diperolehnya dari para pelaut yang sengaja dikirimnya ke sebuah pulau besar di sebelah selatan Laut Bali. Para pelaut diutus ke pulau itu dengan membawa belasan ahli kimia dari Madrasah di Tuban yang hendak  menyelidiki kemungkinan dibukanya pertambangan emas dan timah di sana.

Dia juga dikenal dermawan. Tahun ini dia menyumbangkan tak kurang dari 30.000 buku-buku koleksinya yang berbahasa Arab dan Melayu untuk perpustakaan madrasah tinggi di Tuban. Tahun lalu Si Saudagar menyumbangkan 10 kapal perang Jung Jawa lengkap dengan meriam-meriamnya untuk Syahbandar Bergota. Dia merasa armada laut Kesultanan Demak Bintoro yang menguasai lautan nusantara perlu terus menerus  diperbaharui. Kekuatan Armada Perang inilah yang membuat kehadiran para penjelajah samudra dari Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris tidak menyurutkan dominasi para Pelaut Jawa di Nusantara yang terus terjaga selama masih tegaknya negara maritim di Pulau Jawa.


Maka pada suatu pagi yang cerah Pak Wangsa berangkat ke Kota Bergota untuk menemui Sang Saudagar setelah sebelumnya mengirimkan surat lewat saudaranya. Perlu waktu satu minggu dengan berkuda untuk sampai di rumah saudagar di Bergota yang ternyata menyambut kedatangannya dengan sangat ramah. Setelah bercerita menggebu-gebu tentang keinginannya untuk membangun waduk di kampungnya, Pak Wangsa menawarkan angsanya kepada si Saudagar dengan harga 10.000 keping dinar emas. Sama dengan biaya pembuatan waduk. 

Si Saudagar diam-diam merasa kagum dengan semangat Pak Wangsa membangun kampungnya. Orang ini mirip sekali dengan dirinya yang juga rela mengorbankan hartanya untuk kemajuan negara maritim di Jawa. Maka dia bersedia membantu Pak Wangsa.

Namun sebelum memutuskan membeli angsa, dia merasa perlu meminjamnya selama seminggu  untuk membuktikan kebenaran cerita bahwa si angsa itu mampu bertelur emas. Seminggu kemudian Si Saudagar percaya kebenaran cerita Pak Wangsa dan setuju membayar 10.000 keping dinar emas tunai untuk angsa Pak Wangsa. Bahkan dia mengirimkan pembantu-pembantunya yang ahli ilmu ukur dan ahli rancang bangunan yang pernah berguru langsung pada Koca Mimar Sinan untuk merancang waduk dengan cermat sesuai kondisi topografi wilayah itu.

Akhirnya Pak Wangsa berhasil mewujudkan keinginannya untuk membangun waduk di selatan kampungnya. Setelah waduk selesai dibangun maka daerah-dearah tandus di wilayah itu berangsur-angsur berubah menjadi lahan-lahan subur dengan hasil pertanian yang melimpah ruah dan menjadikan daerah itu salah satu wilayah termakmur di negeri itu. Pak Wangsa sendiri cukup puas dengan tanah pertaniannya yang sekarang bisa ditanami berbagai macam tanaman pangan disamping rumput untuk makanan sapi-sapinya (Undil-2012)

Apr 6, 2012

Cerita Anak: Kancil dan Biri-biri Pemberani

"Seorang pemberani bukanlah orang tanpa rasa takut, tapi orang yang tetap maju walaupun hatinya diliputi ketakutan"

^_^

Dalam kisah Sang Kancil terdampar di kota yang terkepung, diceritakan penduduk kota kelaparan karena telah dikepung musuh selama enam bulan. Kancil mengusulkan sebuah strategi untuk menyelamatkan penduduk kota. Pak Walikota setuju dengan taktik Sang Kancil. Taktiknya adalah melepaskan biri-biri gemuk beserta anak-anaknya ke perkemahan musuh. Tujuannya agar musuh mengira kota memiliki persediaan makanan yang melimpah sehingga hewan peliharaan-pun masih gemuk-gemuk karena diberi makan yang cukup.










Sesaat setelah menemukan biri-biri gemuk yang akan dilepaskan ke perkemahan musuh, Sang Kancil bercakap-cakap dengan induk biri-biri. Si Induk tampak ketakutan saat tahu dirinya bakalan dilepaskan ke perkemahan musuh. Sementara ketiga anaknya tampak riang-riang karena membayangkan bakalan mendapatkan rerumputan segar di luar benteng.

"Aduhai sungguh malang nian nasibku dikirim ke perkemahan musuh, entah jadi sate atau gule nampaknya akhir hidupku ada di dapur mereka"  kata Induk Biri-biri

"Dengar Biri-biri. Jikalaupun kamu bertahan di sini, kamu mungkin hanya menunda beberapa minggu atau mungkin hanya beberapa hari sebelum disembelih tuanmu karena mereka saat ini telah kekurangan makanan"

"Yah, aku tahu. Tapi setidaknya aku masih punya pengharapan"

"Dengan tugas ini pun kamu juga punya pengharapan. Lagipula andainya kamu disembelih kamu mati terhormat sebagai biri-biri yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kota"

"Yah, aku tahu itu. Tapi aku takut sekali. Jauh dalam lubuk hatiku aku ingin sekali berarti sudah itu biarlah aku mati. Tapi keinginanku itu kalah oleh rasa takutku"

"Dengarlah sob. Ketakutan itu ada pada diriku juga. Ada juga di dada panglima perang yang gagah perkasa!. Ada di hati Pak Walikota yang bijaksana, juga ada di diri orang-orang yang sedang terkepung di kota ini!. Musuh bisa melakukan apa saja terhadap diri kita bila mereka menaklukkan kota. Seorang pemberani bukanlah orang tanpa rasa takut, tapi orang yang tetap maju walaupun hatinya diliputi ketakutan!" ujar Kancil

Biri-biri mendongakkan kepalanya. Kemudian dia berdesis mengucapkan kata-kata dengan lirih

"Aku tidak punya pilihan lain kecuali menjadi seekor biri-biri pemberani. Biarlah aku mengikuti semua rencanamu. Que sera sera. Apa yang akan terjadi, terjadilah!"

Sang Kancil menepuk-nepuk pundak biri-biri pertanda salut atas keberaniannya yang mulai muncul. Biri-biri mencoba tetap tabah dan memaksakan diri untuk tersenyum. Sesaat kemudian dia ingat pengharapan yang dijanjikan Sang Kancil

"Ngomong-omong  pengharapan apa yang kau tawarkan padaku?"

"Aku akan memberimu ramuan yang membuatmu memuntahkan isi perutmu dalam tiga jam. Biar mereka menyangka kita masih mampu memberi makan jagung dan gabah pada biri-biri sebagai pertanda kita punya persediaan makanan yang melimpah"

"Jadi mereka tidak perlu menyembelih diriku untuk memeriksa isi perutku?"

"Yah benar. Mereka tak perlu menyembelih dirimu untuk melihat apa yang engkau makan. Mudah-mudahan mereka cukup puas dengan melihat jagung dan gabah yang kau muntahkan"

^_^

Maka biri-biri mengajak anak-anaknya untuk memakan jagung dan gabah yang dihidangkan pada mereka. Dia meminta anak-anaknya untuk makan tanpa ragu-ragu untuk membuat perutnya kenyang. Dia mencoba percaya keberhasilan taktik ramuan yang akan membuat dirinya muntah dalam tiga jam. 

Mudah-mudahan sebelum masa tiga jam itu dirinya tidak keburu disembelih oleh pasukan musuh. Namun jikalau dirinya disembelih-pun misinya akan tercapai. Karena musuh akan mendapati jagung dan gabah saat membelah isi perutnya yang merupakan isyarat bahwa di kota ini ada banyak makanan. Musuh diharapkan mendapatkan kesan bahwa kota yang tengah kelaparan ini memiliki gudang-gudang makanan yang melimpah ruah sehingga membatalkan pengepungan karena menganggapnya sia-sia.


^_^

Nasib baik tergaris bagi si biri-biri. Diberanikannya dirinya untuk berjalan-jalan semakin jauh keluar benteng. Dibiarkan dirinya ditangkap saat berjalan di antara perkemahan musuh. Untunglah Panglima musuh tidak memerintahkan menyembelih dirinya. Dia hanya terheran-heran melihat tubuh gemuk induk biri-biri. Si Panglima tambah terheran-heran lagi setelah si biri-biri memuntahkan gabah dan jagung dari dalam perutnya.

Seperti perkiraan Sang Kancil -- setelah melihat isi perut biri-biri -- Si Panglima langsung menyangka Kota Urban masih punya banyak persediaan makanan yang banyak. Dia  tanpa ragu-ragu memerintahkan pasukan yang mengepung kota untuk mundur dan menghentikan pengepungan Sebuah misi menegangkan yang berakhir manis bagi Si bIri-biri pemberani (Undil-2012). 

gambar diolah dari: www.geekalerts.com


Mar 14, 2012

Dongeng Si Kancil dan Biri-biri di Kota yang Terkepung

Gara-gara jembatan bambu yang ambrol saat diseberangi Si Kancil – hanyutlah dia terbawa arus sungai yang deras sampai berpuluh-puluh kilometer  ke arah pemukiman penduduk. Sambil terus berpegangan erat pada potongan bambu sisa jembatan yang terseret arus air, Si Kancil mengkipat-kipatkan tangannya agar tubuhnya bergerak menepi. Setelah seharian digoyang-gaying aliran air akhirnya dia terhempas ke sebuah lubang di tepi sungai.



Si Kancil yang terdampar di sebuah lorong kecil yang  pas dengan ukuran  tubuh mungilnya itu mau tak mau terpaksa  masuk lebih jauh ke dalam lorong.  Dia tak bisa keluar melalui sungai karena arusnya  terlalu deras. Maka dengan susah payah dia berjalan perlahan-lahan menelusuri lorong. Setelah setengah hari berjalan dalam kegelapan akhirnya  didapatinya  lorong berujung pada sebuah parit kecil persis di tengah sebuah kota. Saat dirinya keluar dari parit tersebut dilihatnya pemandangan penduduk kota yang sangat mengenaskan.

Bocah-bocah, orang  muda, orang tua, laki-laki maupun perempuan nampak bertubuh kurus kering dan lemah lunglai.  Daun-daun pepohonan sudah gundul, bahkan rerumputan-pun jarang Agaknya mereka habis dimakan oleh penduduk kota. Dari cerita orang-orang yang ditemuinya tahulah Si Kancil bahwa Kota  Urban telah dikepung musuh selama enam bulan sehingga tidak ada pasokan makanan dari luar kota.

Seorang lelaki muda yang bertubuh tegap walaupun mulai terlihat kurus menceritakan semuanya kepada Sang Kancil saat mereka bertemu di Balai Kota. Rupanya orang itu adalah Pak Walikota yang saat ini  rambutnya sering berdiri karena  otaknya berpikir keras mencari jalan keluar dari kekurangan pangan. Dia tidak tahu berapa lama lagi  rambutnya akan berdiri  kecuali Si Kancil mampu memberi solusi. Lumbung jagung dan beras di kota sudah sangat menipis. Kini bahan pangan hanya dibagikan  setiap dua hari sekali. Artinya rakyatnya makan sepiring nasi tiap dua hari sekali.

^_^

Tragedi kekurangan pangan ini berawal dari serangan yang dilakukan musuh terhadap Kota  Urban yang kaya raya ini. Rupanya majunya perdagangan Kota  Urban beberapa tahun belakangan ini dianggap membahayakan perdagangan di kota-kota tetangga.  Kemajuan pesat  itu  terjadi setelah walikota lama yang selama ini mengutamakan para pedagang asing tersingkir. Pak Walikota baru memberi perlakuan lebih adil pada pedagang pribumi.  

Kota Urban adalah kota terbesar di wilayah ini tetapi selama ini miskin. Hal itu karena pemerintah kota memberi fasilitas berlebihan pada para pedagang asing sehingga mereka berhasil memonopoli perdagangan. Akibatnya rakyat Kota Urban tetap miskin sementara para pedagang asing menjadi kaya raya. 

Walikota juga mengijinkan komplotan pedagang asing menjual ganja kepada penduduk kota. Dia juga membiarkan mereka memberi jatah ganja gratis kepada para pegawai negeri. Akibatnya pekerjaan para pegawai kota menjadi amburadul karena hari-harinya diisi dengan mabuk-mabukan ganja. Demikian juga dengan penduduk kota, banyak diantaranya menjadi tukang bengong karena mengisi hari-harinya dengan fly akibat menghisap ganja. 

Namun  setelah walikota lama tersingkir maka perlakuan istimewa pada  komplotan pedagang asing dicabut. Akibatnya  monopoli perdagangan  oleh para pedagang asing juga tamat riwayatnya.  Peredaran ganja juga dilarang. Hal itu berakibat perekonomian Kota Urban maju pesat karena penduduknya pada dasarnya memiliki hobby bekerja keras. Kini tidak ada lagi  diantara mereka yang menghabiskan waktu dengan bengong sambil menghisap ganja.  Hari-hari mereka menjadi produktif menghasilkan barang-barang yang laku dijual. Hanya dalam beberapa tahun perdagangan Kota Urban omzetnya jauh melampaui  kota-kota tetangga.  

Sejumlah besar anggota komplotan pedagang asing yang tersingkir merasa sakit hati.  Terutama sindikat penjual ganja. Mereka kehilangan pasar terbesar barang dagangan mereka. Karena itu mereka berusaha keras menyingkirkan walikota baru. Mereka menggunakan taktik pencitraan buruk terhadap Kota Urban. Dengan modal citra buruk itulah mereka akan  membujuk pemerintah-pemerintah kota asal  mereka agar menyerang Kota Urban. Setelah itu mereka bermaksud mengangkat kembali walikota lama agar kepentingan mereka dapat terlayani.  

Mula-mula mereka bersekutu dengan penegak hukum  yang bisa disuap di negeri mereka.  Lalu mereka menyewa para bandit, begal, kecu, maling dan perampok untuk melakukan aksinya di kota-kota mereka sendiri. Para penjahat  akan mendapat imbalan uang dalam jumlah besar jika mau mengaku sebagai teroris  suruhan  Walikota Urban yang ditugaskan untuk membuat kota-kota pesaing tidak aman. 

Para penjahat bayaran itu juga membuat kerusuhan dengan membakar gedung-gedung dan pasar-pasar.  Setiapkali tertangkap mereka mengaku sebagai teroris  yang dilatih Kota Urban.  Kadang-kadang para perampok biasa yang tertangkap -- sengaja dibunuh oleh penegak hukum dan diumumkan ke masyarakat sebagai para teroris. Para grayak kelas teri yang tertangkap dijanjikan keringanan hukuman jika bersedia mengaku  sebagai teroris. 

Aksi-aksi perampok yang mengaku sebagai teroris itu  juga sengaja dibesar-besarkan oleh koran-koran yang dimiliki komplotan pedagang asing sehingga timbullah kebencian umum terhadap penduduk Kota Urban. Mereka menyangka bahwa para  penjahat bayaran itu benar-benar  teroris binaan  Kota Urban. Setelah fitnah itu sukses maka mudah sajalah bagi para pedagang asing untuk membujuk pemerintah-pemerintah kota  menyerang Kota Urban.


^_^

Balatentara musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat tak mampu ditahan oleh pasukan pengawal Kota Urban walaupun persenjataan mereka jauh lebih modern. Ratusan pasukan senapan tidak sanggup menahan puluhan ribu pasukan musuh walaupun musuh hanya bersenjatakan busur panah, tombak dan pedang. Pasukan pengawal kota memutuskan untuk mundur ke dalam Kota Urban yang dibentengi tembok yang tinggi.

Musuh tidak mampu mendekati benteng kota karena pasukan senapan yang berjaga diatas benteng dengan cepat menghujani mereka dengan tembakan peluru-peluru tajam. Sementara musuh hanya bersenjatakan alat perang tradisional tidak mampu menjangkau pasukan senapan yang ada di atas benteng.  Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh musuh adalah mengepung Kota Urban sembari berharap Pak Walikota akan menyerah saat seluruh persediaan makanan habis. 

Sudah enam bulan musuh melakukan pengepungan. Namun belum ada tanda-tanda kota akan menyerah. Balatentara musuh yang mengepung sudah mulai gelisah. Mereka heran mengapa Kota Urban mampu bertahan selama itu tanpa pasokan makanan.

Sementara tanpa diketahui oleh para pengepungnya, kondisi Kota Urban sangat menyedihkan. Kekurangan bahan makanan maupun obat-obatan terjadi di seluruh kota. Kini mereka hanya bertahan dengan mengandalkan lumbung padi dan jagung yang sudah mulai menipis. Daun-daunan, tumbuhan, batang tanaman dan umbi-umbian telah mulai dikonsumsi penduduk kota karena jatah makanan yang dibagikan sangat sedikit. Akibatnya jumlah tanaman di kota ini juga telah menyusut dan tidak lama lagi akan ludes.

Sang Kancil yang sepakat akan membantu mengatasi kepungan musuh akhirnya menyarankan suatu strategi pada Pak Walikota. Setelah seharian berdiskusi panjang lebar  dengan Pak Walikota akhirnya beliau menyetujui mencoba taktik Sang Kancil, 

Untuk menjalankan strategi Sang Kancil -- Pak Walikota  harus menyediakan biri-biri yang gemuk beserta anak-anaknya. Setelah seharian dicari-cari di seluruh penjuru kota akhirnya didapatkanlah seekor biri-biri yang gemuk dengan tiga ekor anaknya yang tak kalah gemuk karena mereka dikandangkan di dekat mata air yang penuh lumut. Berkat memakan lumut-lumut yang menempel di bebatuan sekitar matair itulah para biri-biri itu tetap gemuk.


Kemudian Sang Kancil minta keluarga biri-biri itu diberi  makan biji-biji jagung dan gabah-gabah kering. Tentu saja Pak Walikota harus bekerja keras meyakinkan penjaga gudang agar bersedia mengeluarkan persediaan makanan yang sudah menipis untuk diberikan pada biri-biri. Sengaja biri-biri  induk beranak diberi makan banyak-banyak sampai perutnya penuh dengan biji-bijian tersebut.  Si Kancil lalu membuat ramu-ramuan khusus yang bikin muntah untuk induk biri-biri.  Ramu-ramuan itu baru akan bekerja tiga jam setelah diminumkan.

Rombongan biri-biri gemuk itu kemudian dilepaskan oleh Sang Kancil keluar dari benteng kota. Maka hewan-hewan  itu dengan suka cita berlarian ke sana kemari melihat rerumputan yang masih tumbuh subur di luar benteng. Tanpa terasa rombongan biri-biri itu semakin jauh dari benteng dan memasuki perkemahan musuh.

Beberapa prajurit penjaga musuh memergoki biri-biri induk-beranak itu dengan pandangan heran. Bagaimana mungkin sebuah kota yang telah dikepung selama berbulan-bulan masih memiliki biri-biri segemuk ini. Maka ditangkaplah biri-biri itu oleh para prajurit penjaga dan dibawanya pada panglima musuh.

Sang Panglima musuh tak kalah herannya melihat biri-biri yang gemuk itu. Disangkanya di kota yang tengah dikepungnya itu terdapat gudang-gudang besar tempat menyimpan rerumputan sehingga makanan biri-biri tercukupi. Kalau ada gudang rumput – mungkin ada juga gudang beras dan jagung yang besar untuk seluruh penduduk kota pikirnya.

Diam-diam Panglima musuh mulai bimbang harus berapa lama lagi dia melanjutkan pengepungan. Sementara sebagian pasukan sekutunya sudah mulai ingin menarik diri karena merasa terlalu lama melakukan pengepungan dan menganggapnya sebagai pengepungan yang sia-sia karena tak jelas kapan akan berakhir. Apalagi berita baru tentang para teroris yang sebenarnya adalah penjahat sewaan komplotan pedagang asing telah mulai menyebar di kalangan pasukan sekutu. Berita itu membuat semangat  tempur mereka merosot drastis karena merasa mereka bertempur demi membela kejahatan. Bila mati dalam pertempuran mereka sudah dapat mengira-ngira nasib buruk mereka di hari pembalasan.

Ditengah kebimbangan tersebut Si Panglima kaget melihat induk biri-biri batuk-batuk dan kemudian mulai memuntahkan isi perutnya. Rupanya ramuan Sang Kancil telah bekerja. Dalam waktu singkat biri-biri telah memuntahkan semua biji-biji jagung dan gabah yang memenuhi perutnya. Si Panglima musuh terpana saat mengenali makanan yang dimuntahkan biri-biri. Bagaimana mungkin kota yang telah terkepung masih mampu memberi makan biji-biji gabah dan jagung pada hewan. Pastilah itu karena mereka punya persediaan makanan yang sangat banyak.

Kini Panglima musuh tak ragu-ragu lagi. Dia menganggap pengepungan ini adalah sia-sia. Kota itu memiliki jumlah makanan yang melimpah ruah. Pengepungan yang berlarut-larut ini tidak akan ada hasilnya. Maka hari itu juga diputuskan olehnya untuk menarik mundur semua pasukannya.

^_^

Melihat musuh menarik mundur semua pasukannya – penduduk kota bersuka cita, Mereka berduyun-duyun datang pada Sang Kancil untuk mengucapkan terimakasihnya. Pak Walikota memberi penghargaan warga kehormatan kota kepada Sang Kancil.  Rambutnya sudah tidak berdiri lagi karena masalah kota telah dapat teratasi. Pintu gerbang kota telah dibuka kembali, para pedagang dapat membeli beras dan gandum lagi untuk dijual ke dalam kota. Pengepungan telah berakhir, penduduk kota kini dapat hidup normal seperti sediakala (Undil-2012).

gambar diambil dari scenicreflections.com

Mar 7, 2012

Cerpen Si Kancil Merayu Singa Barong

Alkisah Si Kancil sedang  apes ketika pada suatu sore saat sedang menyelidiki batu-batuan vulkanik dia terpergok oleh Singa Barong yang terkenal bertingkah laku sopan  tapi sangat buas terhadap binatang-binatang pemakan tumbuhan seperti Si Kancil.  Kali ini Si Kancil terpojok pada sebuah dinding bukit batu yang terjal tanpa dapat lari lagi. Singa Barong pelan-pelan menghampirinya dengan gayanya yang anggun seraya berkata:

“Tuan Kantjiel, ini hari sudah gelap. Tidak seharusnja binatang merumput seperti Tuan masih berkeliaran di luar rumah!  Sebutkan alasan Tuan masih berada diluar rumah! Bila dapat Saja mengerti,  maka Tuan akan Saja biarkan pergi! Tapi bila tidak masuk akal maka Tuan akan Saja makan














Sebagai sosok kutu buku yang berpengetahuan luas Kancil tahu persis sifat-sifat  Singa Barong yang dibeberkan panjang lebar pada Kitab Psikologi Carnivora yang dibacanya beberapa tahun silam. Jawaban apapun yang mucul dari mulut Kancil akan dibantah Singa Barong  yang ingin memangsanya. 

Singa Barong hanya sekedar cari-cari alasan saja untuk pembenar dirinya akan  memangsa hewan yang lebih lemah fisiknya seperti Si Kancil. Jadi jawaban tidaklah penting. Langkah yang perlu dilakukan sekarang adalah mempergunakan khazanah ilmu pengetahuan dari buku-buku yang pernah dibacanya untuk merayu Singa Barong agar mengurungkan niatnya memakan Kancil.

“Singa Barong, aku dengar aumanmu sekarang berubah jadi sangat merdu setelah kamu berlatih menyanyi pada burung beo?”  kata Si Kancil mencoba mencari sesuatu yang menarik buat Singa Barong.


Ternyata pilihan topik pembicaraan Sang Kancil tepat sasaran. Singa Barong yang sangat bangga dengan auman yang dianggapnya sangat merdu -- mendadak menjadi sangat senang mendengar pujian Si Kancil. Untuk sejenak dia lupa akan keinginan dirinya memangsa daging Kancil. Dia sangat tertarik mendengar Si Kancil menyebut-nyebut keindahan aumannya.

“Benar sekali Tuan Kantjiel. Saja telah berlatih keras selama satu tahun pada burung beo, dan kini Saja memiliki auman jang boleh dikata tidak akan mengetjewakan pendengarnja” kata Singa Barong dengan hati berbunga-bunga. Tentu saja Si Kancil tambah pede untuk membujuk Singa Barong yang kelihatan sangat tertarik dengan topik pembicaraan.

“Tidak inginkah aumanmu didengar oleh para binatang hutan dengan seksama dan penuh kekaguman?. Tidak inginkah dirimu menjadi pelantun auman yang digemari oleh para penghuni hutan? Aku bisa membuatkan partitur auman istimewa buatmu!”  tanya Kancil langsung to the point menawarkan keuntungan yang akan diperoleh Singa Barong bila bersedia  mengeksplorasi aumannya.

“Mauuuuuuu! Mau banget!!!  Saja ingin sekali mereka mendengarkan Saja mengaum dengan komposisi partitur ciptaan Tuan, sehingga mendjadi sebuah njanjian yang merdu untuk seluruh penghuni hutan!” kata Singa Barong penuh antusias. Singa Barong yang selama ini memendam rasa kesepian karena dijauhi para penghuni hutan sangat berharap auman indahnya akan membuat dirinya lebih dekat dengan mereka.

Sementara Si Kancil juga berlega hati. Dirinya telah berhasil  membujuk Singa Barong untuk melupakan daging kancil yang gurih dan menggantinya dengan mengekplorasi aumannya yang diharapkan akan menghibur penghuni hutan. Kini tiba saatnya Si Kancil membujuk Singa Barong ke tahap berikutnya, yaitu meninggalkan kebiasaan makan binatang-binatang hutan dan beralih menjadi penyantap ikan yang melimpah di sungai di pinggir hutan.

“Dengar Singa Barong! Saat ini para binatang hutan takut mendengar aumanmu! Mereka pada lari terbirit-birit karena takut kau mangsa!. Jadi kalau dirimu mau didengar oleh mereka semua,  harap berhentilah memakan binatang hutan!  Beralihlah menyantap ikan yang melimpah ruah di sungai. Ibaratnya dirimu cukup membuka mulut, mereka akan masuk sendiri saking banyaknya!” kata Si Kancil.

Sejenak Singa Barong merenungkan kata-kata Si Kancil. Dipikirkan untung rugi bila dirinya beralih dari menyantap binatang hutan menjadi menyantap ikan-ikan penghuni sungai. Kalau dipikir-pikir ternyata usulan Kancil memang lebih menguntungkan bagi dirinya. 

Dia tidak perlu susah-payah berburu binatang hutan yang makin lama terasa makin lincah dan susah ditangkap. Dia juga tidak akan dimusuhi oleh mereka, bahkan mungkin sebagian dari mereka bakalan menjadi penggemar aumannya. Itu membuka kemungkinan sebagian mereka akan menjadi sahabat dekat tempat berbagi suka dan duka -- sesuatu yang selama ini tidak dia miliki. Dengan semua alasan tersebut Singa Barong setuju dengan permintaan Sang Kancil. Sejak saat itu Singa Barong berhenti memakan daging binatang hutan dan beralih menyantap ikan-ikan penghuni sungai yang mengalir di pinggir hutan (Undil -2012).

Gambar Singa berbaring karya Rembrandt diambil dari en.wikipedia
     

Jan 22, 2012

Cerita Lucu tapi bukan Si Kancil Mencuri Ketimun

Alkisah Sang Kancil sedang berlatih main teater untuk sebuah pertunjukan besar di Hutan Utopia. Kali ini Sang Kancil harus memerankan Raja Kucing,  yang menjadi tokoh utama dalam pentas itu. Selama sebulan penuh Sang Kancil berguru kepada keluarga kucing anggora agar dapat memerankan Raja Kucing dengan sempurna.



Setelah dirasa cukup berlatih di keluarga kucing anggora, Sang Kancil memutuskan untuk mencoba memerankan kucing di kehidupan nyata. Maka dia berdandan sebagai kucing anggora dan turun ke kampung untuk berperan sebagai kucing di lingkungan manusia.
    
Rumah yang dimasuki oleh Sang Kancil berpenghuni keluarga muda yang baru memiliki bayi kecil bernama Reza. Dia adalah bayi umur 4 bulan yang baru bisa nangis owek owek. Mama Majda Yulianingrum baru kali ini punya bayi, sehingga belum tahu banyak tentang seluk beluk anak bayi.  Kancil masuk rumah sebagai seekor kucing kelabu yang kelaparan dan hendak mencari makan.

Kucing Kancil terus menerus bersuara eow-eow tanpa satu pun penghuni rumah yang tahu maksudnya, kecuali Reza.  Bahasa yang dipergunakan Reza yang owek-owek itu ternyata mirip dengan bahasa kucing yang baru saja dipelajari Sang Kancil.  Jadilah dua makhluk itu dapat nyambung ngobrolnya.

 “Owek-owek”

“Eow-eow”

“Owek-owek-oweek”

“Eow-Eow-Eoooow”

Dua makhluk itu ngobrol dengan seru sampai Mama Majda  bingung karena dikira anaknya nangis terus gak berhenti-berhenti. Padahal sebenarnya Reza sedang mengobrol dengan Kucing Kancil. Mama heran karena sudah dicek Reza tidak ngompol dan tidak pup. Saat diberi nenen juga tidak mau. Jadilah Mama pusing tujuh keliling, akhirnya Reza kembali ditaruh ke dalam box bayi.

Setelah Reza ditaruh ke dalam box bayi, Si Kucing Kancil mendekati Reza untuk melanjutkan obrolan mereka.

“Yi Bayi, aku lapar banget nih. Kamu punya timun gak untuk kumakan?”

“Timun itu kaya apa bentuknya?”

“Itu loh, buah yang bentuknya lonjong panjang, dan kulitnya warnanya hijaur”

“Wooo yang kalo dibelah warnanya merah itu yah?”

“Bukaaaan!  Itu mah semangka namanya. Timun itu yang suka dimakan bareng ayam goreng”

“Ayam goreng itu bentuknya kayak apa?”

“Itu loh yang kalo ditaruh di atas piring ada kaki, sayap dan kepalanya?”

“Woooo ayam goreng itu yang warnanya coklat yah?

“Betul yi”

“Aku tahu sekarang. Timun itu yang suka diiris-iris Mama untuk dimakan setelah makan ayam goreng yah?”

“Betul sekali. Punya gak dirimu?”

“Ada banyak di meja makan. Tapi aku belum bisa ngambilin nih. Aku juga belum bisa bicara pada mamaku. Mama gak mengerti dengan bahasaku. Gimana dung caranya ambil timun buatmu?”

“Udah gini aja. Kamu menangislah sekeras mungkin sampai digendong lagi sama mama kamu. Ntar klo kamu digendong sampai dekat meja makan, tanganmu tunjuk-tunjuk saja ke timun biar diambilin”

“Klo udah diambilin lalu diapain timunnya?”

“Dijatuhin ke lantai di depanku. Nanti aku akan bersuara  eow-eow sambil menyundul-nyundul kaki mamamu”

“Betul juga yah. Kamu pintar sekali Cing”

Kucing Kancil senyum-senyum sendiri karena senang sekali dikira kucing beneran oleh Reza, artinya aktingnya sebagai Raja Kucing saat pementasan nanti bakalan berhasil.

^_^

Seperti skenario Kucing yang sebenarnya adalah Sang Kancil -- Mama Majda cepat-cepat menggendong anaknya saat mendengar suara tangis Reza melengking tinggi. Karena tangisan Reza gak juga berhenti, Mama membawa Reza jalan-jalan keluar kamar. Saat mama berdiri di dekat meja makan tangan Reza menunjuk-nunjuk tumpukan timun di atas piring. Mama dengan cepat mengambilkan seekor timun, biar Reza berhenti menangis. 

Namun setelah timun dipegang Reza, tiba-tiba timun dijatuhkan ke depan kucing yang sedang berada di bawah sambil menyundul-nyundul kaki mama. Mama kaget dengan perbuatan Reza, tapi kemudian tertawa senang melihat ada seekor kucing yang menyantap timun yang dijatuhkan. “Wah anakku pintar sekali, masih bayi udah bisa ngasih makan kucing” ujarnya dengan bangga.

Namun kemudian setelah berpikir sejenak, Mama Majda jadi terheran-heran meilhat Kucing Kancil makan timun. “Mungkin kucing ini udah dibiasakan makan timun sama pemiliknya jadi dia enak aja menyantap ketimun. Wah aku gak boleh kalah sama kucing niy, aku harus lebih rajin makan sayur-sayuran”  pikir Mama.

Hari itu Sang Kancil cukup puas dengan aktingnya sebagai seekor kucing. Sampai saat dia kembali ke Hutan Utopia bayi Reza dan Mama Majda Yulianingrum tidak mengenali dirinya sebagai seekor kancil (Undil-2012)

gambar diambil dari : vincentvangoghgallery.org

tags: cerita lucu, cerita pendek,cerpen, dongeng sang kancil, 

Nov 18, 2011

Dongeng Sang Kancil vs Suku Penjarah

Berita tentang sepak terjang Suku Pongpongbolong sudah meluas sampai ke hutan-hutan di sekitar Laguna Biru. Suku Pongpongbolong adalah sekelompok orang kurang terpelajar yang kerjanya merambah hutan, menebangi kayu-kayunya dan membakar sisanya. Mereka juga memburu binatang-binatang hutan untuk diambil kulitnya atau diawetkan untuk dijual.

Begitu mereka berhasil memasuki sebuah hutan mereka akan merusaknya, mengaduk-aduk tanahnya untuk mencari logam mulia dan meninggalkannya setelah tidak ada pohon, hewan dan barang berharga yang tersisa untuk dijarah. Tak heran mereka sukses merubah hutan-hutan lebat menjadi padang tandus, kering dan berantakan.



Kengerian akan sepak terjang mereka semakin bertambah saat kelompok penjarah itu mulai mampu membeli senapan dan mesiu untuk memperlancar aksi penjarahan hutan. Perlawanan dari kawanan Macan dan Gajah yang mengamuk  menjadi tidak ada artinya di hadapan terjangan timah panas. Senapan-senapan itu membuat mereka tak mampu dilawan para binatang. Karenanya Suku Pongpongbolong sangat ditakuti oleh para penghuni hutan.   

Binatang penghuni Hutan Utopia di seberang selatan Laguna Biru sudah mulai resah mendengar kabar kedatangan suku Pongpongbolong di hutan cemara sebelah utara Laguna. Mereka telah mendirikan tenda-tenda di tepi Laguna. Sebentar lagi makhluk-makhluk penjarah itu akan menebangi pohon cemara untuk membuat rakit-rakit guna menyeberangi Laguna menuju Hutan Utopia yang sangat subur dan kaya aneka ragam kekayaan hutan. Sebuah hutan impian bagi Suku Pongpongbolong untuk dijarah sampai tandas.

^_^

Ratusan penghuni Hutan Utopia telah berkumpul di depan rumah Sang Kancil untuk meminta nasehat-nasehat menghadapi kedatangan Suku Pongpongbolong. Sang Kancil yang dikenal oleh para penghuni hutan sebagai binatang paling kutu buku sehutan raya adalah satu-satunya harapan mereka. Si gudang ilmu pengetahuan nampak keluar dari rumahnya, memakai syal sambil berjalan terhuyung-huyung dipapah dua ekor gajah yang menjadi asistennya . Rupanya dia sedang sakit flu berat.

“Maafkan aku sedang sakit, tidak bisa lama-lama berada di luar rumah” ujar Sang Kancil

“Temui kami sebentar saja. Kami hanya minta nasehat cara menghadapi para penjarah Suku Pongpongbolong dengan ilmu pengetahuan & kebijaksanaan yang kau pelajari selama ini”

“Dengarlah ini kunci kemenangan kalian. Mereka orang-orang bodoh yang malas belajar dan pendek akalnya. Mereka yang hanya bisa menjarah hutan dan merusaknya tanpa kesadaran untuk memeliharanya atau memanfaatkan untuk hal-hal lain seperti bercocok tanam atau memelihara ternak. Kalian harus menggunakan hasil pemikiran bersama untuk mengalahkan mereka” kata Sang Kancil

“Ajarkan pada kami satu taktik melawan mereka. Kami akan berunding untuk mencari cara-cara tambahan untuk mengalahkan mereka” kata Beruang Madu selaku wakil para binatang.

Para binatang tahu bahwa Sang Kancil paling tidak suka mendiktekan cara menyelesaikan suatu masalah. Dia hanya mau memberi beberapa petunjuk, selanjutnya para binatang harus mendiskusikan di antara mereka untuk mendapatkan cara terbaik mengatasi suatu masalah. Sang Kancil berpandangan bahwa hasil pikiran ratusan binatang akan lebih baik dibanding hasil pikirannya seorang diri. Karena itulah dia enggan mengajarkan pemecahan masalah secara utuh dari A sampai Z.

“Baiklah aku ajarkan satu cara. Namun kalian harus berunding guna melengkapinya agar menjadi satu taktik yang hebat untuk mengalahkan mereka”


“Setuju Sang Kancil, kami akan berdiskusi untuk mendapatkan cara mengalahkan mereka” teriak Beruang Madu dengan mata berbinar-binar karena berharap mendapat taktik yang jitu dari Sang Kutu Buku.

“Dengarlah teman-teman. Suku Pongpongbolong itu bodoh. Mereka malas mempelajari fenomena-fenomena alam. Mereka tidak tahu banyak tentang sifat-sifat suara. Kita manfaatkan kelemahan mereka itu. Kita akan menakut-nakuti mereka dengan menjatuhkan guci-guci ke jurang besar di mulut hutan. Guci-guci tersebut aku rancang untuk memberikan suara yang sangat keras saat pecah di dasar jurang. Aku telah menelitinya selama bertahun-tahun di laboratorium. Saat guci-guci itu pecah, dinding-dinding jurang akan memantulkan suara yang sangat dahsyat dan menakutkan bagi orang-orang yang tidak tahu bahwa suara tersebut berasal dari gema suara di dinding-dinding batu” kata Sang Kancil

“Setujuuuuu….. Hore kita akan mengalahkan mereka” teriak para penghuni hutan.

^_^

Maka mulai hari itu ratusan penghuni hutan sibuk membuat guci-guci sesuai rancangan Sang Kancil. Mereka juga berdiskusi tentang cara mengalahkan para penjarah hutan. Maka diputuskan untuk mengirim pasukan lebah dan semut ngangkrang saat Suku Pongpongbolong telah mendarat dari rakit-rakit mereka.

Mereka juga mempersiapkan kawanan gagak untuk berkaok-kaok di dasar jurang bersamaan dengan dijatuhkannya guci-guci agar biar memberikan efek suara yang lebih menakutkan bagi para penjarah hutan. Tak  lupa kawanan binatang itu mempersiapkan tumpukan kayu di balik sebuah bukit di tengah hutan untuk dibakar agar menimbulkan asap yang tebal.

Seperti yang telah direncanakan, saat ratusan kawanan Suku Pongpongbolong mencapai seberang Laguna, mereka langsung disambut oleh sengatan ribuan lebah.  Ketika mereka berhasil mengusir serbuan lebah dengan api dari  obor-obor yang mereka nyalakan, tiba-tiba datang ribuan semut ngangkrang mengigiti kaki mereka.  Bersamaan dengan itu terdengar suara dentuman-dentuman dahsyat dari arah hutan disertai asap yang membubung tinggi dari bukit yang menjulang di tengah hutan.

Para penjarah Suku Pongpongbolong sangat takut mendengar suara-suara berdentum-dentum sangat keras dari dalam hutan. Awalnya mereka menyangka ada raksasa sedang terbatuk-batuk di dalam hutan. Namun saat mereka melihat asap membubung tinggi dari atas bukit, mereka langsung mengira tengah terjadi letusan gunung api dari dari dalam hutan. Maka mereka memilih mengambil langkah seribu karena takut terkena terjangan lava pijar gunung api.

Di pagi yang cerah itu para penghuni hutan menyaksikan suku penjarah yang sangat ditakuti itu tiba-tiba menjadi sekelompok cecurut penakut yang lari terbirit-birit kembali ke atas rakit untuk pergi sejauh-jauhnya dari Hutan Utopia. Para binatang bersorak sorai melihat musuh mereka lari terkencing-kencing. Hutan Utopia akan kembali aman dari ancaman penjarahan. Mereka sangat senang memiliki Sang Kancil selaku kutu buku yang nasehatnya sangat ampuh untuk menaklukan musuh. Namun mereka juga sangat bangga dengan ide letusan palsu gunung api. Sungguh suatu ide cemerlang yang muncul begitu saja saat diskusi di antara mereka (Undil – 2011).

tags: dongeng sang kancil, cerita kancil, cerita anak, cerita pendek, cerpen, cerita manajemen

gambar diambil dari : paintinghere.com
   

May 9, 2011

Dongeng Sang Kancil dan Sekawanan Gajah

“Blusukkkk krik krik krik....byuuurrr!!!!” Sang Kancil tiba-tiba terperosok ke dalam sebuah sumur tua tatkala sedang berada di tepi hutan saat dalam perjalanan menuju Pantai Samas. Kabut masih tebal saat itu sehingga sumur tersebut tidak terlihat oleh Sang Kancil. Rupanya itu adalah sumur peninggalan Tarzan yang telah lama meninggalkan tempat itu untuk menjadi Tarzan Kota.



“Aduh biyuuungg, kakiku sakit buangeeet!” teriak Sang Kancil yang tubuhnya hanya kelihatan kepalanya karena terendam air -- sambil mulutnya nyengir-nyengir menahan sakit. Meskipun dirinya terjatuh di air, karena air sumur tak seberapa dalam maka kakinya terasa nyeri yang hebat akibat benturan. Lalu dengan terpincang-pincang Sang Kancil berenang menepi dan duduk di batu besar yang menyembul di tepi sumur.

Sang Kancil termenung memikirkan nasibnya. Sumur ini ada di tepi hutan. Jarang sekali ada binatang yang berani bepergian sampai ke tepi hutan. Paling-paling sekawanan Gajah yang sedang menjajaki rute baru, kawanan Babi Hutan yang hendak mencari jagung atau Serigala yang sedang mencari-cari makanan tambahan karena sudah bosan dengan makanan yang ada di dalam hutan. Itu artinya dirinya harus lama menunggu sampai ada binatang yang menemukan dirinya di dalam sumur.

Setelah tiga hari tiga malam terjebak, pada hari keempat barulah muncul sekawanan Babi Hutan yang melongok dari bibir sumur. Mereka kehausan dan sedang mencari-cari sumber air minum yang memang jarang ada di tepi hutan itu. Sang Kancil berteriak kegirangan melihat Babi Hutan.

“Woooiiii beib, bantu aku keluar dari sini duuuuuuung!!!” teriaknya sekuat tenaga.

Tapi alih-alih menolong Sang Kancil, para Babi Hutan malahan lari terbirit-birit mendengar suara menggelegar dari dasar sumur. Dikiranya ada monster penunggu sumur yang akan memakan mereka.

Sang Kancil kesal bukan main. Dianggapnya para Babi Hutan itu sungguh terlalu takut pada bayangan monster dalam pikiran mereka sendiri. Mereka terlalu percaya pada cerita-cerita monster sehingga apa saja yang aneh dan menakutkan langsung dianggap monster.


Pada hari kelima muncul lagi seekor binatang lain. Kali ini datang seekor keledai yang baru saja meloloskan diri dari majikannya. Dengan hati riang senang-senang dia bersiul-siul menyusuri tepi hutan. Sampailah dia di bibir sumur tempat Sang Kancil terperosok. Tentu saja dia haus dan penasaran, apakah bisa minum dari sumur tersebut. Belajar dari pengalaman ketakutan para Babi Hutan, kali ini Sang Kancil tidak berteriak. Dia hanya menyapa pelan pada Keledai yang tengah melongokkan kepala.

“Wahai teman, Tolonglah aku. Aku terperosok di dalam sumur tanpa bisa keluar lagi” kata Sang Kancil.

Keledai melihat sejenak ke dalam sumur dan terheran-heran mendengar suara dari dalam sumur. Kemudian dia mengamat-amati dasar sumur, barulah dilihatnya Sang Kancil yang sedang duduk lemas di atas batu. Tiba-tiba Keledai tertawa terbahak-bahak. Si Keledai tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai berguling-guling di atas tanah.

“Hohohoho...bukankah kamu itu Kancil yang terkenal cerdik itu??. Gunakan otakmu yang katanya hebat itu! Atau kecerdasanmu itu berita bohong belaka sehingga kamu masih butuh bantuanku? Uruslah sendiri nasibmu!. Aku tak punya banyak waktu untuk menolongmu!. Lagipula waktu aku jadi peliharaan majikanku, tak ada seorang pun yang peduli. Kini giliranmu dicuekin....Hahahahahaha. Sorry yah!” kata Keledai sambil berlalu dengan masih ketawa ngikik.

Sang Kancil kembali ditinggal seorang diri di dalam sumur. Pada hari keenam muncullah sekelompok orang membawa pedati yang beristirahat di tempat itu. Mereka mendirikan tenda-tenda dan mulai memasak. Nampaknya mereka adalah kafilah pedagang yang sedang mampir beristirahat.

Saat terdengar suara-suara orang berteriak-teriak gaduh karena berhasil menangkap seekor keledai yang lepas, tahulah Sang Kancil bahwa keledai yang kemarin menertawakan dirinya itu masih berkeliaran di sekitar sumur dan tertangkap kembali oleh tuannya. Sungguh malang nasibnya.

Sang Kancil menyadari bahwa dirinya juga harus menghindar dari tangkapan mereka. Maka cepat-cepatlah dia masuk ke sebuah rongga yang ada di dinding sumur dan bersembunyi di situ karena takut ditangkap dan dijadikan sate kancil yang tersohor kegurihannya.

Untunglah para pedagang itu jarang melongok ke dalam sumur sehingga tidak memergoki Sang Kancil. Mereka hanya sesekali saja pergi ke sumur itu untuk mengambil air dengan ember yang diikat dengan tali. Air itu dipergunakan untuk memasak, mencuci dan mandi. Keesokan harinya mereka telah meninggalkan tempat itu. Dari suara-suara mereka, tahulah Sang Kancil bahwa para pedagang itu membuang ember bertali di dekat sumur karena dianggapnya sudah usang.

Pada hari ketujuh muncullah sekelompok gajah yang melintas di dekat sumur. Mereka meneliti dasar sumur karena kehausan. Tak sengaja terlihat oleh mereka Sang Kancil tengah tertidur di sana. Para Gajah itu saling berbisik membicarakan binatang yang tengah terbaring di dasar sumur. Kemudian mereka berteriak memanggil Sang Kancil.

Sang Kancil kaget oleh teriakan para Gajah dan terbangun. Dilihatnya ada beberapa kepala gajah menyembul di bibir sumur. Diam-diam dia sedang berpikir keras cara minta bantuan mereka untuk keluar dari sumur. Akhirnya dia memutuskan untuk membantu para Gajah, baru kemudian minta tolong pada mereka. Memberi dulu baru kemudian menerima pertolongan.

“Wahai Gajah kita adalah sobat yang harus tolong menolong” kata Kancil.

Para Gajah mengangguk-angguk sambil bergumam tanda setuju. Mereka tak sadar jika Sang Kancil berada di dalam sumur karena terjatuh.

“Aku tahu kalian kehausan. Aku akan membantu kalian mengambil air dari dalam sumur. Coba lihat adakah ember dan tali yang diletakkan di dekat sumur. Kemarin kudengar para kafilah membuang ember beserta talinya karena sudah punya ember baru. Walaupun butut ember itu masih berguna bagi kalian. Turunkan ember ke dalam sumur, pegang ujung talinya. Aku akan membantumu menciduk air sumur” teriak Sang Kancil.

Para Gajah yang tengah kehausan dengan antusias mencari-cari barang yang disebutkan Sang Kancil. Sampai akhirnya mereka menemukan tak jauh dari bibir sumur tergeletak ember butut yang diikat dengan tali yang tak kalah bututnya dan penuh sambungan. Kemudian mereka menurunkan ember ke dalam sumur. Sang Kancil membantu menciduk air dan menyuruh gajah menarik ember yang sudah terisi air ke atas.

Begitulah berulang kali air diambil dari dasar sumur. Dengan girangnya para Gajah bergantian minum dan mandi dari air dalam ember yang diambil dari dalam sumur. Maklum sudah dari kemarin mereka kesulitan mencari sumber air. Setelah semua Gajah selesai mandi, barulah Sang Kancil berteriak untuk minta dikeluarkan dari dasar sumur.

Merasa Sang Kancil telah membantu mereka mendapatkan air, para Gajah dengan senang hati membantu Sang Kancil keluar dari dasar sumur. Sang Kancil berpegangan erat pada ember saat dia ditarik keluar dari dasar sumur.

Para Gajah serta merta mengerumuninya dan bertanya-tanya mengapa Sang Kancil bisa berada di dasar sumur. Tadinya mereka mengira Sang Kancil sengaja berdiam diri di sana. Kemudian Gajah-gajah itu membawakan berbagai macam pucuk daun muda dan buah-buahan untuk Sang Kancil yang terlihat begitu lemah sehingga sulit berjalan.

Setelah satu malam menginap di tempat itu dengan dijagai para Gajah, Sang Kancil merasa dirinya cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai selatan samas untuk bertemu dengan keluarga Paus biru. Keluarga mamalia laut raksasa itu mengundang Sang Kancil untuk mengajari mereka tentang perubahan angin, cuaca dan iklim di Samudera Hindia agar mereka tidak terdampar di pantai yang dangkal karena kesalahan memperkirakan sifat-sifat lautan. 

Kancil berterimakasih pada para Gajah yang telah membantunya. Para Gajah juga merasa sangat berhutang budi pada Sang Kancil yang telah memberi tahu teknik sederhana mengambil air dari dalam sumur. Sengaja mereka membawa ember butut bertali ke rumah mereka di tengah hutan. Di sana terdapat sumur yang tidak pernah dimanfaatkan karena para Gajah tidak tahu cara mengambil air dari sumur yang dalam (Undil-2011).


Gambar diambil dari http://urdustar.com

tags: mengenal diri, mengenal orang lain, cerita manajemen, cerita pendek, cerpen, cerita kancil, cerita pendek, cerita binatang, dongeng kancil dan gajah, cerita anak   


Cerita lain:
Dongeng Pak Wangsa dan Angsa Bertelur Emas
Cerita Kancil dan Biri-biri Pemberani 

Rahasia Puaskan Istri Anda

Tags

Abu Nawas (29) Amazing (27) Anak Kecil (33) Aneh Dan Unik (28) BB++ (57) CERITA LUCU (181) CERITA LUCU DEWASA (84) Cerita (47) Cerita lucu abu nawas (38) Cerita ngocol (76) Cewe Cowo (64) Dokter (66) English Joke (32) English Jokes (57) Five story (24) Gallery (20) Gambar (89) Gambar Plesetan (315) Gambar n Foto Lucu (52) Guru (102) HP (40) Heboh (105) Hot Spot (34) Humor Dewasa (117) Humor Indonesia (70) Humor Umum (112) Humor and Jokes (87) Iklan Kocak (46) Indonesian Jokes (70) Info (130) Istri (75) Keren (49) Kesehatan (28) Kisah Abu Nawas (66) Komik (299) Komik Mahasiswa (123) Komik dewasa (30) Kumpulan Cerita Humor Dewasa Lucu (118) Kumpulan SMS Humor Lucu (40) Lucu (389) Mahasiswa (37) Maho (61) Mengenal Diri (58) Murid (54) Ngeri (28) Ngocol Aja (113) Parah (48) Pasien (30) Pelayan (36) Pembeli (38) Pengetahuan (35) Penjual (53) Polisi (63) SMS (83) Sekolah (55) Seven story (35) Sex (35) Sms Cinta (88) Sms Jail (52) Sms Narsis (62) Sms Romantis (80) Sms iseng (286) Sms lucu (204) Sms untuk pacar (62) Sms untuk sahabat (70) Sms untuk teman (88) Suami (41) Teka Teki (36) Tips (66) Top Ten (43) Top sepuluh (53) Umum (75) Wanita (48) bego (146) cerita anak (29) cerita manajemen (20) cerita ngakak (122) cerita pendek (179) cerpen (65) dongeng sang kancil (28) goblog (151) gokil (341) hikayat abu nawas (28) humor (99) humor abu nawas (37) kocak (340) koplak (348) lirik lagu keren (29) ngakak (352) pluralisme dan kebenaran (33) psikologi (25) puisi (106) sms idul fitri (40) sms ucapan selamat tidur (86) video (74)
Rezeki dari SMS
 
Kumpulan Humor Terbaru | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger