Buscar

Cara Cepat Hamil & Tips Hamil
Rezeki dari SMS
Showing posts with label pluralisme dan kebenaran. Show all posts
Showing posts with label pluralisme dan kebenaran. Show all posts

Jun 16, 2012

Ketika Pak Wagu mengkritik Romo Sunu yang Pergi Umroh


Suatu hari Romo Wage (Romo = panggilan untuk bapak dalam Bahasa Jawa) diajak berjalan-jalan oleh sahabatnya -- Romo Sunu -- untuk melihat-lihat kebun anggrek yang baru saja dibangun Romo Sunu di tanah kosong di sebelah timur kampung.  Tanah itu dibeli Romo Sunu setahun yang lalu, dari sononya memang direncanakan untuk dijadikan kebun bunga buat memberi lapangan kerja pada para pemuda kampung yang masih menganggur.

Namun tanpa disangka-sangka saat mereka sedang menikmati keindahan warna-warni bunga dari deretan tanaman anggrek yang berjuntai di dalam rumah kaca, tiba-tiba muncullah  Pak Wagu dengan segala komentarnya.  

Mulanya Pak Wagu basa-basi mengajak ngobrol tentang bunga-bungaan, lalu beralih topik tentang sulitnya mencari pekerjaan saat ini. Juga tentang kemiskinan yang masih ada di wilayah kampung mereka.  Belakangan tiba-tiba Pak Wagu menyindir Romo Sunu yang baru saja pulang dari Umroh ke Mekah.

Mulanya dia memuji-muji tentang ibadah haji dan umroh yang menyatukan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Tapi kemudian dia mengatakan banyak hal yang lebih penting daripada sekedar kepuasan spiritual seperti umroh. Menurut Pak Wagu,  mengalokasikan uang umroh untuk membantu orang-orang miskin akan jauh lebih baik daripada berangkat umroh ke Mekah. Kata Pak Wagu, kebahagiaan orang-orang miskin lebih penting daripada pergi ke Mekah.

‘Jadi begitulah Romo Sunu.  Sebenarnya Anda lebih utama tidak berangkat umroh, tapi sumbangkan saja uangnya untuk memberi sembako pada orang-orang yang kurang beruntung. Itu akan jauh lebih bermanfaat buat sesama” kata Pak Wagu menceramahi dua orang sahabat itu.

Romo Sunu hanya senyum-senyum kecil mendengar “ceramah” Pak Wagu tersebut. Dia tidak bermaksud menjawab kata-kata tetangganya itu. Dibiarkannya Pak Wagu sibuk dengan pendapatnya sendiri. Namun kediaman Romo Sunu itu membuat Pak Wagu dongkol. Bagaimana mungkin saran sebaik itu tidak didengarkan oleh Romo Sunu?.  Pak Wagu sungguh merasa berhadapan dengan orang yang berpikiran picik.  

“Gimana Romo Sunu?  Benarkan kalo memberi sembako itu lebih bermanfaat daripada Umroh?” desak Pak Wagu pada Romo Sunu.

Romo Sunu diam saja sambil tangannya bergerak meneliti pot-pot anggrek yang tergantung berjajar rapi. Dia merasa tak perlu melayani orang seperti Pak Wagu yang dari sononya pengen berdebat. Namun tidak demikian dengan Romo Wage. Dia merasa Pak Wagu agak sedikit keterlaluan dengan desakannya itu. Maka dia tak tahan untuk nimbrung bicara.

“Pak Wagu, itu uang punya Romo Sunu sendiri. Tentu dia tahu bagaimana cara terbaik membelanjakan uangnya” ujar Romo Wage.

“Tahu cara belanjakan uang gimana? Orang dia malah sibuk umroh bukannya membantu orang yang membutuhkan!” tangkis Pak Wagu.

“Dengar Pak Wagu! Siapa yang membangun rumah untuk orang-orang jompo di dekat Kantor Lurah?. Siapa yang menggagas bea siswa untuk siswa-siswi miskin di kampung kita? Siapa yang  menyumbang Ambulans untuk kelengkapan fasilitas masjid di kampung  kita?. Itu semua adalah hal-hal bermanfaat bagi sesama yang telah dilakukan Romo Sunu!” kata Romo Wage dengan nada tinggi.

Pak Wagu terdiam. Dia mengakui bahwa semua itu adalah sumbangan dari Romo Sunu. Tak ada lagi anak putus sekolah di kampung ini karena kurang biaya setelah Romo Sunu membuat yayasan untuk memberi bea siswa. Juga mobil Ambulans gratis bagi seluruh warga kampung, lampu-lampu masjid yang diganti lampu LED, tempat pengolahan sampah dan bahkan papan penunjuk jalan di kampung adalah sumbangan dari Romo Sunu yang terkenal rajin mengetuk pintu-pintu tetangganya untuk diajak Sholat Subuh berjamaah di Masjid itu.

“Nah sekarang bagaimana dengan dirimu Pak Wagu dan juga teman-temanmu yang suka mengkritik kegiatan takmir masjid yang dianggapnya membuang-buang uang itu. Pernahkan kalian melakukan hal-hal bermanfaat bagi sesama seperti yang dilakukan Romo Sunu?”

Pak Wagu tambah diam lagi. Dirinya jadi malu sekali. Selama ini dia tak pernah menyumbang sebesar yang dilakukan Romo Sunu.  Dirinya jarang sekali mengeluarkan uang untuk membantu panti jompo, apalagi ikut urunan membeli  Ambulans. Demikian juga dengan teman-teman yang sehaluan dengannya. Mereka jarang memberi sumbangan uang maupun tenaga untuk kepentingan masyarakat banyak. Dia dan teman-temannya lebih suka membuat diskusi  untuk mengkritik cara-cara  pembelanjaan uang oleh orang-orang seperti Romo Sunu.  

Romo Wage tersenyum melihat Pak Wagu kebingungan mencari jawaban. Dia hapal betul dengan kebiasaan Pak Wagu dan teman-temannya yang lebih suka berteriak-teriak mengkritik orang-orang yang menyisihkan uangnya untuk berangkat Umroh. Padahal orang-orang yang Umroh itu jugalah yang selama ini menjadi tulang punggung kegiatan-kegiatan sosial di kampung. Sedangkan orang-orang yang suka mencerca itu tak pernah melakukan apa-apa selain membuka pedebatan kusir yang tak ada habis-habisnya (Undil-2012)

Sep 1, 2010

Kepala Desa Mustafa Diserang Gerombolan Hitam

Sebelum menjadi Kepala Desa, Mustafa adalah Ustadz yang disegani oleh Gerombolan Hitam karena dianggap toleran. Namun setelah dia mulai membersihkan desa dari perilaku tercela, musuhnya bermunculan.

^_^


Sejenak Balai Desa menjadi riuh rendah oleh suara orang bersorak sorai. Puluhan orang berpakaian hitam-hitam, bersendal hitam dan bertopi hitam tampak berdiri berkacak pinggang. Mereka menyandang bermacam-macam senjata tajam. Dari kelewang, golok hingga pedang. Barisan orang berpakaian hitam itu berteriak-teriak meminta Mustafa Satya Wiragraha turun dari Balai Desa.

Melihat aksi mereka semakin brutal dan merusak barang-barang di sekitar Balai Desa, akhirnya Mustafa memenuhi permintaan mereka. Seorang berbadan ceking tapi bercambang lebat buru-buru maju menghampiri Mustafa. Orang itu langsung mengatakan maksudnya. Dia memprotes tindakan aparat desa yang melarang orang berjudi dan mabuk-mabukan wine di gardu ronda. 

Menurut dia sebagai Kepala Desa seharusnya Mustafa menghormati hak warga untuk minum wine sampai mabuk, berjudi dan main perempuan sepanjang tidak mengganggu orang lain. Tentu saja Mustafa menolak permintaan itu. 

"Kejahatan kalau bisa kucegah dengan kekuasaan, akan kucegah dengan kekuasaanku sebagai Kepala Desa" tandas Mustafa. 

Kemudian dia menambahkan bahwa judi dan mabuk-mabukan wine merugikan warga karena setiap tahun ada saja anak muda kampung yang rusak karena terseret gerombolan itu. Sejumlah pedagang bangkrut karena berjudi dan diam-diam beralih profesi menjadi pencuri. 

Kegemaran main perempuan juga merugikan istri-istri yang tertular penyakit kelamin suaminya. Belum lagi perilaku seks bebas yang dilakukan di sudut-sudut kampung benar-benar telah membahayakan moral anak-anak dan remaja yang melihatnya.

Belum sempat Mustafa menyelesaikan kata-katanya, orang-orang itu marah dan menyerbu ke arah Mustafa. Namun anak muda itu dengan cekatan masuk ke ruangan balai desa dan menutup pintunya. Pintu digedor-gedor oleh mereka sambil berteriak memaki-maki Mustafa. 

Teriakan-teriakan para penjahat itu telah mengundang kerumunan warga. Beberapa ratus warga menonton peristiwa itu dari jauh karena takut reputasi brutal gerombolan pemabuk, penjudi dan pezina ini. Namun beberapa santri sempat melihat juga dan cepat-cepat melaporkan pada teman-temannya di rumah Mustafa.

^_^

Sebelum menjadi Kepala Desa, Mustafa adalah seorang ustadz yang sangat dihormati oleh warga. Santrinya ada ratusan orang yang sebagian besar bertempat tinggal di bilik-bilik yang dibangun di sekitar rumah Mustafa. 

Waktu itu Mustafa tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap orang yang berjudi dan minum-minum wine, baik red wine - anggur merah maupun white wine - anggur putih di gardu ronda. Paling-paling dia hanya menasehati mereka dengan lemah-lembut. Itupun dilakukan di lain waktu, bukan pada saat mereka mabuk. Makanya gerombolan hitam sangat senang. Mereka menganggap Mustafa adalah seorang Ustadz yang toleran terhadap orang yang gemar bersenang-senang.

Semasa masih menjadi guru ngaji hampir tak ada orang yang memusuhi Mustafa. Saat mereka mendengar ceramah Mustafa tentang perilaku maksiat, mereka tidak marah hanya tertawa-tawa saja. 

Yah nyindir-nyindir dikit gak apa-apalah, yang penting para santri jangan mengganggu klub mabuk wine berpesta dan membiarkan mereka merekrut anggota baru. Keramahan Mustafa sangat populer di kampung-kampung. Tak heran pada saat pemilihan Kepala Desa, Mustafa menang telak atas pesaingnya.

Mustafa mulai dimusuhi ketika sebagai Kepala Desa dia sering bicara tentang kebenaran. Orang-orang gerombolan hitam merasa khawatir bahwa Mustafa akan semakin gencar menentang segala perilaku maksiat mereka. Makanya mereka berkali-kali menghadap Mustafa untuk menghentikan bicara tentang mabuk dan judi. Mereka tak ingin dianggap "sampah masyarakat" oleh orang-orang kampungnya sendiri.

Namun Mustafa tak kenal lelah dan terus menyuarakan bahaya-bahaya perilaku maksiat tiap kali acara pertemuan warga kampung. Puncaknya adalah saat Mustafa melarang fasilitas desa dijadikan tempat minum wine dan judi. Beberapa anggota gerombolan hitam mengamuk dan merusak sejumlah gardu ronda. Mereka menuntut Mustafa mencabut larangan itu karena telah membuat mereka kesulitan merekrut anggota baru. Mustafa berusaha mengajak mereka diskusi secara baik-baik. Namun agaknya mereka telah gelap mata.

Mustafa juga sering memberi perlindungan pada Ustadz-ustadz lain yang didatangi gerombolan hitam sambil dipaksa-paksa sembari diiming-imingi uang untuk memasukkan item penghormatan kepada perilaku maksiat dalam pengajian. Jadi gerombolan itu ingin para ustadz mempergunakan terminologi "tidak ada paksaan dalam agama" untuk mengajak para jamaah membiarkan para pemabuk, penjudi dan tukang main perempuan berbuat sesuka hati di sekitar rumah warga.

Mereka ingin leluasa berbuat maksiat tanpa mendapat teguran dari warga. Jadi mereka ingin kelihatan ada ustadz yang pro kebebasan untuk bermaksiat, untuk menandingi ustadz seperti Mustafa. Gerombolan hitam ingin mendelegitimasi seruan kebenaran Mustafa melalui ustadz-ustadz lain, namun agaknya mereka telah gagal karena tak ada ustadz yang berhasil dibeli.

^_^

Kini barisan puluhan orang pemabuk dan penjudi mengepung Balai Desa dan mulai mengancam untuk membakarnya. Jumlah aparat desa tidak seimbang dengan jumlah gerombolan hitam, sehingga mereka tidak bisa mencegah. Batu-batu besar mulai dilemparkan. Pintu mulai ditendang-tendang hendak di dobrak.

Untunglah pada saat genting itu muncullah para santri Mustafa bersama ratusan penduduk yang berhasil diajak untuk bangkit melawan gerombolan hitam. Mereka bersenjatakan pentungan dan tiba-tiba saja telah mengepung gerombolan hitam.

Terjadilah bentrokan yang berlangsung tidak begitu lama karena jumlah penduduk jauh lebih besar dari gerombolan hitam. Dedengkot dan para pengikut gerombolan hitam menyerah tanpa syarat. 


Para pesakitan itu akan diserahkan pada aparat dalam waktu dekat. Mereka juga diberi pilihan untuk meninggalkan perbuatan tercela atau meninggalkan kampung halaman untuk selama-lamanya. Tidak ada kata toleransi untuk para pemabuk, penjudi dan pezina di desa yang dipimpin Mustafa (undil-2010).

Jun 19, 2010

Tragedi Kuliner Dua Jalan

Adalah dua buah jalan membentang sejajar dari utara ke selatan yang berjarak 50 meter. Jalan tersebut bernama Jalan Mendung Utara dan Jalan Mendung Selatan yang terletak di pinggir kota. Alkisah setelah dibukanya jalan tembus menuju perumahan padat penduduk di kawasan selatan kota, kedua jalan tersebut tumbuh menjadi pusat kuliner.

Mula-mula ada satu dua tukang pecel lele yang mendirikan tenda di tepi jalan yang masih berupa lahan kosong. Berikutnya disusul oleh tukang sate ayam dan tukang nasi goreng. Tak lama kemudian muncul para pedagang lain dan penduduk sekitar yang berlomba-lomba membuka warung makanan.

Jalan Mendung Utara maupun Jalan Mendung Selatan dalam waktu singkat menjadi ramai pengunjung di sore dan malam hari. Penduduk perumahan di kawasan selatan kota senang menikmati makan malam di dua jalan tersebut karena dekat dengan rumah mereka dan ketrampilan para tukang warung dalam meracik cita rasa makanan tidak kalah dari restoran-restoran di jantung kota.

Warung-warung di kedua ruas jalan tersebut sama larisnya dan sama tingkat perkembangannya sampai tiga tahun kemudian. Namun menginjak tahun keempat mulai terasa perbedaan. Jalan Mendung Selatan semakin lama semakin dipadati pengunjung, sementara warung-warung di Jalan Mendung Utara makin hari makin sepi pengunjung. Bahkan beberapa warung mulai gulung tikar karena besar pengeluaran dibanding pemasukan.

Mengapa?

Rupanya ada hal yang membedakan dari sisi kenyamanan pengunjung. Hal itu berpangkal dari kepedulian Ketua RW dan para pemuda kampung di tepi Jalan Mendung Selatan terhadap kondisi warung-warung kuliner yang ada di sana. Sementara Ketua RW maupun pemuda kampung di Jalan Mendung Utara tidak begitu memperhatikan perkembangan wisata kuliner di wilayahnya.

Ruri Ernanda, Sang Ketua RW sangat peduli dengan kondisi warung-warung tenda di Jalan Mendung Selatan. Dia bekerjasama dengan pemuda kampung berusaha keras menjaga keteraturan dan kenyamanan Jalan Mendung Selatan. Melalui tangan Junsu, si Ketua Pemuda Kampung, pihak RW mengendalikan sepenuhnya hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di jalan itu. Misalnya warung-warung dilarang keras menjual wine dan makanan haram lainnya. Sampah tidak boleh dibuang sembarangan. Harga-harga makanan harus terpampang dengan jelas dan bila terbukti ada pedagang menipu pengunjung maka dia akan diusir dari jalan itu.

Junsu juga melarang pengamen beroperasi di Jalan Mendung Selatan karena dianggap mengganggu pengunjung warung. Walaupun belakangan Junsu melonggarkan peraturan dengan menyediakan titik-titik tertentu untuk dipergunakan pengamen beraksi menghibur pengunjung, tetapi mereka tetap dilarang berkeliling dari warung ke warung. Junsu juga mengerahkan pemuda kampung untuk secara rutin mengawasi tempat itu sehingga para preman dan wanita malam segan beroperasi di Jalan Mendung Selatan. Hasilnya Jalan Mendung Selatan merupakan tempat makan malam yang nyaman bagi para pengunjungnya.

Ketua RW secara rutin mengadakan pengajian mingguan untuk membina mental pedagang dan terus menerus mensosialisasikan perlunya mereka ikut menjaga keamanan dan kebersihan tempat mereka berdagang. Tak boleh ada kegiatan maksiat di tempat mereka berdagang, karena pada akhirnya akan merugikan mereka semua. Baik Ketua RW maupun Ketua Pemuda secara terus menerus menegaskan bahwa warga kampung sama sekali tidak akan memberi toleransi bagi pedagang yang sengaja melanggar aturan yang telah disepakati bersama. 

Selama tahun pertama saja sudah delapan pedagang yang diusir dari Jalan Mendung Selatan karena ketahuan menjual wine secara sembunyi-sembunyi. Pedagang gak bener ini rata-rata pindah ke Jalan Mendung Utara yang tidak peduli dengan aktifitas negatif para penjual makanan.

Di Jalan Mendung Utara kondisinya sangat kontras. Di jalan itu Ketua RW maupun pemuda kampung permisif terhadap segala sesuatu yang dilakukan pedagang maupun pengunjung. Wine dijual dengan bebas sehingga setelah lewat jam 10 malam, di jalan tersebut sering ditemui sekelompok pemuda mabuk yang terkadang memicu perkelahian. Akibatnya pengunjung enggan datang setelah lewat jam 10 malam.

Sampah yang bertebaran karena tidak ada yang merasa perlu menyediakan tempat sampah dan juga parkir semrawut yang sering membuat pengunjung jengkel karena tidak bisa mengeluarkan mobil yang terhalang mobil lain. Belum lagi pengamen yang berdatangan dalam jumlah luar biasa banyak. Dalam sekali duduk untuk makan, seorang pengunjung bisa didatangi kelompok pengamen yang berbeda sebanyak 10 kali, saking banyaknya pengamen. Sebagian pengunjung yang merasa terganggu enggan balik lagi untuk makan.

Sementara para pengamen di Jalan Mendung Selatan karena hanya boleh mengamen secara bergiliran di lokasi tertentu maka mereka tidak mengganggu pengunjung. Para pengamen mau tidak mau berusaha keras menarik perhatian pengunjung agar mampir ke tempat pengamenan agar mendapatkan uang. Akibatnya mereka melakukan berbagai macam cara, dari mulai membawa peralatan musik lengkap dari drum, gitar, biola & saxophon sampai melakukan atraksi-atraksi akrobatik untuk menarik orang datang. Tentu saja hal itu membuat para pengamen di Jalan Mendung Selatan benar-benar berusaha keras menyuguhkan perfoma sebaik mungkin untuk menghibur pengunjung.

Ternyata kepedulian Ketua RW dan para pemuda kampung membuat Jalan Mendung Selatan relatif bebas dari gangguan dan membuat para pengunjung merasa nyaman untuk datang hingga larut malam. Hal itulah yang membuat wisata kuliner di Jalan Mendung Selatan dapat bertahan dan terus berkembang.

Perkembangan pesat itu membuat banyak lapangan kerja tersedia bagi penduduk, baik sebagai pemilik warung, tukang masak, penjaga warung, pemasok bahan-bahan yang dibutuhkan warung hingga bisnis rumah kontrakan untuk pekerja warung. Tentu saja semua manfaat itu membuat penduduk kampung semakin sadar untuk terus mengawal Jalan Mendung Selatan agar tetap aman dan nyaman bagi pengunjung (undil – juni 2010)

Jan 9, 2010

Pluralisme atau Toleransi?

Mulanya Romo Wage tidak keberatan Pak Wagu menitipkan buletin setiap hari Jumat untuk dibaca Jamaah Masjid setelah Sholat Jumat. Namun ketika suatu ketika Romo Wage membaca isinya, terperanjatlah dirinya.

Buletin yang dikemas cantik itu ternyata berisi propaganda orang-orang tertentu yang menganggap semua agama sama. Pada salah satu edisi buletin itu menyatakan bahwa Islam dan agama-agama lain sebenarnya menuju Tuhan yang sama, hanya cara ibadahnya saja yang berbeda-beda. Buletin itu juga terang-terangan membela eksistensi tokoh-tokoh aliran sesat dan mendesak umat Islam untuk membiarkan aktifitas orang-orang yang menyebarkan ajaran sesat di kalangan umat Islam, dengan alasan tidak boleh ada monopoli kebenaran. Bahkan mereka juga menganjurkan Umat islam untuk memperlakukan Al Quran sebagai buku biasa yang bisa direvisi isinya disesuaikan dengan budaya masakini.

Tentu saja Romo Wage keberatan dengan propaganda sesat seperti itu. Dirinya berserta pengurus masjid lainnya telah bersusah payah merintis pendirian masjid untuk membina akidah masyarakat sekitar, kini tiba-tiba Pak Wagu datang dengan buletinnya untuk mengacak-acaknya.

^_^

Pluralisme pada awalnya didefinisikan sebagai eksistensi bersama berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan-perbedaan dan karakteristik masing-masing. Jika pluralisme didefiniskan sebatas toleransi seperti itu, maka tidak ada masalah dengan pluralisme.


Namun belakangan ini telah bermunculan definisi pluralisme yang berbeda dari bentuk awalnya, sehingga pengertian pluralisme menjadi rancu. Sebagian pluralis bahkan memasukkan paham relativitas kebenaran dalam pluralisme.

Paham relativitas kebenaran adalah keyakinan akan tidak adanya kebenaran mutlak yang diketahui manusia. Seorang relativis akan menerima kebenaran apa saja, karena tidak memiliki pendirian apapun. Dia akan menganggap semua agama itu sama-sama baik dan benar, serta tidak ada satu agama-pun yang boleh memonopoli kebenaran.

Menurut John Hick agama-agama hanyalah persepsi dan konsepsi manusia terhadap Tuhan dan perbedaan antar agama terjadi karena adanya perbedaan kultur di antara bangsa-bangsa. Bagi John Hick semua agama pada hakekatnya adalah sama, mereka hanya menempuh yang berbeda menuju Tuhan yang sama. Tentu saja paham ini sangat bertentangan dengan Islam yang mengajarkan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan Islam berdasarkan wahyu dari Allah.

Diana L. Eck menyatakan bahwa pluralisme bukan sekedar toleransi antar umat beragama, bukan sekedar menerima pluralitas atau perbedaan, namun pluralisme adalah peleburan agama-agama menjadi satu wajah baru yaitu agama yang plural. Diana bahkan menyarankan agama-agama agar bersedia membuka diri dan menerima kebenaran yang ada pada agama lain karena bagi dia, setiap agama punya porsi kebenaran. Menurut Diana semua agama sama benarnya dan tidak ada agama yang lebih benar dari agama lain.

Ada lagi pluralis yang mengusung doktrin kesatuan agama-agama. Menurut Schuon agama dibagi menjadi dua, yaitu tingkat eksoterik (lahiriah) dan tingkat esoterik (batiniah). Pada tingkat lahiriah agama memiliki Tuhan, teologi & ajaran yang berbeda, namun pada tingkat batiniah agama-agama menyatu dan memiliki Tuhan yang sama yang abstrak dan tidak terbatas.

Dalam hubungannya dengan Islam, kini muncul kelompok pluralis yang menganggap semua konsep dan tatanan yang mapan dalam Islam adalah biang keladi kemunduran umat Islam (sebenarnya lebih tepat disebut kemunduran dunia timur dibanding dunia barat, karena bukan hanya orang Islam saja yang hidup di dunia timur).

Mereka beranggapan semua konsep dan tatanan yang mapan tersebut harus dirombak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan perkembangan jaman. Tentu saja hal ini sangat erat kaitannya dengan ajaran pluralisme yang mencoba menyatukan agama-agama lewat doktrin-doktrin global yang berkembang di masyarakat barat.

Menurut mereka hal-hal yang diyakini secara tradisional oleh umat Islam harus disesuaikan dengan ide-ide global seperti doktrin hak asasi manusia, kesetaraan gender, sekularisme, humanisme dan ajaran modern lainnya. Karenanya banyak ajaran-ajaran kaum pluralis bertentangan dengan ajaran islam yang disebabkan penggunaan doktrin-doktrin tersebut sebagai patokan utama dalam memodifikasi aturan-aturan agama dan bukan berpegang pada kitab suci.

Ajaran pluralisme mennghadapi penolakan yang luas, karena tidak selayaknya firman-firman Allah yang mulia dirubah-rubah & dimodifikasi hanya untuk mengikuti doktrin orang barat yang kebetulan pada saat ini tengah mendominasi dunia. Misalnya soal homoseksualitas, selamanya homoseksualitas adalah sesat dan tidak dapat diterima dalam Islam, walaupun sebagian orang barat dapat menerimanya. Seperti halnya perjudian dan mabuk-mabukkan yang tidak akan pernah diterima dalam Islam.

Sebenarnya untuk mengharmonisasi keberagaman dapat dilakukan tanpa merubah keyakinan pemeluk agama. Langkah harmonisasi keberagaman hendaknya tidak mengutak-atik soal keyakinan. Cukup dengan mengatur hubungan antar umat beragama secara adminitratif, seperti pengaturan kehidupan bersama, saling membantu, dan kerjasama.

Lepas dari masih rancunya definisi pluralisme, lebih aman mempergunakan istilah toleransi dibanding pluralisme. Toleransi berarti menghargai penganut agama lain dan hak hidupnya. Sedangkan pluralisme dapat diartikan (paling tidak oleh sebagian penganutnya) sebagai ide penyatuan agama-agama yang pada akhirnya bukannya akan mengharmonisasi antar pemeluk agama, tetapi malahan menghancurkan agama-agama.

Ketika seorang pluralis mengklaim ajaran pluralisme adalah ajaran yang paling benar dan memaksa para pemeluk agama menganut pluralisme, berarti si pluralis hendak memaksa orang lain meninggalkan keyakinan akan kebenaran mutlak agamanya dan menggantinya dengan kebenaran mutlak pluralisme. Jika paham itu diikuti, maka agama-agama akan bergentayangan tanpa ruh karena telah tercabut dari ajaran yang menjadi karakteristiknya. Karenanya sangat tepat jika MUI menolak ajaran pluralisme.


Bacaan
1. Pluralisme yang Membingungkan
2. Toleransi atau Relativisme Pluralisme
3. Pluralisme Agama, Ancaman bagi Agama-agama

Nov 25, 2009

Trilogi Kampung Pengundang Ular .: Tragedi Negeri Pemuja Kebebasan

Begitu besarnya penentangan dari penduduk -- tidak membuat Kepala Kampung mundur dari tekadnya untuk memberi kebebasan seluas-luasnya kepada bangsa ular untuk berkeliaran di dalam kampung. Hal itu dianggapnya sebagai bentuk penghormatan terhadap kebebasan para ular. Dari situlah semuanya berawal...



Trilogi Kampung Pengundang Ular



Trilogi Bagian Pertama .: Kampung Pengundang Ular :. Tahun Kegelapan

Walaupun mendapat tantangan dari penduduk, Pak Kepala Kampung memutuskan untuk membiarkan ular berkeliaran di dalam kampung seperti tuntutan para pengundang ular. Menurut dia, ular punya hak untuk hidup di dalam kampung dan tak boleh diusik oleh siapapun.
Akibat kekalahan kelompok penentang dalam pemungutan suara, para pengundang ular seperti mendapat angin segar. Mereka bisa bebas berpesta pora dengan para ular tanpa gangguan dari penduduk kampung.

Diantara banyak jenis ular baru -- Ular pelangi adalah ular yang paling populer -- walaupun belakangan terbukti bahwa ular tersebut menyebarkan penyakit aneh yang mengerikan. Bagian-bagian tubuh penderita penyakit akan jatuh berceceran akibat keganasan virus ular pelangi. Penyakit tersebut ditularkan antar manusia melalui jarum suntik yang dipakai berulang kali.

Gara-gara ular itulah biaya pengobatan di tabib menjadi mahal -- karena raja memutuskan jarum suntik hanya boleh dipakai satu kali -- sebagai antisipasi penularan penyakit yang dibawa ular pelangi. Sedangkan jarum suntik kerajaan di masa itu mahal sekali karena terbuat dari emas. Mahalnya biaya berobat kemudian memicu ketidakpuasan di seluruh negeri. Usaha menggalang kekuatan mulai terjadi. . Cerita selengkapnya...

(gambar dari www.boston.com)

tags: cerpen, cerita pendek, cerita pendek asyik banget, cerita sarat makna, contoh cerpen, contoh cerita pendek, liberalisme, national condom week, cerita pendek tentang demokrasi tanpa batas, sosialisasi demokrasi, kebenaran mutlak, relativitas kebenaran, cerita pendek tentang pluralisme, cerita pendek tentang penyakit kutukan

Sep 28, 2009

Pemilu 2009

Hmmm...pemilu udah lama usai. Pencontrengan wakil-wakil kita di parlemen telah terlihat hasilnya. Hasil perhitungan suara yang dikeluarkan KPU (Komisi Pemilihan Umum) menunjukkan Partainya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yaitu Partai Demokrat berhasil meningkatkan perolehan suaranya dari sekitar 8% di pemilu tahun 2004, menjadi sekitar 20% di pemilu 2009. Disusul Golkar dan PDIP yang pada pemilu kali ini tergeser posisinya oleh Partai Demokrat. Pada pemilihan presiden-pun, SBY yang diusung Demokrat kembali memenangkan pemilihan presiden dengan sekitar 60% suara.

Pada pemilu 2009, pada umumnya partai-partai mengalami penurunan suara, kecuali Demokrat dan PKS. Ada juga dua partai baru yang muncul dengan suara cukup signifikan, yaitu Hanura-nya Wiranto dan Gerindra-nya Prabowo.

Perolehan beberapa Partai berbasis massa Islam seperti PAN, PBB dan PPP mengalami penurunan. Jumlah total suara partai Islam juga menurun. Namun ada fakta yang menarik. Heboh undang-undang anti pornografi tahun lalu, yang pengesahannya juga didukung oleh Demokrat ternyata tidak membuat suara partai itu menurun.

Dukungan SBY dan Demokrat terhadap undang-undang yang oleh segelintir orang dituduh sebagai undang-undang yang bernuansa Islam tersebut – tidak membuat perolehan suara partainya SBY menurun.

Juga pemerintahan SBY yang tidak melakukan pembatalan perda-perda (peraturan daerah) di beberapa daerah -- yang dituding beberapa kelompok di Indonesia sebagai perda yang diwarnai ajaran Islam – ternyata tidak menyurutkan popularitas pemerintahan SBY. Dus, kenaikan suara Demokrat menunjukkan bahwa langkah-langkah yang dilakukan pemerintah tidak bertentangan dengan keinginan rakyat.

Sejumlah kecil kelompok di Indonesia memang menghendaki Islam hanya berada di ruang kehidupan pribadi. Tidak dibawa-bawa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebuah harapan yang susah diwujudkan di masyarakat yang demokratis.

Seperti halnya ajaran-ajaran sekuler yang mewarnai masyarakat sekuler di Eropa dan Amerika, ajaran-ajaran Islam dengan sendirinya akan mewarnai masyarakat muslim di Indonesia. Termasuk dalam pembuatan undang-undang dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Satu hal yang alami bahwa negara mengadopsi aspirasi rakyatnya.

Mulai diterimanya sistem ekonomi non riba (tanpa bunga) adalah salah satu contoh bahwa negara mulai mengikuti keyakinan yang dianut rakyatnya. Fenomena tersebut mau tak mau harus diterima sebagai kenyataan yang tak bisa dihindari (bandung-sept-2009)





Aug 27, 2009

Hadiah Ramadhan : RUU Jaminan Produk Halal


Label halal MUI (gambar: republika.co.id)


Walaupun rakyat Indonesia telah lebih dari 60 tahun merdeka dari penjajahan Belanda, namun belum sepenuhnya menjadi warga yang terlayani kepentingannya di negeri sendiri. Salah satu aspek yang belum sepenuhnya terlayani adalah kejelasan kehalalan makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat.

Namun kini di bulan Ramadhan ini, masyarakat pantas berbahagia dengan akan disahkannya Rancangan Undang-undang Jaminan Produk Halal. Negara selaku pelayan rakyat telah selangkah lebih maju dalam melayani kepentingan rakyatnya dengan rencana diluncurkannya sertifikasi kehalalan produk.

Jaminan Produk Halal sendiri berarti kepastian hukum bahwa makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimia biologik, dan produk rekayasa genetik halal untuk dimakan, diminum, dipakai, atau digunakan sesuai dengan syariah dibuktikan dengan sertifikat halal dan dinyatakan dengan tanda halal.



Dengan undang-undang ini negara bertindak sangat demokratis karena menghargai hak sebagian besar rakyat untuk mendapat informasi kehalalan makanan yang beredar di pasaran dan juga memuliakan rakyat dengan melindungi rakyat dari produk-produk tidak halal. Hal ini selaras dengan keinginan membangun manusia seutuhnya, yang dalam aspek makanan berarti negara bukan hanya melindungi rakyat dari bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan, tapi juga dari barang-barang haram yang berpotensi masuk ke dalam tubuh rakyat tanpa mereka sadari.

Kita hormati pandangan pihak-pihak yang menganggap undang-undang ini adalah bentuk diskriminasi bagi pemeluk agama lain, tetapi harus disadari bahwa negara berkewajiban melayani rakyat, dalam hal ini adalah menyediakan informasi tentang produk-produk halal.

Kalau bukan negara, siapa lagi yang harus melayani kebutuhan rakyat? Lagipula ini bukan diskriminasi, karena tidak merugikan pemeluk agama lain. Seperti halnya keberadaan Rumah Sakit Ibu dan Anak bukanlah diskriminasi terhadap para Bapak, tetapi merupakan bentuk pelayanan kepada kaum Ibu dan anak-anak. Label kandungan kalori pada kemasan makanan bukanlah diskriminasi bagi orang yang tidak sedang melakukan diet makanan.

Jika kita telaah lebih jauh lagi, undang-undang kita saat ini kebanyakan bersumber dari barat yang tentunya sedikit banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai barat. Dalam hal hubungan dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, dapat kita katakan bahwa bukan hanya hukum dari barat saja yang boleh di-klaim sesuai dengan asas kebhinnekaan Indonesia, tetapi juga hukum-hukum yang bersumber dari ajaran Islam dapat dikatakan sangat sesuai dengan masyarakat Indonesia yang sangat religius. Islam telah terlebih dahulu datang, dianut dan selama berabad-abad mempengaruhi kebudayaan masyarakat Indonesia.

Akhirnya, dengan diterapkannya Undang-undang Jaminan Produk Halal ini mudah-mudahan kepentingan masyarakat akan informasi produk halal dapat terpenuhi (und-agt-09)


Jan 23, 2009

Beginilah Cara Menjelaskan Perang di Gaza Kepada Anak Kecil

Daya tarik utama tulisan Nury Vittachi yang dimuat di the jakarta post ini adalah keberhasilan penggunaan sebuah parodi untuk menggambarkan sesuatu. Nuryana berhasil memparodikan cara berpikir “aneh” yang dipergunakan untuk melegitimasi pendudukan tanah-tanah milik pribumi -- dengan sebuah cerita yang lucu, sederhana namun sangat jitu dan tepat sasaran.

Nury Vittachi adalah seorang penulis kelahiran Srilanka tahun 1958. Nuryana menjadi jurnalis kenamaan dengan menggunakan nama Cina: Lai See dan sebagai pendongeng cerita anak-anak dengan nama Sam Jam. Kini Nuryana tinggal di Hong Kong dan buku-bukunya telah diterbitkan di Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Dia juga mengajar menulis dan screenwriting (penulisan naskah untuk sinema) di Hong Kong.


Sebuah karikatur di media massa Arab


^_^

Beginilah Cara Menjelaskan Perang di Gaza pada Anak Kecil

Nury Vittachi, Bangkok | Minggu, 01/18/2009 12:44 | Opini The Jakarta Post


Nury Vittachi
foto:
birlinn.co.uk


Pada suatu ketika, ada sebuah keluarga yang disebut Pal. Mereka tinggal di sebuah rumah yang panas dan berdebu, tetapi mereka suka, dan telah tinggal di sana selama lebih dari 2000 tahun. Kemudian satu hari, mereka kedatangan beberapa pengunjung.

"Kami adalah Keluarga Izzy," kata kepala keluarga yang baru datang.

"Kami akan pindah ke sini"

"Apa?" tanya Keluarga Pal. "Kalian tidak boleh pindah ke sini"

"Ya, kami boleh," kata Izzy. "Orang-orang itu berkata kami boleh pindah ke sini" kata si pendatang baru sambil menunjuk ke sejumlah orang bersenjata lengkap yang mendampingi mereka. Nama mereka adalah Usa dan Uk.

"Hai," kata yang besar. "Saya di sini untuk memberitahu kalian bahwa Izzy dan keluarganya telah menderita trauma menyedihkan. Mereka membutuhkan rumah baru"

"Saya setuju," ujar Pal. "Tapi ini adalah rumah kami, dan ukurannya sangat kecil. Bagaimana jika kalian saja yang memberikan sebagian ruangan di rumah kalian untuk mereka? "

"Mereka ingin tinggal di sini, karena nenek moyang mereka tinggal di sini," kata Usa.

"Tetapi itu tidak adil," kata Keluarga Pal keberatan.

Terjadilah jalan buntu. Masyarakat luas dipanggil untuk mengadili. Keluarga Izzy mengatakan bahwa masalah dapat disimpulkan dalam sebuah pertanyaan sederhana:

"Apakah keluarga Izzy memiliki hak untuk hidup? Ya atau Tidak?"

Kemudian si raksasa Usa sangat menyetujuinya:

"Ya, kami menyatakan bahwa keluarga Izzy pasti memiliki hak untuk hidup"

"Tunggu dulu" kata salah seorang anggota Keluarga Pal.

"Persoalannya bukan Keluarga Izzy memiliki hak untuk hidup. Namun apakah mereka memiliki hak untuk hidup di rumah kami"

Usa tampak sangat terkejut.

"Keterlaluan! Kalian berkata Keluarga Izzy tidak memiliki hak untuk hidup? Kalau begitu otomatis kalian adalah Kelompok Teroris! Tukang Genocide!. Sekarang kalian dalam masalah besar!"

Anggota keluarga Pal tidak tahu apa yang bisa dilakukan. Mereka menyadari bahwa mereka perlu teman yang kuat juga. Mereka membawa perkara ke pengadilan. Ketua hakim adalah seseorang bernama Yuen, terkadang dilafalkan U.N.

Hakim Yuen berbicara ke banyak anggota masyarakat, termasuk Ms Asia, Perancis, dan sebagainya. Mereka semua sepakat apa yang dialami Keluarga Pal sangat tidak adil. Hakim Yuen mengeluarkan beberapa keputusan untuk membuat situasi lebih adil. Tetapi Keluarga Izzy mengabaikan keputusan itu, dan mereka didukung sepenuhnya oleh Usa.

Keluarga Izzy semakin besar, semakin kuat, semakin kokoh dan semakin kaya. Sementara Keluarga Pal semakin miskin dan semakin miskin. Tahun-tahun penuh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan tidak dapat dielakkan. Salah satu anggota Keluarga Pal adalah seorang lelaki bernama Hamas. Dia tidak tahan lagi. Dia tidak mau tunduk dan mulai melawan.

Dalam pembalasan terhadap lelaki itu, Keluarga Izzy melakukan serentetan tindak kekerasan secara besar-besaran terhadap Keluarga Pal. "Tolong berhenti," ujar Keluarga Pal, setelah 900 anggota keluarga mereka terbunuh.

Hakim Yuen dan sebagian besar anggota masyarakat internasional juga menyerukan Izzy menghentikan serangan.

Tapi anggota yang paling kuat dari masyarakat internasional, yaitu Usa, berkata kepada Keluarga Izzy agar terus melanjutkan pembantaian. Usa berkata bahwa segala kejadian mengerikan yang terjadi pada Keluarga Pal adalah kesalahan mereka sendiri. "Keluarga Izzy memiliki hak untuk hidup," kata Usa. "Dan dia mempunyai hak untuk membela diri."

Kemudian mereka semua hidup dalam kondisi menyedihkan secara berkepanjangan.

^_^

Sebuah cerita sedih bukan? Hanya ada satu cara agar cerita ini memiliki akhir yang berbeda.

Pemerintahan baru U.S perlu mengingat kata-kata Abraham Lincoln, yang telah dilupakan oleh pemerintahan yang lama: "Satu-satunya cara untuk membinasakan musuhmu: Buatlah dia menjadi teman Anda" .

Nury Vittachi
Penulis adalah wartawan dan kolumnis.
diterjemahkan oleh undil dari the jakarta post

catatan:
USA: United States of America
UK: United Kingdom (Inggris)
U.N: United Nation (PBB)


How to Explain The War in Gaza to Small Children
Nury Vittachi , Bangkok | Sun, 01/18/2009 12:44 PM | Opinion

source: the jakarta post

Once upon a time, there was a family called Pal. They lived in a property which was hot and dusty, but they liked it, and had lived there for more than 2,000 years. Then one day, they had some visitors. “We are the Izzy family,” said the head of the new arrivals. “And we’re moving in.”

“What?” said the Pal family. “You can’t do that.” “Yes, we can,” said Izzy. “They said we could.” The newcomers pointed to some heavily armed “minders” who were accompanying them. Their names were Usa and Uk. “Hi,” said the biggest one. “I am here to tell you that Izzy and his family have suffered terrible trauma. They need a new home.”

“I sympathize,” said Pal. “But this is our home, and it’s very small. Why don’t you give them space in your homes?”

“They want to live here, because their ancestors lived here,” said Usa.

“But that’s not fair,” the Pal family objected.

There was an impasse. The wider community was called to adjudicate. The Izzy family said the issue could be boiled down to one simple question: “The Izzy family has a right to exist, yes or no?” The giant Usa agreed enthusiastically: “Yes, we declare that the Izzy family definitely has the right to exist.”

“Hang on,” said a member of the Pal family. “The issue is not whether the Izzy family has a right to exist. It’s whether they have the right to exist on our property.”

Usa looked deeply shocked. “Outrageous! You’re saying the Izzy family do not have the right to exist, so that automatically makes you a group of genocidal terrorists. Now you’re in trouble.”

The Pal family members were at a loss about what to do. They realized that they needed a powerful friend, too. They took the matter to court. The chief judge was a man named Yuen, sometimes spelt UN. Yuen talked to many members of the community, including Ms Asia, France and so on. They all agreed the situation was fundamentally unfair. Judge Yuen passed several edicts to make the situation fairer. But the Izzy family ignored these edicts, and were fully supported by Usa.

The Izzy family got bigger and stronger and tougher and richer. The Pal family got poorer and poorer. Years of unfairness and abuse resulted in the inevitable. One desperate, tormented member of the Pal family, a man named Hamas, couldn’t take it any more. He went off the rails and started to fight back. In retaliation, the Izzy family unleashed a massive wave of violence. “Please stop,” said the Pal family, after 900 members of their family had been killed.

Judge Yuen and most members of the international community called for the invasion to stop.

But the most powerful member, Usa, told the Izzy family to continue the slaughter, explaining that the horrible injuries to the Pal family were all their own fault. “The Izzy family has a right to exist,” Usa said. “And it has the right to defend itself.” And they all lived miserably ever after.

It’s a sad story, isn’t it? There’s just one way this tale can have a different ending.

The new US administration needs to remember the words of Abraham Lincoln, forgotten by the old US administration: “There’s only way to destroy your enemy: Make him your friend.”

The writer is columnist and journalist.



Jan 10, 2009

Gaza Diary: Apakah Kami Bukan Manusia ?

Udara, laut dan daratan di Kota Gaza sekarang dikuasai oleh militer Israel. Mereka juga menginvasi pikiran, syaraf dan telinga orang Gaza.


Dalam usaha untuk menghentikan anak-anak saya yang rewel, gemetar ketakutan saat terbangun setelah mendengar gelegar bombardir selama serangan Israel; maupun ketakutan di saat mereka terjaga, saya memasang kapas di telinga mereka – tapi hal itu tidak banyak membantu.


source: worldbulletin.net

Saya khawatir terhadap perusakan yang sedang dilakukan terhadap hati mungil anak-anak saya. Mereka belum punya hati sebesar saya, mereka tak akan mampu mengatasi tekanan sebesar ini.

Kami kehabisan bahan bakar untuk generator, yang berarti bahwa kami yang berjumlah 11 orang harus berdesak-desakan di sebuah kamar kecil dengan sedikit cahaya selama tiga hari.

Kami juga tidak memiliki air. Air sumur kami hanya dapat diambil dengan pompa air yang butuh listrik. Sedangkan aliran listrik sudah mati di sebagian besar Gaza ketika serangan Israel dimulai.

Tidak seperti banyak keluarga lainnya, kami beruntung kemarin menemukan 20 liter bensin untuk generator listrik. Tidak ada pasokan bahan bakar sejak mulai terjadi serangan di Gaza, sehingga kami harus membayar tujuh kali lipat dari harga biasa.

Kami punya sisa makanan untuk satu hari dan popok yang saya beli dua minggu lalu hampir habis. Popok itu berkualitas rendah, karena hanya sedikit barang yang bisa masuk wilayah Gaza sejak di blokade 18 bulan silam. Popok berkualitas buruk tersebut mengalami kebocoran yang mengganggu. Beberapa hari terakhir si kecil juga harus mandi dengan air sedingin es.

Adik perempuan yang pernah saya tulis tinggal bersama saya, akhirnya memutuskan kembali ke rumahnya walaupun kami protes. Dia takut dengan menipisnya jumlah makanan yang tersisa, kami akan makan satu kali sehari. Bukan lagi makan dua kali sehari seperti yang akhir-akhir ini kami lakukan. Di rumahnya dia memiliki sedikit makanan, cukup untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya untuk sementara waktu.

Kami sekarang berjumlah 11 orang, meringkuk bersama-sama di ruang makan orangtua saya. Saudara laki-laki saya, saya dan keluarga kami pindah ke sini. Kami berpikir bahwa lantai pertama rumah ini mungkin merupakan pilihan paling aman.

Ada pepatah dalam bahasa Arab yang mengatakan "kematian dalam kelompok adalah rahmat". Saya mengira jika kami mati bersama-sama mungkin, hanya mungkin, kami akan merasa kurang sakit dibandingkan mati sendirian.

Saya tidur 8 jam sejak awal terjadinya konflik ini, kami dapat mendengar serangan hampir setiap menit.

Saya berpikir, jika salah satu dari kami terluka atau membutuhkan bantuan medis, apa yang akan terjadi? Ambulans menemukan kesulitan untuk mencapai orang-orang sipil, jalan yang terblokir oleh puing-puing, pasukan Israel ada di rutenya - Anda dapat terluka bahkan bisa mati.

Seandainya Ambulans bisa mencapai kami, mungkin kami akan di bom dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Jika kami bisa sampai ke rumah sakit, mungkin tidak tersedia lagi ruangan untuk merawat kami – hanya ada sedikit obat-obatan, sedikit peralatan dan sedikit listrik yang dipergunakan untuk menjalankan peralatan life-saving. Bahkan kami tidak dapat keluar dari Gaza untuk perawatan life-saving yang kami diperlukan.

Sekarang rumah sakit mengandalkan generator cadangan yang membuat hidup lebih sulit bagi para dokter yang berusaha untuk menanggulangi arus masuk pasien dari orang-orang yang terluka. Jika bahan bakar untuk generator habis, pasien-pasien yang bergantung pada peralatan life-saving akan tewas.

Hari ini aku mendengar seorang wanita menelepon ke stasiun radio - layanan ambulan tidak dapat mencapai dirinya dan saya kira dia berpikir stasiun radio mungkin bisa melakukan sesuatu. Dia meratap di telepon "Rumah kami terbakar, anak-anak saya sekarat, bantu saya". Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan wanita dan anak-anaknya tersebut – Saya tidak mau membayangkan.

Saya menghabiskan banyak waktu untuk berpikir bahwa saat ini bisa jadi adalah jam terakhir keberadaan saya di dunia.

Ketika saya mencoba untuk tidur, saya mendengar di radio jumlah orang yang telah meninggal meningkat dari jam ke jam. Saya ingin tahu jika besok pagi, saya akan menjadi salah satu dari tubuh yang dihitung, bagian dari breaking news.

Bagi semua orang yang menonton kematian dan kerusakan di Gaza, saya hanyalah tambahan angka korban Atau mungkin karena saya bekerja untuk Oxfam maka berarti saya adalah sebuah nama dan bukan sekedar tambahan jumlah angka korban. Saya mungkin akan dibicarakan selama satu menit dan beberapa saat kemudian dilupakan, seperti semua korban lain yang telah tewas.

Saya tidak takut mati - saya tahu bahwa suatu hari kita semua akan mati. Tapi tidak seperti ini. Tidak duduk diam di rumah saya dengan anak-anak di lengan saya seraya menunggu kehidupan kami yang akan diambil. Aku jijik oleh ketidakadilan ini.

Apakah masyarakat internasional menunggu - untuk melihat lebih banyak orang dan keluarga terhapus sebelum bertindak? Waktu terus berjalan, jumlah orang yang mati dan terluka terus bertambah. Apa yang mereka tunggu?

Apa yang terjadi di Gaza bertentangan dengan kemanusiaan. Apakah kami bukan manusia?

Mohammed Ali, penduduk Gaza yang bekerja di bidang advocacy and media researcher untuk Oxfam.

diterjemahkan oleh undil dari english.aljazeera.net




Gaza diary: Are we not human?


By Mohammed Ali in Gaza City

As the death toll from Israel's war on Gaza continues to climb, Mohammed Ali, an advocacy and media researcher for Oxfam who lives in Gaza City, will be keeping a diary of his feelings and experiences.

Are We Not Human?


The air, the sea and the earth in Gaza City are now occupied by the Israeli military. They occupy Gazans' minds, nerves and ears too.


In a bid to stop my children twitching, jerking, trembling and waking at every sound of an attack during their few hours of sleep and their many waking hours, I put cotton wool in their ears - it has not worked.


I wonder what damage is being done to my children's tiny hearts. Theirs are not as big as mine, they can cope less with the stress that is being put on them.

We ran out of fuel for our generator, which meant that we were confined to a small room filled with eleven people, with little light for three days.


We have not had water either; our well can only pump water if it has electricity which most of the Gaza Strip has been denied since this nightmare started.

Unlike many other families, we were fortunate yesterday to find 20 litres of benzene to power our generator. No fuel has come in since the onset of this attack on Gaza so we had to pay seven times its usual price.

We have one day's worth of food left and the nappies I bought two weeks ago are nearly gone. They are not good quality as little has been able to enter this strip of land since the blockade was imposed on us 18 months ago. Bad quality nappies mean unpleasant leakages, and for the last few days the little ones have had to be bathed in freezing cold water.

My sister who was with us the last time I wrote decided to return home in spite of our protests. She feared that with food reserves running out we might have to eat one meal a day rather than the two we have been having of late. At home she has a little food left, enough to keep her and her family going for a while longer.

We are now 11, huddled together in my parents' dining room. My brother and I and our families moved there, thinking that the first floor may be the safest option.


There is a saying in Arabic which says "death in a group is a mercy". I guess if we die together maybe, just maybe, we will feel less of the pain than in doing so alone.
I have had 8 hours sleep since the beginning of this conflict; we can hear attacks almost every minute.

I think to myself, if one of us is injured or needs medical attention what will happen? Ambulances are finding it difficult to reach civilians, roads are blocked by rubble, Israeli forces in their path - you could bleed to death.


Even if they did get to us, maybe we would be bombed on our way to the hospital. If we did reach the hospital there might not be enough room to treat us - there is little medication or equipment or any electricity to fuel the life-saving equipment. We would not even be able to get out of Gaza for the life-saving treatment we needed.

Hospitals are now running on back-up generators making life even more difficult for the doctors who are trying to cope with the influx of the injured. If fuel runs out for the generators, those on life-saving equipment will perish.

I heard a woman calling into a radio station today - ambulance services could not reach her and I guess she thought the radio station might be able to do something. She was wailing down the phone "our home is on fire, my children are dying, help me". I do not know what happened to her and her children - I do not want to imagine.


I spend much of my time thinking that this could be the last hour of my existence.


As I try to fall asleep, I hear on the radio the numbers of people who have died rising by the hour. I wonder if tomorrow morning, I will be part of that body count, part of the next breaking news.


I will be just another number to all those watching the death and destruction in Gaza or maybe the fact that I work for Oxfam will mean that I will be a name and not just a number. I might be talked about for a minute and moments later forgotten, like all those other people who have had their lives taken away from them.

I am not afraid of dying - I know that one day we all must die. But not like this, not sitting idly in my home with my children in my arms waiting for our lives to be taken away. I am disgusted by this injustice.

What is the international community waiting for - to see even more dismembered people and families erased before they act? Time is ticking by and the numbers of dead and injured are increasing. What are they waiting for?

What is happening is against humanity, are we not human?



sumber: english.aljazeera.net


Aug 16, 2008

Kemerdekaan Sejati

Adalah negeri Sodom,
di jaman Nabi Luth.
Terjadilah hal,
yang amat mencoreng manusia.
Lelaki kawin lelaki,
Perempuan, perempuan.

Adalah Negeri Sodom,
sarang para pendurhaka.
Manusia terbalik,
dunia ikut terbalik.

^_^

Saya tidak ingat persis bunyi lirik lagu Bimbo tentang Negeri Sodom tersebut, tetapi kurang lebih isinya seperti itu. Berkisah tentang Negeri Sodom, tempat manusia ditaklukkan oleh hawa nafsunya. Sodom adalah contoh sebuah negeri yang masih berada di era penjajahan. Bukan penjajahan oleh negeri lain, tetapi penjajahan oleh hawa nafsu. Penduduk Sodom memilih tunduk dan patuh pada dorongan hawa nafsu seraya mengabaikan ajaran-ajaran kebenaran yang dibawa Nabi Luth.

Hawa nafsu dianggap sebagai penguasa tertinggi oleh sebagian manusia adalah kisah yang sudah ada sejak jaman dulu kala. Tentu saja bisa saja dicari-cari seribu satu alasan pembenar untuk menuruti hawa nafsu.

^_^

Sebenarnya di jalan raya-pun manusia dituntut oleh peraturan lalu lintas untuk mengendalikan hawa nafsunya. Seorang yang punya kecenderungan lebih pintar mengemudi bila berjalan di sisi kanan jalan-pun, tetap harus mematuhi peraturan lalu lintas untuk mengemudikan kendaraan di sisi kiri jalan. Tidak ada perlakuan khusus untuk orang-orang yang memiliki kecenderungan mengemudi berbeda.

Mereka mau tak mau harus menundukkan keinginan untuk mengemudi di sebelah kanan jalan. Mereka harus belajar mengemudi di sebelah kiri bila ingin mengemudi kendaraan di Indonesia tanpa ditilang. Mereka harus mengendalikan diri agar sesuai dengan peraturan lalu lintas. Semua itu diperlukan agar lalu lintas menjadi tertib dan teratur yang manfaatnya akan dirasakan oleh semua orang (undil 2008)




May 5, 2008

Tentang Pluralisme, Aliran Sesat dan Monopoli Kebenaran

Bolehkah kita
menafsirkan
peraturan lalu lintas
sekehendak hati
misalnya dengan
mengendarai mobil
di sisi kanan atau
berhenti waktu lampu
lalu lintas warna hijau
dan jalan terus
waktu lampu merah
dengan alasan
kita sangat suka warna hijau?.

Pantaskan kita menuduh
polisi yang menilang kita
sebagai seorang fundamentalis
yang ingin melakukan
monopoli kebenaran
dan monopoli tafsir
atas peraturan lalu lintas?.

Pantaskan kita mengklaim
penafsiran sesat kita
sebagai hak asasi manusia
dan fenomena pluralitas
yang harus dihormati?

Tentu saja orang yang
melakukan perbuatan itu
tidak akan dipedulikan,
klaimnya diabaikan
dan tetap mendapat
surat tilang!

Agama adalah hal yang
jauh lebih penting
daripada sekedar lalu lintas.
Agama adalah soal
kebahagiaan sejati
di dunia fana
dan soal nasib kita
di kehidupan yang
kekal abadi
di akhirat nanti.

Adalah hal yang wajar
jika aturan-aturan
dalam agama tidak
boleh ditafsirkan
sesuka hati sesuai
selera seseorang.
Karenanya sangat wajar
bila orang yang membuat
penafsiran agama tetapi
bertentangan dengan
ayat-ayat suci
dan sunnah nabi
divonis sebagai orang sesat
dan tidak boleh menyebarkan
ajaran sesatnya karena
akan menjerumuskan
manusia lain ke jalan kegelapan.

Mar 1, 2008

Monopoli Kebenaran


Monopoli kebenaran itu apaan siy?

Monopoli kebenaran adalah kala seseorang melarang penganut agama mengklaim ajaran agamanya sebagai satu-satunya kebenaran, tetapi orang itu memaksa semua orang untuk sependapat dengan dirinya bahwa hakekatnya semua agama itu sama, hanya teknisnya saja yang berbeda-beda.

Monopoli kebenaran adalah seseorang yang melarang ulama menyatakan aliran sesat itu sesat, tetapi dia sendiri memaksakan pendapatnya pada para ulama untuk mengakui ada banyak jalan
kebenaran Tuhan, dan ulama tidak boleh menyatakan kreasi baru dalam cara menyembah Tuhan sebagai aliran sesat.

Monopoli kebenaran adalah seseorang yang mengkritik penganut agama yang menyatakan ajaran agamanyalah satu-satunya yang benar, tetapi dia sendiri berusaha memaksakan pendapatnya bahwa ajaran pluralisme agama adalah ajaran yang paling benar.


Lebih jauh dengan pluralisme agama

Jan 1, 2008

Tahun Baru 2008

Tahun baru 2008 telah datang. Setiap tahun jalan-jalan di kota besar meriah oleh perayaan tahun baru. Sebenarnya apa siy yang berubah setelah tahun baru?

Bagi saya yang jelas berubah pada tahun baru adalah jadwal tahunan. Jadwal tahunan seperti jadwal produksi, jadwal validasi alat, jadwal kalibrasi alat, jadwal validasi proses seperti validasi sterile hold test hingga jadwal preventive maintenance (jadwal pemeliharaan alat) dibuat baru untuk tahun 2008.

Kalau kegiatannya siy, sama aja dengan tahun lalu. Produksi dikerjakan sesuai petunjuk formula induk, kalibrasi alat masih menggunakan SOP yang sama, dan validasi alat juga menggunakan sensor-sensor seperti biasanya.

Alat-alat yang dipakai untuk produksi juga masih sama, misalnya otoklaf (alat untuk sterilisasi panas basah), oven (alat untuk sterilisasi menggunakan udara panas /hot air sterilizer), fermentor (alat untuk membiakkan bakteri), inkubator (digunakan untuk inkubasi biakan starter) dan water treatment plant (digunakan untuk produksi water for injection dan pure steam).

Kalau buat anak sekolah, sebenarnya tahun baru mereka adalah saat mereka memasuki tahun ajaran baru. Karena pada saat itulah jadwal mereka berubah, kegiatan mereka berubah dan target juga berubah.

Tahun ajaran baru jauh lebih berpengaruh pada anak sekolah daripada tahun baru. Bahkan buat anak kuliah, tahun barunya dua kali, yaitu saat mereka mengisi kartu rencana studi tiap awal semester.


Rencana studi itu akan menentukan apakah semester depan banyak kuliah atau banyak libur, kuliah siang atau pagi, mo libur hari minggu saja atau ditambah libur pada saat tidak ada jadwal kuliah & praktikum. Buat mereka semester baru lebih berpengaruh dibanding sekedar tahun baru.

Satu lagi yang menarik adalah acara meniup terompet dan menyalakan kembang api adalah bukti adanya globalisasi yang telah melanda kita. Tanpa terasa kita telah menjadi bagian dari kampung global yang merayakan acara yang sama. Yah, kita telah menajdi bagian dari "ideologi trans nasional" yang membuat perayaan-perayaan meriah untuk tahun baru.

Perayaan tahun baru masehi yang awalnya hanya dilakukan oleh orang-orang barat kini telah dirayakan juga oleh kita. Terompet kita tiup sebagaimana mereka meniup terompet. Kembang api kita nyalakan seperti yang mereka lakukan di kota-kota mereka. Untuk kembang api mungkin bukan asli tradisi barat siy, sepertinya kembang api adalah tradisi yang diimpor dari Cina.

Jadi buat teman-teman yang tidak bisa merayakan tahun baru karena satu dan lain hal rasanya tidak perlu sedih. Karena berbeda dengan Idul Fitri yang adalah perayaan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa atau Idul Adha yang merayakan keberanian Nabi Ibrahim mengorbankan apa saja untuk Allah -- perayaan tahun baru tidak terlalu penting untuk dilakukan.

Bila pada malam tahun baru teman-teman terpaksa di rumah nungguin belasan ember karena atap rumah bocor :P, atau harus mengetik di depan komputer karena ada tugas mendadak yang tidak bisa ditunda -- rasanya tak perlu bersedih. Toh tahun baru sebenarnya hanyalah pergantian angka tahun dan bukti bahwa kita semakin tua... hiks!.

Bahkan pergantian tahun 1999 ke tahun 2000 yang disebut-sebut pergantian milenium sebenarnya tak jauh beda dengan pergantian tahun 1998 ke 1999 atau dari tahun 2000 ke 2001. Sama saja! Perbedaan hanyalah pada emosi yang dibangkitkan oleh besarnya perayaan-perayaan pergantian milenium. Perbedaan artificial, perbedaan buatan, bukan berbeda asli dari sononya.

Kalau mau dibandingkan perbedaan lebih nyata akan dirasakan oleh orang yang lahir 1 hari sebelum masehi dengan orang yang lahir tanggal 1 masehi.

Mengapa?

Karena mereka berbeda jauh saat mencantumkan tanggal lahir. Yang pertama harus ditulis lengkap lahir tahun 1 SM (sebelum masehi) dan yang kedua cukup ditulis lahir tahun 1 atau tahun 1 M (masehi) ^_^ (undil 2008).






Dec 23, 2007

Berdamai dengan Israel

Beberapa waktu lalu sekelompok orang Indonesia mengunjungi Israel yang katanya untuk membawa misi perdamaian, bukan kunjungan politis. Jadi menurut mereka kedatangan ke Israel adalah demi mempromosikan perdamaian. Pertanyaannya adalah bukan soal kunjungan yang bersifat politis atau membawa misi perdamaian! Pertanyaan besarnya adalah istilah perdamaian yang mereka gunakan!

Akar masalah konflik Palestina-Israel sangat mirip dengan akar konflik Indonesia vs Hindia Belanda tahun 1945 -- yaitu penjajahan. Benarkah kita perlu berdamai dengan penjajah? Sudah selayaknya-kah kita berdamai dengan orang yang merampas rumah kita? Bagaimana dengan nasib pengungsi Palestina yang kini tinggal di barak-barak pengungsian di luar negeri karena tanahnya dirampas Israel. Apakah mereka layak selamanya tinggal di barak pengungsi demi menyediakan pemukiman yang layak bagi orang-orang Israel? Opsi perdamaian dengan Israel harus dilihat dengan penuh kehati-hatian.


^_^

Jaman dulu waktu pelajaran sejarah di sekolah, saya gak begitu “ngeh” dengan istilah ekstrimis yang digunakan Pemerintahan Hindia Belanda untuk menyebut para pejuang kemerdekaan Indonesia. Juga label “Aksi Polisionil” untuk agresi militer mereka ke Jogja yang kemudian menangkap presiden dan wakil presiden. Waktu itu saya tidak begitu memperhatikan motivasi di balik penggunaan kata-kata tersebut.

Kini motivasi dibalik istilah ekstrimis dan aksi polisionil itu jadi sangat jelas setelah istilah sejenis digunakan rejim Israel untuk menyebut para pejuang kemerdekaan Palestina. Orang-orang Israel yang sebenarnya adalah para pendatang dari Eropa, Amerika dan belahan dunia lain yang merebut dan mengusir para penduduk asli Palestina -- tanpa tahu malu menyebut orang-orang yang kini terjajah itu sebagai kaum ekstrimis. Padahal wajar saja kan bila orang-orang terusir mengangkat senjata untuk merebut tanahnya kembali. Sewajar para pejuang kemerdekaan kita pasca proklamasi 1945 bertempur dengan gigih melawan Inggris di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Israel juga menyebut aksi militer ke kantong-kantong pengungsi Palestina sebagai aksi menjaga kemanan untuk mencegah serangan ke Israel, sama dengan istilah yang digunakan Hindia Belanda untuk menyebut serangan mereka terhadap Ibukota RI Yogyakarta yang disebut “aksi pak polisi” untuk mengembalikan ketertiban yang diganggu oleh para ekstrimis. Rupanya istilah yang digunakan para penjajah 60 tahun lalu masih sama dengan istilah yang digunakan penjajah masakini.

Perdamaian dengan Israel dengan cara berbagi tanah perlu dibandingkan dengan tindakan menyuruh para perintis kemerdekaan kita berbagi tanah dengan Pemerintah Hindia Belanda. Mengapa mereka dahulu tidak berbagi tanah saja?. Misalnya Jawa, Sumatera dan Madura untuk Indonesia dan pulau-pulau lain seperti Sulawesi, Kalimatan, Maluku dan Irian untuk Hindia Belanda.

Dengan pembagian itu tidak perlu ada peperangan, damai, damai, damai tidak perlu saling bunuh demi kemanusiaan. Tapi ternyata para perintis kemerdekaan menghendaki kedaulatan penuh atas semua wilayah nusantara. Kalimat populer yang digunakan para pejuang diantaranya adalah “merdeka atau mati” dan “kami cinta perdamaian tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Artinya kemerdekaan seluruh wilayah lebih penting daripada perdamaian. Damai itu baik sepanjang mereka tidak merebut tanah kita.

Istilah perdamaian perlu dipertimbangkan ulang pada hubungan Israel–Palestina, karena Israel adalah orang asing yang merebut tanah pribumi. Mirip seseorang datang ke rumah kita, lalu merebut kamar tamu dan kamar makan. Apakah kita mau dibujuk oleh seorang pendamai untuk menyerahkan kedua kamar itu dengan alasan demi perdamaian dan menghindari pertikaian.

Bagaimana pula dengan nasib para pemilik tanah yang dihuni orang-orang Israel yang kini harus menjadi pengungsi yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di dalam negeri Paletina maupun di negara lain seperti Lebanon dan Yordania. Haruskah kita tutup mata dan tutup telinga? Apakah mereka pantas dilupakan dan dipaksa selamanya tinggal barak pengungsi karena tanah-tanah mereka telah menjadi tempat bermukim orang-orang Israel ? Sebuah pertanyaan yang menuntut kebersihan hati dan ketulusan hati nurani untuk menjawabnya!




Nov 1, 2007

Tentang Aliran Sesat

Maraknya aliran sesat belakangan ini sangat menyedihkan. Terutama karena adanya fakta bahwa mereka mampu menarik pengikut dari kalangan masyarakat umum. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki marketing yang bagus sehingga mampu menarik konsumen di tengah eksisnya organisasi-organisasi besar di masyarakat

Fenomena yang patut dicermati -- untuk dicari penangkalnya.

Satu hal yang perlu disadari adalah kesesatan mereka bukanlah sebuah hak asasi yang harus dihormati. Karena Islam memiliki pegangan yang jelas yaitu Al Quran dan Hadits. Bila orang memakai pedoman utama diluar dua hal itu maka dengan sendirinya termasuk ajaran sesat. Bila orang menafsirkan Al Quran dan Hadits semau gue, tanpa bekal ilmu yang cukup, maka itu juga berpeluang besar untuk sesat.

Bayangkan, untuk urusan badan meriang saja orang pergi ke ahlinya, yaitu dokter, kok untuk urusan agama yang terkait dengan “hidup yang abadi” di akhirat nanti malahan menyerahkan pada orang yang tidak kompeten. Apalagi memberi kebebasan pada tokoh aliran sesat untuk mencari pengikut di tengah masyarakat dan menuntun mereka ke jalan kegelapan. Propaganda untuk memberi kebebasan pada aliran sesat beraktifitas mencari pengikut –- dengan alasan hak asasi manusia -- adalah sebuah propaganda yang tidak dapat diterima, karena akan merugikan masyarakat.

^_^

Sebagai penutup, berikut ini adalah link ke tulisan menarik di blog akmal. Teman-teman dapat mengaksesnya disini dan disini. Isi tulisan adalah komentar tentang nabi-nabi palsu itu dan betapa tidak masuk akalnya klaim mereka sebagai nabi. Bila Allah berkehendak mengangkat nabi baru tentunya Allah akan memilih orang yang memiliki kualifikasi yang sama atau lebih tinggi dari nabi sebelumnya, yakni Nabi Muhammad. Orang itu harus memiliki kualifikasi khusus, memiliki keunggulan dan prestasi melebihi manusia biasa seperti yang dimiliki para nabi. Apakah persyaratan-persayaratan itu telah mereka miliki?.

Oct 6, 2007

Tiga Singa Perkasa, Segerombolan Serigala dan Seekor Babi

Tidak ada musuh yang lebih dahsyat daripada orang-orang yang telah membuang rasa takut mati dari hatinya dan menggantinya dengan rasa cinta yang membara pada Sang Maha Perkasa.

^_^

Rumah berdinding kayu itu telah terkepung. Ada ratusan anggota gerombolan perusuh diluar yang berteriak-teriak menyuruh penghuni rumah keluar. Sementara hanya ada tiga lelaki di dalam rumah. Ronin, Ronun dan Ronon, tiga bersaudara yang selama ini tersohor sebagai tiga singa di medan perang yang membentengi desa-desa nelayan di gugusan pulau-pulau terpencil itu dari gerombolan perusuh.

Kini mereka terjebak saat mengunjungi Bibi mereka di sebuah pulau kecil. Gerombolan perusuh mencium kedatangan tiga singa yang telah lama diincar karena mengorganisir ratusan pemuda untuk melawan gerakan para perusuh yang berniat mengusir keluarga nelayan dan juga petani & pekerja yang menempati pulau-pulau itu.

Tak ada pilihan lain mereka harus keluar rumah dan melawan. Tinggal di dalam rumah sama saja dengan mengorbankan seluruh penghuni rumah. Ada empat perempuan dewasa dan lima anak-anak, yang paling besar baru berumur lima tahun. Tak ada senapan dan tak ada radio komunikasi sehingga mereka tidak bisa meminta bantuan dari teman-temannya. Sementara relawan tempur yang datang dari luar wilayah terkonsentrasi untuk memperkuat front rawan penyerangan di pulau-pulau yang lebih besar.

Rumah beratap genting itu akan dibakar bila mereka bertahan di dalamnya dan menghanguskan semua penghuninya. Andai saja ada senapan, apalagi bila tersedia granat dan pelontarnya -- setidaknya ketiga orang itu akan mampu menghalau para perusuh untuk beberapa lama sampai fajar tiba. Namun senjata yang mereka bawa hanyalah pedang panjang. Tak banyak pilihan dengan senjata sederhana itu.

Untunglah ada lubang bekas saluran air yang menghubungkan rumah itu dengan pantai. Sementara para penghuni rumah yang lain meloloskan diri lewat lubang sempit dan pengap berukuran lebar dua pertiga meter dan tinggi sepertiga meter itu, tiga singa akan keluar rumah dan bertarung dengan perusuh.

Walaupun mereka sadar peluang untuk menang hanya setipis rambut, tidak ada yang perlu ditakuti. Bagi mereka kebenaran adalah segalanya. Kebenaran adalah mereka pemilik sah tanah di kepulauan ini yang tidak layak diperlakukan seperti anjing kurap yang diusar-usir kesana kemari oleh para perusuh. Bagi mereka, mati saat membela kebenaran adalah laksana menggedor pintu-pintu langit dan membuat para penghuninya menangis merindukan mereka.

Pedihnya sayatan pedang, ataupun tusukan lembing yang akan mengoyak kulit bukannya tidak membuat mereka ngeri. Apalagi bila musuh membawa senapan yang akan dengan mudah meledakkan kepala mereka. Tapi mereka berusaha keras mengatasi rasa takut. Kepedihan dan kesakitan yang mampir setelah puluhan tahun kenyamanan yang panjang berusaha keras mereka anggap sebagai kewajaran sebagaimana datangnya malam setelah siang. Sebagaimana datangnya kemarau setelah musim hujan yang panjang. Sebagaimana meranggasnya pohon jati setelah masa berdaun rimbun usai.

^_^

Nampaknya gerombolan perusuh kali ini tidak membawa senapan. Bila mereka memiliki, pastilah rumah telah dihujani peluru untuk membunuh semua penghuninya. Setelah yakin para penghuni rumah telah jauh merangkak menuju pantai, mulut lubang ditutup kembali dan mereka akan segera keluar rumah untuk mengalihkan perhatian.

Sewaktu mereka bertiga telah menghunus pedang dan siap menyerbu keluar, tiba-tiba muncul gadis belia dari dalam lubang dan menutupnya kembali dengan papan. Dia adalah saudara sepupu si tiga singa. Tentu saja ketiga orang itu marah besar pada gadis yang wajahnya menunjukkan usianya tak akan lebih dari tujuhbelas tahun itu. Si gadis ngotot dan berusaha keras menjelaskan alasannya, yaitu karena dia yang tadi siang menjemput ketiga singa di pantai dan pasti telah terlihat oleh musuh – akan membahayakan penghuni lain yang sedang merangkak di lubang saluran air bila dirinya tidak muncul.

Para perusuh pasti mencari dirinya sampai ketemu, dan mereka tidak tahu ada penghuni lainnya di rumah itu karena hampir semua penghuni pulau telah mengungsi. Jadi kalau dirinya ikut lari maka para penghuni rumah lain bakalan ketahuan dan ikut dikejar-kejar. Sia-sia saja si tiga singa menyuruh anak itu pergi, apalagi setelah dia mengeluarkan lembing yang disimpannya di bawah kolong tempat tidur. Tekadnya tidak dapat dicegah lagi.

^_^

Pedang yang dipegang tiga pemuda tampak berkilat-kilat ditimpa sinar rembulan saat mereka melangkah keluar rumah. Sementara lembing yang dipegang si gadis tampak mengayun-ayun anggun bak penari maut yang menunjukkan pemegangnya telah berpengalaman. Hati para perusuh berdesir ngeri melihat keempat orang yang melangkah mantap keluar rumah. Kengerian yang bukan disebabkan kilatan pedang, tapi karena kilatan sorot mata yang sangat tajam dari empat manusia yang dengan gagah menyongsong maut. Sorot mata setajam kilatan petir yang tanpa ampun menyambar hati mereka yang rapuh dan menghanguskan semangat tempur mereka.

Seandainya jumlah mereka tidak limaratus orang seperti saat ini, pastilah banyak yang memilih lari. Tak ada yang lebih menakutkan daripada melawan musuh yang telah siap mati membela keyakinan akan kebenaran. Tak ada yang lebih menggetarkan nyali daripada musuh yang seolah-olah jiwanya telah terbang melayang-layang -- bertasbih bersama ribuan malaikat di langit sementara jasadnya siap bertempur dengan garang di muka bumi. Tidak ada musuh yang lebih dahsyat daripada orang-orang yang telah membuang rasa takut mati dari hatinya dan menggantinya dengan rasa cinta yang membara pada Sang Maha Perkasa.

Aroma maut menebar di halaman rumah. Aroma yang mendirikan buluroma para perusuh karena mereka sadar betul bahwa jiwa mereka telah kalah. Beberapa perusuh telah basah oleh keringat dingin yang membanjiri tubuh mereka, sementara empat anak muda itu melangkah dengan pasti mendekati mereka dengan punggung saling membelakangi. Seperti empat ekor banteng yang beradu punggung – menodongkan tanduk ke empat penjuru mata angin -- siap bertarung dengan kawanan singa yang mengepung mereka. Oh tidak!. Lebih tepatnya mirip empat ekor singa yang siap bertempur melawan ratusan serigala gemetar ketakutan yang berani maju semata-mata karena jumlah mereka ratusan kali lipat.

Tiba-tiba si gadis melompat dua langkah ke depan dan ujung lembingnya menembus leh#$ seorang perusuh yang terpana pada gerakan cepat yang menimbulkan bunyi berdecit di udara. Tubuhnya jatuh dan menggelepar-gelepar di tanah tatkala si gadis mencabut lembingnya dan meloncat kembali ke formasi tempur. Semua berlangsung begitu cepat. Para perusuh diam tertegun, seolah terpaku di bumi tempat mereka berpijak. Bau tumpahan darah membuat hawa maut di udara terasa semakin pekat dan semakin menyurutkan nyali para perusuh. Membuat mereka bertambah ragu akan keberhasilan misi mereka kali ini.

Kondisi itu dengan cepat disadari oleh komandan gerombolan perusuh. Perang urat syaraf yang semakin nyata dimenangkan secara telak oleh empat anak muda itu harus segera dihentikan. Dengan disertai pekikan keras si pemimpin berlari sambil mengayunkan pedangnya untuk menghantam si gadis -- dengan tujuan memancing anak buahnya ikut menyerbu. Namun sebelum pedangnya menyentuh si gadis, lembing si gadis yang berukuran lebih panjang terlebih dahulu menghantam mat*#@@ dan membuatnya menjerit keras sekali dengan suara yang mengerikan. Kerasnya benturan dengan lembing juga membuat tubuhnya terputar beberapa kali sebelum menghantam sebuah pohon besar dan terkapar tidak bangkit lagi.

Adik si pemimpin marah sekali, sambil berteriak-teriak kesetanan dia menyerbu disertai caci-maki pada teman-temannya yang disebutnya sebagai para pengecut yang tidak pantas memakai celana panjang. Saat pedangnya mulai beradu dengan pedang para singa, tanpa dikomando anggota gerombolan perusuh yang lain mulai bergerak ikut menyerbu.

Terjadilah pertarungan sengit empat ekor singa melawan ratusan serigala. Empat orang itu secara berganti-ganti -- meloncat ke depan menyambar musuh, kemudian kembali ke formasi saling membelakangi. Setiap kali mereka melompat menebas musuh akan terdengar lolongan maut dari para perusuh yang kehilangan nyawa atau kehilangan anggota badannya. Dalam waktu singkat tanah telah basah oleh genangan darah, serpihan-serpihan pakaian dan juga tubuh-tubuh perusuh yang berguguran. Sementara keempat singa bertempur dengan garang seperti angin tornado yang berputar-putar dahsyat menebarkan maut di lautan musuh.

Semakin lama berjalan pertempuran -- atau lebih tepatnya pengeroyokan -- semakin meningkatlah semangat keempat singa. Sementara para serigala semakin merosot semangat tempurnya. Apalagi setelah melihat tubuh-tubuh temannya bergelimpangan di tanah sambil menjerit-jerit kesakitan membuat semangat mereka tambah runtuh.

Pada dasarnya mereka bertempur tanpa dasar yang jelas selain janji-janji dari segelintir pemimpin untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka dibujuk untuk ikut mengusir orang-orang yang dituduh menjadi biang keladi kesulitan hidup mereka. Sekarang diam-diam mereka mulai merasakan telah dimanfaatkan oleh para pemimpin yang gagal bersaing secara fair dengan orang-orang gagah ini. Tidak ada kejahatan yang mereka lakukan. Mereka tidak merebut tanah dan tidak pernah mengganggu kehidupan para perusuh. Mereka juga telah lama hidup berdampingan dengan damai.

Tiba-tiba terdengar serentetan bunyi tembakan diikuti robohnya empat singa yang tengah bertempur dengan garang. Dari kegelapan terdengar bunyi deram mobil dan teriakan menggelegar sesosok tubuh.

“Hei kalian, cepat lempar mayat-mayat itu ke sumur tua di belakang rumah dan lari. Sebentar lagi fajar, tentara pasti akan datang ke sini!”

^_^

Hujan rintik-rintik tatkala pagi harinya para anggota keluarga keempat orang singa muda itu kembali ke pulau bersama satu regu tentara. Air mata menetes dari tubuh-tubuh yang saling berpelukan dengan keharuan yang dalam -- saat menemukan mayat-mayat yang terkubur dalam sumur tua. Air mata kesedihan memang, tapi sama sekali bukan air mata penyesalan. Air mata itu juga adalah air mata kerelaan bahwa diantara keluarga mereka terdapat para ksatria yang telah mengorbankan jiwa, demi tegaknya jalan kebenaran yang telah ditunjukkan oleh Sang Maha Penyayang. Terbaik diantara yang terbaik dari segelintir manusia istimewa yang rela mengorbankan jiwa demi keyakinan dan cita-citanya (UNDIL).


Rahasia Puaskan Istri Anda

Tags

Abu Nawas (29) Amazing (27) Anak Kecil (33) Aneh Dan Unik (28) BB++ (57) CERITA LUCU (181) CERITA LUCU DEWASA (84) Cerita (47) Cerita lucu abu nawas (38) Cerita ngocol (76) Cewe Cowo (64) Dokter (66) English Joke (32) English Jokes (57) Five story (24) Gallery (20) Gambar (89) Gambar Plesetan (315) Gambar n Foto Lucu (52) Guru (102) HP (40) Heboh (105) Hot Spot (34) Humor Dewasa (117) Humor Indonesia (70) Humor Umum (112) Humor and Jokes (87) Iklan Kocak (46) Indonesian Jokes (70) Info (130) Istri (75) Keren (49) Kesehatan (28) Kisah Abu Nawas (66) Komik (299) Komik Mahasiswa (123) Komik dewasa (30) Kumpulan Cerita Humor Dewasa Lucu (118) Kumpulan SMS Humor Lucu (40) Lucu (389) Mahasiswa (37) Maho (61) Mengenal Diri (58) Murid (54) Ngeri (28) Ngocol Aja (113) Parah (48) Pasien (30) Pelayan (36) Pembeli (38) Pengetahuan (35) Penjual (53) Polisi (63) SMS (83) Sekolah (55) Seven story (35) Sex (35) Sms Cinta (88) Sms Jail (52) Sms Narsis (62) Sms Romantis (80) Sms iseng (286) Sms lucu (204) Sms untuk pacar (62) Sms untuk sahabat (70) Sms untuk teman (88) Suami (41) Teka Teki (36) Tips (66) Top Ten (43) Top sepuluh (53) Umum (75) Wanita (48) bego (146) cerita anak (29) cerita manajemen (20) cerita ngakak (122) cerita pendek (179) cerpen (65) dongeng sang kancil (28) goblog (151) gokil (341) hikayat abu nawas (28) humor (99) humor abu nawas (37) kocak (340) koplak (348) lirik lagu keren (29) ngakak (352) pluralisme dan kebenaran (33) psikologi (25) puisi (106) sms idul fitri (40) sms ucapan selamat tidur (86) video (74)
Rezeki dari SMS
 
Kumpulan Humor Terbaru | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger