Buscar

Cara Cepat Hamil & Tips Hamil
Rezeki dari SMS
Showing posts with label dongeng sang kancil. Show all posts
Showing posts with label dongeng sang kancil. Show all posts

Apr 6, 2012

Cerita Anak: Kancil dan Biri-biri Pemberani

"Seorang pemberani bukanlah orang tanpa rasa takut, tapi orang yang tetap maju walaupun hatinya diliputi ketakutan"

^_^

Dalam kisah Sang Kancil terdampar di kota yang terkepung, diceritakan penduduk kota kelaparan karena telah dikepung musuh selama enam bulan. Kancil mengusulkan sebuah strategi untuk menyelamatkan penduduk kota. Pak Walikota setuju dengan taktik Sang Kancil. Taktiknya adalah melepaskan biri-biri gemuk beserta anak-anaknya ke perkemahan musuh. Tujuannya agar musuh mengira kota memiliki persediaan makanan yang melimpah sehingga hewan peliharaan-pun masih gemuk-gemuk karena diberi makan yang cukup.










Sesaat setelah menemukan biri-biri gemuk yang akan dilepaskan ke perkemahan musuh, Sang Kancil bercakap-cakap dengan induk biri-biri. Si Induk tampak ketakutan saat tahu dirinya bakalan dilepaskan ke perkemahan musuh. Sementara ketiga anaknya tampak riang-riang karena membayangkan bakalan mendapatkan rerumputan segar di luar benteng.

"Aduhai sungguh malang nian nasibku dikirim ke perkemahan musuh, entah jadi sate atau gule nampaknya akhir hidupku ada di dapur mereka"  kata Induk Biri-biri

"Dengar Biri-biri. Jikalaupun kamu bertahan di sini, kamu mungkin hanya menunda beberapa minggu atau mungkin hanya beberapa hari sebelum disembelih tuanmu karena mereka saat ini telah kekurangan makanan"

"Yah, aku tahu. Tapi setidaknya aku masih punya pengharapan"

"Dengan tugas ini pun kamu juga punya pengharapan. Lagipula andainya kamu disembelih kamu mati terhormat sebagai biri-biri yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kota"

"Yah, aku tahu itu. Tapi aku takut sekali. Jauh dalam lubuk hatiku aku ingin sekali berarti sudah itu biarlah aku mati. Tapi keinginanku itu kalah oleh rasa takutku"

"Dengarlah sob. Ketakutan itu ada pada diriku juga. Ada juga di dada panglima perang yang gagah perkasa!. Ada di hati Pak Walikota yang bijaksana, juga ada di diri orang-orang yang sedang terkepung di kota ini!. Musuh bisa melakukan apa saja terhadap diri kita bila mereka menaklukkan kota. Seorang pemberani bukanlah orang tanpa rasa takut, tapi orang yang tetap maju walaupun hatinya diliputi ketakutan!" ujar Kancil

Biri-biri mendongakkan kepalanya. Kemudian dia berdesis mengucapkan kata-kata dengan lirih

"Aku tidak punya pilihan lain kecuali menjadi seekor biri-biri pemberani. Biarlah aku mengikuti semua rencanamu. Que sera sera. Apa yang akan terjadi, terjadilah!"

Sang Kancil menepuk-nepuk pundak biri-biri pertanda salut atas keberaniannya yang mulai muncul. Biri-biri mencoba tetap tabah dan memaksakan diri untuk tersenyum. Sesaat kemudian dia ingat pengharapan yang dijanjikan Sang Kancil

"Ngomong-omong  pengharapan apa yang kau tawarkan padaku?"

"Aku akan memberimu ramuan yang membuatmu memuntahkan isi perutmu dalam tiga jam. Biar mereka menyangka kita masih mampu memberi makan jagung dan gabah pada biri-biri sebagai pertanda kita punya persediaan makanan yang melimpah"

"Jadi mereka tidak perlu menyembelih diriku untuk memeriksa isi perutku?"

"Yah benar. Mereka tak perlu menyembelih dirimu untuk melihat apa yang engkau makan. Mudah-mudahan mereka cukup puas dengan melihat jagung dan gabah yang kau muntahkan"

^_^

Maka biri-biri mengajak anak-anaknya untuk memakan jagung dan gabah yang dihidangkan pada mereka. Dia meminta anak-anaknya untuk makan tanpa ragu-ragu untuk membuat perutnya kenyang. Dia mencoba percaya keberhasilan taktik ramuan yang akan membuat dirinya muntah dalam tiga jam. 

Mudah-mudahan sebelum masa tiga jam itu dirinya tidak keburu disembelih oleh pasukan musuh. Namun jikalau dirinya disembelih-pun misinya akan tercapai. Karena musuh akan mendapati jagung dan gabah saat membelah isi perutnya yang merupakan isyarat bahwa di kota ini ada banyak makanan. Musuh diharapkan mendapatkan kesan bahwa kota yang tengah kelaparan ini memiliki gudang-gudang makanan yang melimpah ruah sehingga membatalkan pengepungan karena menganggapnya sia-sia.


^_^

Nasib baik tergaris bagi si biri-biri. Diberanikannya dirinya untuk berjalan-jalan semakin jauh keluar benteng. Dibiarkan dirinya ditangkap saat berjalan di antara perkemahan musuh. Untunglah Panglima musuh tidak memerintahkan menyembelih dirinya. Dia hanya terheran-heran melihat tubuh gemuk induk biri-biri. Si Panglima tambah terheran-heran lagi setelah si biri-biri memuntahkan gabah dan jagung dari dalam perutnya.

Seperti perkiraan Sang Kancil -- setelah melihat isi perut biri-biri -- Si Panglima langsung menyangka Kota Urban masih punya banyak persediaan makanan yang banyak. Dia  tanpa ragu-ragu memerintahkan pasukan yang mengepung kota untuk mundur dan menghentikan pengepungan Sebuah misi menegangkan yang berakhir manis bagi Si bIri-biri pemberani (Undil-2012). 

gambar diolah dari: www.geekalerts.com


Mar 14, 2012

Dongeng Si Kancil dan Biri-biri di Kota yang Terkepung

Gara-gara jembatan bambu yang ambrol saat diseberangi Si Kancil – hanyutlah dia terbawa arus sungai yang deras sampai berpuluh-puluh kilometer  ke arah pemukiman penduduk. Sambil terus berpegangan erat pada potongan bambu sisa jembatan yang terseret arus air, Si Kancil mengkipat-kipatkan tangannya agar tubuhnya bergerak menepi. Setelah seharian digoyang-gaying aliran air akhirnya dia terhempas ke sebuah lubang di tepi sungai.



Si Kancil yang terdampar di sebuah lorong kecil yang  pas dengan ukuran  tubuh mungilnya itu mau tak mau terpaksa  masuk lebih jauh ke dalam lorong.  Dia tak bisa keluar melalui sungai karena arusnya  terlalu deras. Maka dengan susah payah dia berjalan perlahan-lahan menelusuri lorong. Setelah setengah hari berjalan dalam kegelapan akhirnya  didapatinya  lorong berujung pada sebuah parit kecil persis di tengah sebuah kota. Saat dirinya keluar dari parit tersebut dilihatnya pemandangan penduduk kota yang sangat mengenaskan.

Bocah-bocah, orang  muda, orang tua, laki-laki maupun perempuan nampak bertubuh kurus kering dan lemah lunglai.  Daun-daun pepohonan sudah gundul, bahkan rerumputan-pun jarang Agaknya mereka habis dimakan oleh penduduk kota. Dari cerita orang-orang yang ditemuinya tahulah Si Kancil bahwa Kota  Urban telah dikepung musuh selama enam bulan sehingga tidak ada pasokan makanan dari luar kota.

Seorang lelaki muda yang bertubuh tegap walaupun mulai terlihat kurus menceritakan semuanya kepada Sang Kancil saat mereka bertemu di Balai Kota. Rupanya orang itu adalah Pak Walikota yang saat ini  rambutnya sering berdiri karena  otaknya berpikir keras mencari jalan keluar dari kekurangan pangan. Dia tidak tahu berapa lama lagi  rambutnya akan berdiri  kecuali Si Kancil mampu memberi solusi. Lumbung jagung dan beras di kota sudah sangat menipis. Kini bahan pangan hanya dibagikan  setiap dua hari sekali. Artinya rakyatnya makan sepiring nasi tiap dua hari sekali.

^_^

Tragedi kekurangan pangan ini berawal dari serangan yang dilakukan musuh terhadap Kota  Urban yang kaya raya ini. Rupanya majunya perdagangan Kota  Urban beberapa tahun belakangan ini dianggap membahayakan perdagangan di kota-kota tetangga.  Kemajuan pesat  itu  terjadi setelah walikota lama yang selama ini mengutamakan para pedagang asing tersingkir. Pak Walikota baru memberi perlakuan lebih adil pada pedagang pribumi.  

Kota Urban adalah kota terbesar di wilayah ini tetapi selama ini miskin. Hal itu karena pemerintah kota memberi fasilitas berlebihan pada para pedagang asing sehingga mereka berhasil memonopoli perdagangan. Akibatnya rakyat Kota Urban tetap miskin sementara para pedagang asing menjadi kaya raya. 

Walikota juga mengijinkan komplotan pedagang asing menjual ganja kepada penduduk kota. Dia juga membiarkan mereka memberi jatah ganja gratis kepada para pegawai negeri. Akibatnya pekerjaan para pegawai kota menjadi amburadul karena hari-harinya diisi dengan mabuk-mabukan ganja. Demikian juga dengan penduduk kota, banyak diantaranya menjadi tukang bengong karena mengisi hari-harinya dengan fly akibat menghisap ganja. 

Namun  setelah walikota lama tersingkir maka perlakuan istimewa pada  komplotan pedagang asing dicabut. Akibatnya  monopoli perdagangan  oleh para pedagang asing juga tamat riwayatnya.  Peredaran ganja juga dilarang. Hal itu berakibat perekonomian Kota Urban maju pesat karena penduduknya pada dasarnya memiliki hobby bekerja keras. Kini tidak ada lagi  diantara mereka yang menghabiskan waktu dengan bengong sambil menghisap ganja.  Hari-hari mereka menjadi produktif menghasilkan barang-barang yang laku dijual. Hanya dalam beberapa tahun perdagangan Kota Urban omzetnya jauh melampaui  kota-kota tetangga.  

Sejumlah besar anggota komplotan pedagang asing yang tersingkir merasa sakit hati.  Terutama sindikat penjual ganja. Mereka kehilangan pasar terbesar barang dagangan mereka. Karena itu mereka berusaha keras menyingkirkan walikota baru. Mereka menggunakan taktik pencitraan buruk terhadap Kota Urban. Dengan modal citra buruk itulah mereka akan  membujuk pemerintah-pemerintah kota asal  mereka agar menyerang Kota Urban. Setelah itu mereka bermaksud mengangkat kembali walikota lama agar kepentingan mereka dapat terlayani.  

Mula-mula mereka bersekutu dengan penegak hukum  yang bisa disuap di negeri mereka.  Lalu mereka menyewa para bandit, begal, kecu, maling dan perampok untuk melakukan aksinya di kota-kota mereka sendiri. Para penjahat  akan mendapat imbalan uang dalam jumlah besar jika mau mengaku sebagai teroris  suruhan  Walikota Urban yang ditugaskan untuk membuat kota-kota pesaing tidak aman. 

Para penjahat bayaran itu juga membuat kerusuhan dengan membakar gedung-gedung dan pasar-pasar.  Setiapkali tertangkap mereka mengaku sebagai teroris  yang dilatih Kota Urban.  Kadang-kadang para perampok biasa yang tertangkap -- sengaja dibunuh oleh penegak hukum dan diumumkan ke masyarakat sebagai para teroris. Para grayak kelas teri yang tertangkap dijanjikan keringanan hukuman jika bersedia mengaku  sebagai teroris. 

Aksi-aksi perampok yang mengaku sebagai teroris itu  juga sengaja dibesar-besarkan oleh koran-koran yang dimiliki komplotan pedagang asing sehingga timbullah kebencian umum terhadap penduduk Kota Urban. Mereka menyangka bahwa para  penjahat bayaran itu benar-benar  teroris binaan  Kota Urban. Setelah fitnah itu sukses maka mudah sajalah bagi para pedagang asing untuk membujuk pemerintah-pemerintah kota  menyerang Kota Urban.


^_^

Balatentara musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat tak mampu ditahan oleh pasukan pengawal Kota Urban walaupun persenjataan mereka jauh lebih modern. Ratusan pasukan senapan tidak sanggup menahan puluhan ribu pasukan musuh walaupun musuh hanya bersenjatakan busur panah, tombak dan pedang. Pasukan pengawal kota memutuskan untuk mundur ke dalam Kota Urban yang dibentengi tembok yang tinggi.

Musuh tidak mampu mendekati benteng kota karena pasukan senapan yang berjaga diatas benteng dengan cepat menghujani mereka dengan tembakan peluru-peluru tajam. Sementara musuh hanya bersenjatakan alat perang tradisional tidak mampu menjangkau pasukan senapan yang ada di atas benteng.  Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh musuh adalah mengepung Kota Urban sembari berharap Pak Walikota akan menyerah saat seluruh persediaan makanan habis. 

Sudah enam bulan musuh melakukan pengepungan. Namun belum ada tanda-tanda kota akan menyerah. Balatentara musuh yang mengepung sudah mulai gelisah. Mereka heran mengapa Kota Urban mampu bertahan selama itu tanpa pasokan makanan.

Sementara tanpa diketahui oleh para pengepungnya, kondisi Kota Urban sangat menyedihkan. Kekurangan bahan makanan maupun obat-obatan terjadi di seluruh kota. Kini mereka hanya bertahan dengan mengandalkan lumbung padi dan jagung yang sudah mulai menipis. Daun-daunan, tumbuhan, batang tanaman dan umbi-umbian telah mulai dikonsumsi penduduk kota karena jatah makanan yang dibagikan sangat sedikit. Akibatnya jumlah tanaman di kota ini juga telah menyusut dan tidak lama lagi akan ludes.

Sang Kancil yang sepakat akan membantu mengatasi kepungan musuh akhirnya menyarankan suatu strategi pada Pak Walikota. Setelah seharian berdiskusi panjang lebar  dengan Pak Walikota akhirnya beliau menyetujui mencoba taktik Sang Kancil, 

Untuk menjalankan strategi Sang Kancil -- Pak Walikota  harus menyediakan biri-biri yang gemuk beserta anak-anaknya. Setelah seharian dicari-cari di seluruh penjuru kota akhirnya didapatkanlah seekor biri-biri yang gemuk dengan tiga ekor anaknya yang tak kalah gemuk karena mereka dikandangkan di dekat mata air yang penuh lumut. Berkat memakan lumut-lumut yang menempel di bebatuan sekitar matair itulah para biri-biri itu tetap gemuk.


Kemudian Sang Kancil minta keluarga biri-biri itu diberi  makan biji-biji jagung dan gabah-gabah kering. Tentu saja Pak Walikota harus bekerja keras meyakinkan penjaga gudang agar bersedia mengeluarkan persediaan makanan yang sudah menipis untuk diberikan pada biri-biri. Sengaja biri-biri  induk beranak diberi makan banyak-banyak sampai perutnya penuh dengan biji-bijian tersebut.  Si Kancil lalu membuat ramu-ramuan khusus yang bikin muntah untuk induk biri-biri.  Ramu-ramuan itu baru akan bekerja tiga jam setelah diminumkan.

Rombongan biri-biri gemuk itu kemudian dilepaskan oleh Sang Kancil keluar dari benteng kota. Maka hewan-hewan  itu dengan suka cita berlarian ke sana kemari melihat rerumputan yang masih tumbuh subur di luar benteng. Tanpa terasa rombongan biri-biri itu semakin jauh dari benteng dan memasuki perkemahan musuh.

Beberapa prajurit penjaga musuh memergoki biri-biri induk-beranak itu dengan pandangan heran. Bagaimana mungkin sebuah kota yang telah dikepung selama berbulan-bulan masih memiliki biri-biri segemuk ini. Maka ditangkaplah biri-biri itu oleh para prajurit penjaga dan dibawanya pada panglima musuh.

Sang Panglima musuh tak kalah herannya melihat biri-biri yang gemuk itu. Disangkanya di kota yang tengah dikepungnya itu terdapat gudang-gudang besar tempat menyimpan rerumputan sehingga makanan biri-biri tercukupi. Kalau ada gudang rumput – mungkin ada juga gudang beras dan jagung yang besar untuk seluruh penduduk kota pikirnya.

Diam-diam Panglima musuh mulai bimbang harus berapa lama lagi dia melanjutkan pengepungan. Sementara sebagian pasukan sekutunya sudah mulai ingin menarik diri karena merasa terlalu lama melakukan pengepungan dan menganggapnya sebagai pengepungan yang sia-sia karena tak jelas kapan akan berakhir. Apalagi berita baru tentang para teroris yang sebenarnya adalah penjahat sewaan komplotan pedagang asing telah mulai menyebar di kalangan pasukan sekutu. Berita itu membuat semangat  tempur mereka merosot drastis karena merasa mereka bertempur demi membela kejahatan. Bila mati dalam pertempuran mereka sudah dapat mengira-ngira nasib buruk mereka di hari pembalasan.

Ditengah kebimbangan tersebut Si Panglima kaget melihat induk biri-biri batuk-batuk dan kemudian mulai memuntahkan isi perutnya. Rupanya ramuan Sang Kancil telah bekerja. Dalam waktu singkat biri-biri telah memuntahkan semua biji-biji jagung dan gabah yang memenuhi perutnya. Si Panglima musuh terpana saat mengenali makanan yang dimuntahkan biri-biri. Bagaimana mungkin kota yang telah terkepung masih mampu memberi makan biji-biji gabah dan jagung pada hewan. Pastilah itu karena mereka punya persediaan makanan yang sangat banyak.

Kini Panglima musuh tak ragu-ragu lagi. Dia menganggap pengepungan ini adalah sia-sia. Kota itu memiliki jumlah makanan yang melimpah ruah. Pengepungan yang berlarut-larut ini tidak akan ada hasilnya. Maka hari itu juga diputuskan olehnya untuk menarik mundur semua pasukannya.

^_^

Melihat musuh menarik mundur semua pasukannya – penduduk kota bersuka cita, Mereka berduyun-duyun datang pada Sang Kancil untuk mengucapkan terimakasihnya. Pak Walikota memberi penghargaan warga kehormatan kota kepada Sang Kancil.  Rambutnya sudah tidak berdiri lagi karena masalah kota telah dapat teratasi. Pintu gerbang kota telah dibuka kembali, para pedagang dapat membeli beras dan gandum lagi untuk dijual ke dalam kota. Pengepungan telah berakhir, penduduk kota kini dapat hidup normal seperti sediakala (Undil-2012).

gambar diambil dari scenicreflections.com

Mar 7, 2012

Cerpen Si Kancil Merayu Singa Barong

Alkisah Si Kancil sedang  apes ketika pada suatu sore saat sedang menyelidiki batu-batuan vulkanik dia terpergok oleh Singa Barong yang terkenal bertingkah laku sopan  tapi sangat buas terhadap binatang-binatang pemakan tumbuhan seperti Si Kancil.  Kali ini Si Kancil terpojok pada sebuah dinding bukit batu yang terjal tanpa dapat lari lagi. Singa Barong pelan-pelan menghampirinya dengan gayanya yang anggun seraya berkata:

“Tuan Kantjiel, ini hari sudah gelap. Tidak seharusnja binatang merumput seperti Tuan masih berkeliaran di luar rumah!  Sebutkan alasan Tuan masih berada diluar rumah! Bila dapat Saja mengerti,  maka Tuan akan Saja biarkan pergi! Tapi bila tidak masuk akal maka Tuan akan Saja makan”














Sebagai sosok kutu buku yang berpengetahuan luas Kancil tahu persis sifat-sifat  Singa Barong yang dibeberkan panjang lebar pada Kitab Psikologi Carnivora yang dibacanya beberapa tahun silam. Jawaban apapun yang mucul dari mulut Kancil akan dibantah Singa Barong  yang ingin memangsanya. 

Singa Barong hanya sekedar cari-cari alasan saja untuk pembenar dirinya akan  memangsa hewan yang lebih lemah fisiknya seperti Si Kancil. Jadi jawaban tidaklah penting. Langkah yang perlu dilakukan sekarang adalah mempergunakan khazanah ilmu pengetahuan dari buku-buku yang pernah dibacanya untuk merayu Singa Barong agar mengurungkan niatnya memakan Kancil.

“Singa Barong, aku dengar aumanmu sekarang berubah jadi sangat merdu setelah kamu berlatih menyanyi pada burung beo?”  kata Si Kancil mencoba mencari sesuatu yang menarik buat Singa Barong.


Ternyata pilihan topik pembicaraan Sang Kancil tepat sasaran. Singa Barong yang sangat bangga dengan auman yang dianggapnya sangat merdu -- mendadak menjadi sangat senang mendengar pujian Si Kancil. Untuk sejenak dia lupa akan keinginan dirinya memangsa daging Kancil. Dia sangat tertarik mendengar Si Kancil menyebut-nyebut keindahan aumannya.

“Benar sekali Tuan Kantjiel. Saja telah berlatih keras selama satu tahun pada burung beo, dan kini Saja memiliki auman jang boleh dikata tidak akan mengetjewakan pendengarnja” kata Singa Barong dengan hati berbunga-bunga. Tentu saja Si Kancil tambah pede untuk membujuk Singa Barong yang kelihatan sangat tertarik dengan topik pembicaraan.

“Tidak inginkah aumanmu didengar oleh para binatang hutan dengan seksama dan penuh kekaguman?. Tidak inginkah dirimu menjadi pelantun auman yang digemari oleh para penghuni hutan? Aku bisa membuatkan partitur auman istimewa buatmu!”  tanya Kancil langsung to the point menawarkan keuntungan yang akan diperoleh Singa Barong bila bersedia  mengeksplorasi aumannya.

“Mauuuuuuu! Mau banget!!!  Saja ingin sekali mereka mendengarkan Saja mengaum dengan komposisi partitur ciptaan Tuan, sehingga mendjadi sebuah njanjian yang merdu untuk seluruh penghuni hutan!” kata Singa Barong penuh antusias. Singa Barong yang selama ini memendam rasa kesepian karena dijauhi para penghuni hutan sangat berharap auman indahnya akan membuat dirinya lebih dekat dengan mereka.

Sementara Si Kancil juga berlega hati. Dirinya telah berhasil  membujuk Singa Barong untuk melupakan daging kancil yang gurih dan menggantinya dengan mengekplorasi aumannya yang diharapkan akan menghibur penghuni hutan. Kini tiba saatnya Si Kancil membujuk Singa Barong ke tahap berikutnya, yaitu meninggalkan kebiasaan makan binatang-binatang hutan dan beralih menjadi penyantap ikan yang melimpah di sungai di pinggir hutan.

“Dengar Singa Barong! Saat ini para binatang hutan takut mendengar aumanmu! Mereka pada lari terbirit-birit karena takut kau mangsa!. Jadi kalau dirimu mau didengar oleh mereka semua,  harap berhentilah memakan binatang hutan!  Beralihlah menyantap ikan yang melimpah ruah di sungai. Ibaratnya dirimu cukup membuka mulut, mereka akan masuk sendiri saking banyaknya!” kata Si Kancil.

Sejenak Singa Barong merenungkan kata-kata Si Kancil. Dipikirkan untung rugi bila dirinya beralih dari menyantap binatang hutan menjadi menyantap ikan-ikan penghuni sungai. Kalau dipikir-pikir ternyata usulan Kancil memang lebih menguntungkan bagi dirinya. 

Dia tidak perlu susah-payah berburu binatang hutan yang makin lama terasa makin lincah dan susah ditangkap. Dia juga tidak akan dimusuhi oleh mereka, bahkan mungkin sebagian dari mereka bakalan menjadi penggemar aumannya. Itu membuka kemungkinan sebagian mereka akan menjadi sahabat dekat tempat berbagi suka dan duka -- sesuatu yang selama ini tidak dia miliki. Dengan semua alasan tersebut Singa Barong setuju dengan permintaan Sang Kancil. Sejak saat itu Singa Barong berhenti memakan daging binatang hutan dan beralih menyantap ikan-ikan penghuni sungai yang mengalir di pinggir hutan (Undil -2012).

Gambar Singa berbaring karya Rembrandt diambil dari en.wikipedia
     

Jan 22, 2012

Cerita Lucu tapi bukan Si Kancil Mencuri Ketimun

Alkisah Sang Kancil sedang berlatih main teater untuk sebuah pertunjukan besar di Hutan Utopia. Kali ini Sang Kancil harus memerankan Raja Kucing,  yang menjadi tokoh utama dalam pentas itu. Selama sebulan penuh Sang Kancil berguru kepada keluarga kucing anggora agar dapat memerankan Raja Kucing dengan sempurna.



Setelah dirasa cukup berlatih di keluarga kucing anggora, Sang Kancil memutuskan untuk mencoba memerankan kucing di kehidupan nyata. Maka dia berdandan sebagai kucing anggora dan turun ke kampung untuk berperan sebagai kucing di lingkungan manusia.
    
Rumah yang dimasuki oleh Sang Kancil berpenghuni keluarga muda yang baru memiliki bayi kecil bernama Reza. Dia adalah bayi umur 4 bulan yang baru bisa nangis owek owek. Mama Majda Yulianingrum baru kali ini punya bayi, sehingga belum tahu banyak tentang seluk beluk anak bayi.  Kancil masuk rumah sebagai seekor kucing kelabu yang kelaparan dan hendak mencari makan.

Kucing Kancil terus menerus bersuara eow-eow tanpa satu pun penghuni rumah yang tahu maksudnya, kecuali Reza.  Bahasa yang dipergunakan Reza yang owek-owek itu ternyata mirip dengan bahasa kucing yang baru saja dipelajari Sang Kancil.  Jadilah dua makhluk itu dapat nyambung ngobrolnya.

 “Owek-owek”

“Eow-eow”

“Owek-owek-oweek”

“Eow-Eow-Eoooow”

Dua makhluk itu ngobrol dengan seru sampai Mama Majda  bingung karena dikira anaknya nangis terus gak berhenti-berhenti. Padahal sebenarnya Reza sedang mengobrol dengan Kucing Kancil. Mama heran karena sudah dicek Reza tidak ngompol dan tidak pup. Saat diberi nenen juga tidak mau. Jadilah Mama pusing tujuh keliling, akhirnya Reza kembali ditaruh ke dalam box bayi.

Setelah Reza ditaruh ke dalam box bayi, Si Kucing Kancil mendekati Reza untuk melanjutkan obrolan mereka.

“Yi Bayi, aku lapar banget nih. Kamu punya timun gak untuk kumakan?”

“Timun itu kaya apa bentuknya?”

“Itu loh, buah yang bentuknya lonjong panjang, dan kulitnya warnanya hijaur”

“Wooo yang kalo dibelah warnanya merah itu yah?”

“Bukaaaan!  Itu mah semangka namanya. Timun itu yang suka dimakan bareng ayam goreng”

“Ayam goreng itu bentuknya kayak apa?”

“Itu loh yang kalo ditaruh di atas piring ada kaki, sayap dan kepalanya?”

“Woooo ayam goreng itu yang warnanya coklat yah?

“Betul yi”

“Aku tahu sekarang. Timun itu yang suka diiris-iris Mama untuk dimakan setelah makan ayam goreng yah?”

“Betul sekali. Punya gak dirimu?”

“Ada banyak di meja makan. Tapi aku belum bisa ngambilin nih. Aku juga belum bisa bicara pada mamaku. Mama gak mengerti dengan bahasaku. Gimana dung caranya ambil timun buatmu?”

“Udah gini aja. Kamu menangislah sekeras mungkin sampai digendong lagi sama mama kamu. Ntar klo kamu digendong sampai dekat meja makan, tanganmu tunjuk-tunjuk saja ke timun biar diambilin”

“Klo udah diambilin lalu diapain timunnya?”

“Dijatuhin ke lantai di depanku. Nanti aku akan bersuara  eow-eow sambil menyundul-nyundul kaki mamamu”

“Betul juga yah. Kamu pintar sekali Cing”

Kucing Kancil senyum-senyum sendiri karena senang sekali dikira kucing beneran oleh Reza, artinya aktingnya sebagai Raja Kucing saat pementasan nanti bakalan berhasil.

^_^

Seperti skenario Kucing yang sebenarnya adalah Sang Kancil -- Mama Majda cepat-cepat menggendong anaknya saat mendengar suara tangis Reza melengking tinggi. Karena tangisan Reza gak juga berhenti, Mama membawa Reza jalan-jalan keluar kamar. Saat mama berdiri di dekat meja makan tangan Reza menunjuk-nunjuk tumpukan timun di atas piring. Mama dengan cepat mengambilkan seekor timun, biar Reza berhenti menangis. 

Namun setelah timun dipegang Reza, tiba-tiba timun dijatuhkan ke depan kucing yang sedang berada di bawah sambil menyundul-nyundul kaki mama. Mama kaget dengan perbuatan Reza, tapi kemudian tertawa senang melihat ada seekor kucing yang menyantap timun yang dijatuhkan. “Wah anakku pintar sekali, masih bayi udah bisa ngasih makan kucing” ujarnya dengan bangga.

Namun kemudian setelah berpikir sejenak, Mama Majda jadi terheran-heran meilhat Kucing Kancil makan timun. “Mungkin kucing ini udah dibiasakan makan timun sama pemiliknya jadi dia enak aja menyantap ketimun. Wah aku gak boleh kalah sama kucing niy, aku harus lebih rajin makan sayur-sayuran”  pikir Mama.

Hari itu Sang Kancil cukup puas dengan aktingnya sebagai seekor kucing. Sampai saat dia kembali ke Hutan Utopia bayi Reza dan Mama Majda Yulianingrum tidak mengenali dirinya sebagai seekor kancil (Undil-2012)

gambar diambil dari : vincentvangoghgallery.org

tags: cerita lucu, cerita pendek,cerpen, dongeng sang kancil, 

Jan 8, 2012

More Sophisticated Story of Si Kancil Mencuri Timun

Sang Kancil dalam perjalanan dari Hutan Utopia menuju Gunung Sepikul mengikuti petunjuk buku Ki Wagenugraha, seorang ahli ilmu hayati paling mumpuni di saentero Pulau Jawa. Dalam Kitab Bab Suket-suketan karya Ki Wagenugraha tertera bahwa di Gunung Sepikul terdapat beberapa jenis rerumputan yang tahan kekeringan karena memiliki umbi akar yang berfungsi menyimpan cadangan air. 

Sang Kancil akan menanam rerumputan tahan kekeringan di seputar telaga di tengah Hutan Utopia agar kelak jadi makanan cadangan buat para penghuni hutan selama musim kemarau. 

Sudah dua minggu dia menempuh perjalanan jauh tatkala tiba di sebuah kebun tanaman ketimun yang nampak memiliki batang-batang yang kurus, daun-daun yang sebagian menguning  dan buah-buah kecil yang bergelantungan.

Baru saja Sang Kancil duduk, tiba-tiba bertiup angin kencang yang menerbangkan topi orang-orangan – boneka kayu yang dipasang ditengah kebun ketimun.  Sang Kancil segera berlari mengejar topi itu dan bermaksud memasangnya kembali ke tubuh orang-orangan. Sialnya saat tangannya menyentuh dada orang-orangan, tangannya menempel  pada tubuh si boneka kayu dan tidak bisa dilepaskan.  Semakin keras dia berusaha melepaskan, semakin banyak bagian tubuh Sang Kancil yang melekat pada orang-orangan. 


Pak Tani yang menemukan Sang Kancil terjebak pada tubuh orang-orangan langsung menyangka dirinya berhasil  menangkap pencuri yang selama ini mengganggu kebunnya. Maka ditetapkanlah hukuman pada Sang Kancil untuk bekerja membersihkan ladang Pak Tani selama 6 bulan terus menerus sebelum dia boleh pergi melanjutkan perjalanan ke Gunung Sepikul. Selama menjalani masa hukuman Sang Kancil akan dirantai kakinya dan dijaga oleh Anjing Gembala.

Tentu saja Sang Kancil sangat keberatan dengan hukuman itu. Ketimun yang ada di kebun Pak Tani masih terlalu kecil untuk dimakan, dan dirinya tidak bakalan doyan memakan timun mentah itu. Lagipula tidak ada bukti bekas gigitan atau sisa-sisa timun yang dimakan di kebun itu. Jadi tuduhan Pak Tani tanpa bukti.   

Namun kata-katanya tidak didengar sama sekali oleh Pak Tani yang yakin Sang Kancil telah sering beroperasi menjarah ketimun. Terpaksalah Sang Kancil rela menjalani hukuman sambil memikirkan cara secepatnya pergi ke Gunung Sepikul  agar penduduk Hutan Utopia tidak kekurangan rumput di musim kering yang akan datang.

Untunglah di sela-sela waktu menjalani hukuman di ladang Pak Tani, Sang Kancil sempat ngobrol-ngobrol dengan Anjing Gembala yang bertugas menjaganya supaya tidak kabur. Dari Si Anjing Gembala, Sang Kancil tahu bahwa para petani di desa akhir-akhir ini kekurangan air karena sumber air yang mengalir dari Gunung Putih telah dikuasai sekelompok orang bersenjata yang dipimpin seseorang yang dijuluki Orang Berkumis dari Gunung. 

^_^

Orangnya tinggi jangkung, berkulit putih bersih, bermata belo warna kecoklatan, berambut kemerahan yang dicukur cepak, dan berkumis warna merah yang jarang-jarang tumbuhnya. Walaupun demikian orang-orang menjulukinya Orang Berkumis dari Gunung. Orang ini sangat giat mencari pengikut baru. Sepekan sekali dia membayar tukang teriak di pasar-pasar untuk meneriakkan ajaran-ajarannya tentang kebebasan tanpa batas. Dia juga mengundang anak-anak muda untuk berkunjung ke perpustakaan miliknya dan berdiskusi tentang kebebasan.

Setealh merasa cukup kuat, kelompok orang yang menguasai Gunung Putih itu membendung sumber air yang memancar dari puncak gunung dan hanya membuka penuh aliran air ke dataran yang berada di sisi selatan Gunung yang tanahnya lebih rendah daripada sisi utara gunung.  

Aliran air ke arah utara masih ada tetapi tinggal setengahnya. Akibatnya tanah pertanian di desa-desa di sisi utara gunung tidak mendapatkan air yang cukup.  Pertumbuhan tanaman menjadi kurang bagus,hasil panen pun menurun. Secara umum baik padi maupun palawija hanya memberi hasil panen dua pertiga saja dari sebelumnya.  Pendeknya penduduk di sisi utara gunung dirugikan oleh pembendungan itu.
 
Belasan kali para petani mengirim utusan untuk meminta bendungan dibuka, tetapi selalu ditolak. Akhirnya para petani membentuk pasukan bersenjata dan berusaha merebut kembali  gunung itu -- namun selalu gagal. Sebenarnya jumlah kelompok yang dipimpin Orang Berkumis dari Gunung itu tidak banyak. Kekuatan mereka hanya belasan orang pasukan pemanah saja ditambah beberapa puluh pekerja tambang yang tak pandai memainkan pedang. Namun di sekeliling gunung itu terdapat dinding batu yang tidak bisa ditembus oleh para petani.  

Walaupun jumlahnya ratusan orang, pasukan petani selalu dipukul mundur karena hujan anak panah yang menimpa mereka saat berusaha mendekati benteng batu. Lagipula ketinggian benteng batu tersebut menyulitkan para petani untuk memanjatnya. Setelah mencoba berkali-kali dan gagal mengusir gerombolan dari gunung itu maka para petani menjadi jera dan mendiamkan mereka.

Pembendungan air oleh para penghuni gunung konon dilakukan untuk keperluan tambang. Mereka menggali tanah untuk mendapatkan tembaga dan emas dari gunung. Mereka memerlukan air dalam jumlah banyak untuk mencuci biji-biji tembaga dan emas yang masih bercampur dengan tanah.  Entah apa yang dipikirkan para penghuni gunung  yang mengabaikan nasib para petani di utara. Mungkin mereka menganggap berkurangnya sepertiga hasil panen adalah tidak seberapa dibanding manfaat yang bisa mereka raih dari menambang emas dari gunung.

^_^

Konon mereka adalah sekelompok orang yang memuja kebebasan. Mereka ingin merdeka dari pengaruh penguasa-penguasa yang ada di wilayah ini, seperti House of Pajangan yang berkuasa di sebelah barat dan House of Badegan di sebelah timur. Mereka ingin bebas menentukan hidup mereka sendiri tanpa campur tangan orang lain, tanpa etika, tanpa tatakrama, tanpa budaya maupun agama yang membatasi kebebasan mereka. Namun pada kenyataannya apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ditentukan oleh Sang Pemimpin, yaitu Si Orang Berkumis dari Gunung.

Orang Berkumis adalah bekas pedagang kaya yang telah puluhan tahun melanglang benua Asia, Eropa dan Afrika yang membuatnya memiliki pengalaman yang sangat luas. Kini dia memutuskan tinggal di Gunung Putih setelah terpesona oleh gunung yang dari kejauhan nampak berwarna putih kebiru-biruan. Dari pengalaman saat berbisnis dengan para ahli pertambangan di Kesultanan Gowa India, dia tahu bahwa warna kebiruan itu berasal dari tembaga. Dia yakin di gunung itu tersimpan tembaga dan bahkan emas yang akan membiayai ambisinya membentuk koloni yang terdiri atas orang-orang penganut kebebasan tanpa batas.

Maka dipergunakanlah seluruh kekayaannya untuk membiayai cita-cita itu. Dibentuklah pasukan kecil yang terdiri atas para pemanah ulung. Dibangunnya benteng batu di sekeliling gunung. Setelah semuanya siap, barulah dia berani membendung sumber mata air untuk mengolah hasil tambang dari Gunung Putih. Beberapakali serbuan dari para petani dengan mudah dipatahkan oleh tembakan dari busur-busur panjang milik pasukan pemanah yang berlindung di atas benteng batu yang menjulang tinggi. Benteng batu itu terlalu kokoh para petani.

Sebenarnya Si Orang Berkumis enggan menggunakan kekerasan fisik untuk mencapai tujuannya. Dia lebih mengandalkan cara-cara dengan memberi penjelasan panjang lebar tentang manfaat kebebasan tanpa batas pada masyarakat awam.

Sebuah perpustakaan besar dia bangun dan berisi ribuan buku tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk keperluan itu. Di sana terdapat buku-buku tentang kebebasan tanpa batas yang menjadi bekal para pengikutnya dalam usaha mencari pengikut baru dari kalangan penduduk desa. Orang Berkumis berambisi limabelas tahun yang akan datang, Perpustakaan Gunung Putih akan mampu sejajar dengan kebesaran Perpustakaan Madrasah Tinggi milik Sunan Bonang di Tuban yang tersohor sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban di Nusantara. Dia juga mempekerjakan beberapa juru tulis untuk mencatat kehidupan sehari-hari di Gunung Putih dan desa-desa sekitarnya sebagai bahan pertimbangan dalam  menentukan strategi mencari pengikut di wilayah ini. 

Si Orang Berkumis hanya sesekali mengirim orang-orangnya untuk mengancam para pemimpin petani yang terang-terangan menentang kehadiran mereka di Gunung Putih. Mereka dilatih untuk melakukan ancaman dengan diam-diam dan halus serta menghindari korban terluka. Umumnya dengan cara menaruh pisau belati di bantal orang yang diancam atau menaruh bungkusan berisi racun di dekat piring nasi mereka. Perbuatan itu adalah simbol bahwa Orang Berkumis mampu menikam atau meracun orang yang menentangnya kalau dia mau.  Tujuannya hanya untuk menakut-nakuti para petani sehingga tidak ada lagi yang berani bergerak menentang mereka.

Di sisi lain mereka memiliki para tabib yang hebat. Bila ada orang desa yang sakit dan tidak bisa sembuh oleh para tabib yang ada di desa, maka mereka akan mengutus orang untuk datang ke Gunung itu. Lalu Si Orang Berkumis akan mengutus tabib kepercayaannya untuk datang ke desa dan mengobati  si sakit hingga sembuh. Semua itu dilakukan tanpa bayaran.

Si Orang Berkumis juga suka memerintahkan anak buahnya mengirim sekarung beras pada orang-orang tua renta yang sudah tidak punya keluarga lagi. Juga pada anak-anak yatim yang hidup dalam kekurangan.  Dia juga tak segan-segan mengirimkan uang untuk keperluan anak-anak kecil yang ingin membeli mainan tetapi tidak punya uang.  Akibat dari kebaikan hati mereka itu sebagian penduduk tidak menganggap mereka orang jahat, terutama penduduk yang berada di sebelah selatan gunung yang tidak terganggu aliran airnya. Beberapa pemuda bahkan mulai terbujuk menjadi pekerja tambang di Gunung Putih.

^_^

Setelah mendengar kisah tentang Orang Berkumis dari Gunung, Sang Kancil minta diantar oleh Anjing Gembala untuk melihat-lihat sekitar Gunung Putih.  Dia tahu persis bahwa para penghuni gunung sengaja berbuat baik karena mereka ingin mendapatkan pengikut baru sebanyak-banyaknya untuk membangun negeri para pemuja kebebasan. Mereka juga sangat membutuhkan pasokan makanan dan pakaian dari desa-desa sekitarnya. Jika mereka berlaku kasar maka semua penduduk akan membenci dan memboikot mereka sehingga mereka bakalan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Sang Kancil bertekad akan mencari jalan guna menghentikan meluasnya ajaran sesat yang disebarkan Orang Berkumis. Dia tahu persis orang-orang bebas itu akan menghalalkan segala cara untuk membuat masjid-masjid sepi dan orang lebih suka pergi ke tempat hiburan daripada ke pengajian. Dia tak ingin negeri ini hancur karena berkuasanya segelintir pemuja kebebasan yang ingin melepaskan diri dari segala macam aturan.  Dia akan mengerahkan otaknya untuk melihat titik lemah benteng batu itu.

Setelah mengamat-amati sebentar gunung itu dan melihat benteng batu yang mengelilingnya Sang Kancil tersenyum dan tahu apa yang harus dilakukan para petani. Maka dia minta Anjing Gembala menemui Pak Tani untuk menyampaikan tawarannya. Sang Kancil akan membantu para petani merebut Gunung Putih, dan sebagai imbalannya dia minta dirinya dibebaskan.

Untunglah Pak Tani yang telah frustasi melihat sebagian pemuda telah terpengaruh ajaran si Orang berkumis dan mulai sering terlihat mabuk-mabukan di tempat umum -- dengan antusias menerima tawaran Sang Kancil. Dia setuju membebaskan Sang Kancil dari hukuman bila berhasil menolong para petani menaklukkan Orang Berkumis. Maka setelah mendengar uraian strategi  Sang Kancil semakin percayalah Pak Tani akan keberhasilan strategi yang ditawarkan tersebut. Sebuah strategi yang tidak terlalu rumit untuk dilakukan tetapi tidak pernah terpikirkan oleh para petani.

Maka dikumpulkannya para petani lainnya dan dikatakan bahwa dirinya akan membentuk pasukan seperti dulu lagi. Tapi ternyata tidak mudah. Kegagalan berulangkali yang menimpa mereka dan ancaman yang disebarkan Orang Berkumis dari Gunung Putih telah membuat Pak Tani kesulitan mengumpulkan orang-orang untuk melakukan perlawanan. Apalagi diantara pasukan yang terdahulu terdapat beberapa orang yang telah ditolong oleh si Orang Berkumis dari Gunung. Bahkan beberapa anak muda telah terbujuk meninggalkan sawahnya dan beralih menjadi pekerja tambang di Gunung Putih.

“Masa hanya karena beberapa keping uang emas kalian membiarkan hak kalian diambil oleh mereka? Semurah itukah harga diri kalian? Mereka orang-orang asing yang mengambil air kita, lalu mengancam kita dan membujuk kita dengan sedikit uang! Apakah kita membiarkan mereka mendiktekan pada kita perilaku mana yang dianggap baik dan perilaku mana yang salah sesuai kepentingan mereka! kata Pak Tani.

"Apa jadinya anak-anak kita bila jadi pengikut mereka lalu meninggalkan budaya, etika dan agama? Bagaimana jika keturunan kita menjadi pengikut ajaran kebebasan, pengisap ganja, maksiat, dan memuja hawa nafsu. Akan hancurlah masa depan negeri kita! Apa kalian tidak malu pada anak cucu kita kelak ketika mereka mendengar kita menjual masa depan mereka dengan harga sangat murah? Apa kalian tidak malu pada Tuhan yang memberi kita kekuatan dan akal untuk melawan para pemuja kebebasan?” teriak Pak Tani berapi-api yang membuat sekelompok petani tua dan muda yang menolak ikut serta dalam pertempuran menunduk malu.

^_^

Butuh waktu sebulan untuk mengumpulkan beberapa ratus orang. Hanya setengah dari jumlah petani yang berangkat untuk melakukan perlawanan beberapa waktu yang lalu. Namun Pak Tani tidak putus asa. Dia merasa dengan beberapa ratus orang ini,  kekuatan pasukannya telah berkali-kali lipat dari pasukan Orang Berkumis dari Gunung. Jadi dia yakin bila pasukannya berhasil menembus benteng maka pertempuran di dalam benteng batu akan dimenangkan oleh para petani. Dengan keyakinan itulah dia mulai mempersiapkan pasukannya dengan mempergunakan strategi Sang Kancil.

Setelah terkumpul orang-orang yang akan membebaskan Gunung Putih tibalah saatnya untuk mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan. Mereka mempersiapkan secara diam-diam karena khawatir rencana itu bocor ke telinga Orang Berkumis dari yang telah memiliki simpatisan dimana-mana. Oleh karena itu mereka membuat persiapan di gudang bawah tanah di bawah lumbung padi Pak Tani. Para petani secara bergiliran datang ke gudang itu dan membuat persiapan di sana.

Sang Kancil sengaja mengatur jadwal kerja para petani itu secara bergiliran karena khawatir akan menarik perhatian orang banyak. Biar mereka dikira kumpul-kumpul saja sesama petani yang sedang membicarakan hama dan pemupukan tanaman. Orang-orang yang tidak bersedia bergabung dalam pasukan tidak pernah diberitahu rencana itu, sehingga mereka menyangka Pak Tani gagal membentuk pasukan baru. Berita itulah yang sampai ke telinga Orang Berkumis sehingga dia hanya sesekali mengirim orang untuk mengamat-amati rumah Pak Tani.

Setelah semua perlengkapan siap, penyerangan tidak segera dapat dilakukan. Strategi Sang Kancil  hanya dapat diterapkan saat malam gelap gulita tak ada sinar rembulan ataupun bintang-bintang. Jika ada cahaya kemungkinan penyerangan akan gagal lagi karena ketahuan oleh musuh.

Para petani  dengan sabar menunggu sampai saat itu datang. Setelah sepuluh hari menunggu akhirnya malam itu tiba. Bulan muda sedang kecil-kecilnya, sementara mendung menggantung di langit menutup cahaya bintang-bintang. Malam gelap gulita menyelimuti Gunung Putih. Malam yang sempurna untuk menjalankan strategi pembebasan Sang Kancil.

Pada malam yang sunyi itu nampak sekelompok petani bersama Sang Kancil mendaki Bukit Biru yang terletak di sebelah utara Gunung Putih. Mereka menenteng Gantole-gantole besar yang terbuat dari kain dan rangka bambu. Rupanya para petani itu hendak menerobos  Gunung Putih dari udara. Mereka akan menaiki Gantole yang akan membawa mereka terbang bersama angin yang bertiup kencang.

Sudah sebulan ini para petani giat membuat gantole dari rangka bambu dan kain-kain yang mereka kumpulkan di gudang bawah tanah milik Pak Tani. Kain-kain dari mulai dari kain sarung, gorden  sampai jarik milik ibu-ibu petani disumbangkan untuk membuat Gantole. Mereka sadar betul bahwa mereka harus berkorban agar dapat hidup dengan bebas dari ancaman orang-orang Gunung Putih. Selama mereka masih menguasai Gunung Putih, maka keinginan untuk leluasa mendapatkan sumber air dan anak-anak mereka terbebas dari pengaruh ajaran sesat tidak akan tercapai. Kesadaran itulah yang menjadikan pembuatan Gantole-gantole cepat terselesaikan.

Untunglah di dekat rumah Pak Tani ada seorang ahli desain bernama Nyi Ida Nurnaeni. Seperti halnya Ki Wagenugraha yang menimba ilmu dari madrasah-madrasah di seluruh penjuru dunia, Si Nyi Ida Nurnaeni ini telah lama berkelana keliling dunia untuk menimba ketrampilan membuat desain beraneka ragam barang yang rumit-rumit.

Tak kurang dari kota-kota besar di dunia seperti Jepara, Tuban, Bergota, Malaka, Gowa, Alepo, Paris bahkan Constantinopel pernah dikunjunginya. Berkat keluasan ilmunya petunjuk-petunjuk Sang Kancil tentang cara membuat Gantole dengan mudah dipahaminya. Nyi Ida Nurnaeni juga dengan cepat dapat melatih para petani untuk membantunya menyelesaikan Gantole-gantole itu. 

^_^

Awalnya  nampaklah satu buah Gantole terbang dari atas Bukit Biru. Setelah nampak gantole itu terbang mulus mengelilingi bukit, segera diikuti oleh puluhan Gantole lain yang menyusul membelah langit malam yang kelam. Hingga tengah malam telah ratusan Gantole melayang mengitari Bukit Biru. Tak berapa lama kemudian Gantole-gantole itu bergerak menuju Gunung Putih.

Mereka nampak mengitari gunung itu satu kali sebelum tiba-tiba menukik turun ke sebelah dalam benteng  yang mengitari Gunung Putih. Ratusan petani itu terjun langsung ke markas Orang Berkumis dari Gunung Putih  yang telah berbulan-bulan membendung air mereka.

Terjadilah pertempuran seru di dalam Gunung Putih. Belasan pasukan Orang Berkumis kaget sekali mengalami serangan mendadak dari udara. Mereka sama sekali tidak menyangka bakalan digempur dari udara sehingga nampak tidak siap mengalami pertempuran jarak dekat. Mereka dengan cepat keteteran  menghadapi para petani yang menyerbu dengan senjata-senjata terhunus.

Jika saja serangan dilakukan dari darat orang-orang Gunung Putih akan dengan mudah memukul mundur para penyerang meskipun penyerang itu adalah ratusan pasukan kerajaan yang terlatih baik. Itu semua karena Orang Berkumis adalah seorang ahli strategi perang. Dia membangun benteng batu di Gunung Putih dengan pertimbangan yang matang.

Benteng itu sangat tinggi dan kokoh sehingga tidak akan dengan mudah ditembus oleh pasukan kavaleri terbaik sekalipun. Si Orang berkumis tak segan mengajarkan strategi perang kepada pengikutnya. Dia rajin menuliskan taktik-taktik perang yang dikuasainya dan menjadi buku yang wajib dibaca oleh para pasukan di Gunung Putih agar mereka terampil dalam menjaga benteng pertahanan.

Namun kali ini adalah serangan udara. Sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh Orang Berkumis. Pasukan pemanah tidak dipersiapkan untuk melawan banyak orang dalam pertempuran jarak dekat. Perlahan namun pasti pasukan Gunung Putih terdesak mundur. Mereka terdesak semakin mendekati markas pimpinan mereka yang berupa sebuah rumah besar dari batu. Satu persatu para gerombolan Gunung Putih itu jatuh ke tanah tak berdaya menghadapi keperkasaan pasukan petani. Sisanya menyerah sambil melolong-lolong minta diampuni.

Sementara Orang Berkumis nampak berusaha terus bertempur mempertahankan rumahnya. Dalam hatinya dia terheran-heran dengan kecerdasan orang yang telah menyerang banteng pertahanannya dari udara. Sesuatu yang tak pernah dia jumpai sepanjang hidupnya yang dihabiskan untuk berkelana melanglang dunia. Bukan main cerdasnya orang yang menggunakan strategi ini.  Tak malulah bila dia harus kalah oleh ahli strategi perang secerdas ini.

Kemudian saat dilihatnya satu persatu anak buahnya menyerah atau jatuh terkapar di tanah, hatinya menjadi kecut. Tak mungkin dia mampu melawan para petani ini seorang diri. Maka tak ada pilihan lain bagi dirinya selain menyerah. 

^_^

Malam itu juga bendungan yang membendung aliran sungai menuju desa dijebol. Air kembali mengalir  memenuhi parit-parit irigasi dan membasahi sawah-sawah yang kekurangan air.  Para petani lega, mereka juga sangat berterimakasih pada Sang Kancil yang telah memberi mereka bantuan dalam mengalahkan Orang Berkumis. Kini Gunung Putih telah dikuasai kembali oleh para petani.

Perpustakaan yang dimiliki Orang Berkumis itu diambil alih oleh para petani. Buku-buku yang bermanfaat dipertahankan sedangkan buku-buku sesat tentang kebebasan tanpa batas dibakar habis oleh para petani. Mereka tidak ingin pemikiran anak-anak muda yang masih belum matang akan dirusak oleh buku-buku sesat itu. Para petani sepakat untuk menempatkan beberapa orang terpelajar di kalangan mereka untuk menjaga perpustakaan itu sambil mengajarkan ilmu pengetahuan pada anak-anak petani.

Dari catatan-catatan yang ada di perpustakaan Gunung Putih diketahui bahwa di gunung tersebut bersarang sekelompok tikus besar pemakan ketimun yang sering turun ke desa untuk mencari makan. Tikus itu juga suka mengganggu gudang makanan milik Orang Berkumis, namun mereka hanya menyantap simpanan makanan berupa ketimun. Orang Berkumis belum berhasil menemukan tempat persembunyian tikus-tikus besar tersebut sehingga belum berhasil  memusnahkan mereka.  Dari catatan itulah Pak Tani tahu bahwa selama ini para pencuri ketimun bersembunyi di gunung ini.   

Kini tugas Sang Kancil untuk mengatasi masalah yang dihadapi para petani telah selesai. Namun masih ada satu hal yang mengganjal hati Sang Kancil, yaitu keengganan Pak Tani untuk mengakui bahwa dirinya telah salah karena menangkap Sang Kancil. Padahal telah ada bukti catatan di perpustakaan bahwa si pencuri adalah tikus besar. Walaupun demikian Sang Kancil tidak kecewa. Mungkin saat ini Pak Tani lupa mengakui kesalahannya karena orang itu sedang mendapat banyak pujian dari petani lain karena berhasil memimpin pembebasan Gunung Putih. Mungkin juga dia masih malu untuk mengakuinya  sekarang. Siapa tahu di masa datang dia bersedia mengakui kesalahan dan minta maaf pada Sang Kancil.

Lepas dari itu, Pak Tani memperlakukan Sang Kancil dengan sangat baik. Sebagai tanda terimakasihnya, dia meminta beberapa petani untuk mengantarkan Sang Kancil ke Gunung Sepikul dengan kereta kuda. Para petani itu dengan senang hati memenuhi permintaan tersebut. Mereka berharap para penghuni Hutan Utopia dapat terhindar dari ancaman kekurangan makanan dengan ditanamnya rumput-rumput tahan kering dari Gunung Sepikul ke dataran sekitar telaga di Hutan Utopia (undil – 2012).

gambar diambil dari: www.supercoloring.com/ 
           

Nov 18, 2011

Dongeng Sang Kancil vs Suku Penjarah

Berita tentang sepak terjang Suku Pongpongbolong sudah meluas sampai ke hutan-hutan di sekitar Laguna Biru. Suku Pongpongbolong adalah sekelompok orang kurang terpelajar yang kerjanya merambah hutan, menebangi kayu-kayunya dan membakar sisanya. Mereka juga memburu binatang-binatang hutan untuk diambil kulitnya atau diawetkan untuk dijual.

Begitu mereka berhasil memasuki sebuah hutan mereka akan merusaknya, mengaduk-aduk tanahnya untuk mencari logam mulia dan meninggalkannya setelah tidak ada pohon, hewan dan barang berharga yang tersisa untuk dijarah. Tak heran mereka sukses merubah hutan-hutan lebat menjadi padang tandus, kering dan berantakan.



Kengerian akan sepak terjang mereka semakin bertambah saat kelompok penjarah itu mulai mampu membeli senapan dan mesiu untuk memperlancar aksi penjarahan hutan. Perlawanan dari kawanan Macan dan Gajah yang mengamuk  menjadi tidak ada artinya di hadapan terjangan timah panas. Senapan-senapan itu membuat mereka tak mampu dilawan para binatang. Karenanya Suku Pongpongbolong sangat ditakuti oleh para penghuni hutan.   

Binatang penghuni Hutan Utopia di seberang selatan Laguna Biru sudah mulai resah mendengar kabar kedatangan suku Pongpongbolong di hutan cemara sebelah utara Laguna. Mereka telah mendirikan tenda-tenda di tepi Laguna. Sebentar lagi makhluk-makhluk penjarah itu akan menebangi pohon cemara untuk membuat rakit-rakit guna menyeberangi Laguna menuju Hutan Utopia yang sangat subur dan kaya aneka ragam kekayaan hutan. Sebuah hutan impian bagi Suku Pongpongbolong untuk dijarah sampai tandas.

^_^

Ratusan penghuni Hutan Utopia telah berkumpul di depan rumah Sang Kancil untuk meminta nasehat-nasehat menghadapi kedatangan Suku Pongpongbolong. Sang Kancil yang dikenal oleh para penghuni hutan sebagai binatang paling kutu buku sehutan raya adalah satu-satunya harapan mereka. Si gudang ilmu pengetahuan nampak keluar dari rumahnya, memakai syal sambil berjalan terhuyung-huyung dipapah dua ekor gajah yang menjadi asistennya . Rupanya dia sedang sakit flu berat.

“Maafkan aku sedang sakit, tidak bisa lama-lama berada di luar rumah” ujar Sang Kancil

“Temui kami sebentar saja. Kami hanya minta nasehat cara menghadapi para penjarah Suku Pongpongbolong dengan ilmu pengetahuan & kebijaksanaan yang kau pelajari selama ini”

“Dengarlah ini kunci kemenangan kalian. Mereka orang-orang bodoh yang malas belajar dan pendek akalnya. Mereka yang hanya bisa menjarah hutan dan merusaknya tanpa kesadaran untuk memeliharanya atau memanfaatkan untuk hal-hal lain seperti bercocok tanam atau memelihara ternak. Kalian harus menggunakan hasil pemikiran bersama untuk mengalahkan mereka” kata Sang Kancil

“Ajarkan pada kami satu taktik melawan mereka. Kami akan berunding untuk mencari cara-cara tambahan untuk mengalahkan mereka” kata Beruang Madu selaku wakil para binatang.

Para binatang tahu bahwa Sang Kancil paling tidak suka mendiktekan cara menyelesaikan suatu masalah. Dia hanya mau memberi beberapa petunjuk, selanjutnya para binatang harus mendiskusikan di antara mereka untuk mendapatkan cara terbaik mengatasi suatu masalah. Sang Kancil berpandangan bahwa hasil pikiran ratusan binatang akan lebih baik dibanding hasil pikirannya seorang diri. Karena itulah dia enggan mengajarkan pemecahan masalah secara utuh dari A sampai Z.

“Baiklah aku ajarkan satu cara. Namun kalian harus berunding guna melengkapinya agar menjadi satu taktik yang hebat untuk mengalahkan mereka”


“Setuju Sang Kancil, kami akan berdiskusi untuk mendapatkan cara mengalahkan mereka” teriak Beruang Madu dengan mata berbinar-binar karena berharap mendapat taktik yang jitu dari Sang Kutu Buku.

“Dengarlah teman-teman. Suku Pongpongbolong itu bodoh. Mereka malas mempelajari fenomena-fenomena alam. Mereka tidak tahu banyak tentang sifat-sifat suara. Kita manfaatkan kelemahan mereka itu. Kita akan menakut-nakuti mereka dengan menjatuhkan guci-guci ke jurang besar di mulut hutan. Guci-guci tersebut aku rancang untuk memberikan suara yang sangat keras saat pecah di dasar jurang. Aku telah menelitinya selama bertahun-tahun di laboratorium. Saat guci-guci itu pecah, dinding-dinding jurang akan memantulkan suara yang sangat dahsyat dan menakutkan bagi orang-orang yang tidak tahu bahwa suara tersebut berasal dari gema suara di dinding-dinding batu” kata Sang Kancil

“Setujuuuuu….. Hore kita akan mengalahkan mereka” teriak para penghuni hutan.

^_^

Maka mulai hari itu ratusan penghuni hutan sibuk membuat guci-guci sesuai rancangan Sang Kancil. Mereka juga berdiskusi tentang cara mengalahkan para penjarah hutan. Maka diputuskan untuk mengirim pasukan lebah dan semut ngangkrang saat Suku Pongpongbolong telah mendarat dari rakit-rakit mereka.

Mereka juga mempersiapkan kawanan gagak untuk berkaok-kaok di dasar jurang bersamaan dengan dijatuhkannya guci-guci agar biar memberikan efek suara yang lebih menakutkan bagi para penjarah hutan. Tak  lupa kawanan binatang itu mempersiapkan tumpukan kayu di balik sebuah bukit di tengah hutan untuk dibakar agar menimbulkan asap yang tebal.

Seperti yang telah direncanakan, saat ratusan kawanan Suku Pongpongbolong mencapai seberang Laguna, mereka langsung disambut oleh sengatan ribuan lebah.  Ketika mereka berhasil mengusir serbuan lebah dengan api dari  obor-obor yang mereka nyalakan, tiba-tiba datang ribuan semut ngangkrang mengigiti kaki mereka.  Bersamaan dengan itu terdengar suara dentuman-dentuman dahsyat dari arah hutan disertai asap yang membubung tinggi dari bukit yang menjulang di tengah hutan.

Para penjarah Suku Pongpongbolong sangat takut mendengar suara-suara berdentum-dentum sangat keras dari dalam hutan. Awalnya mereka menyangka ada raksasa sedang terbatuk-batuk di dalam hutan. Namun saat mereka melihat asap membubung tinggi dari atas bukit, mereka langsung mengira tengah terjadi letusan gunung api dari dari dalam hutan. Maka mereka memilih mengambil langkah seribu karena takut terkena terjangan lava pijar gunung api.

Di pagi yang cerah itu para penghuni hutan menyaksikan suku penjarah yang sangat ditakuti itu tiba-tiba menjadi sekelompok cecurut penakut yang lari terbirit-birit kembali ke atas rakit untuk pergi sejauh-jauhnya dari Hutan Utopia. Para binatang bersorak sorai melihat musuh mereka lari terkencing-kencing. Hutan Utopia akan kembali aman dari ancaman penjarahan. Mereka sangat senang memiliki Sang Kancil selaku kutu buku yang nasehatnya sangat ampuh untuk menaklukan musuh. Namun mereka juga sangat bangga dengan ide letusan palsu gunung api. Sungguh suatu ide cemerlang yang muncul begitu saja saat diskusi di antara mereka (Undil – 2011).

tags: dongeng sang kancil, cerita kancil, cerita anak, cerita pendek, cerpen, cerita manajemen

gambar diambil dari : paintinghere.com
   

Rahasia Puaskan Istri Anda

Tags

Abu Nawas (29) Amazing (27) Anak Kecil (33) Aneh Dan Unik (28) BB++ (57) CERITA LUCU (181) CERITA LUCU DEWASA (84) Cerita (47) Cerita lucu abu nawas (38) Cerita ngocol (76) Cewe Cowo (64) Dokter (66) English Joke (32) English Jokes (57) Five story (24) Gallery (20) Gambar (89) Gambar Plesetan (315) Gambar n Foto Lucu (52) Guru (102) HP (40) Heboh (105) Hot Spot (34) Humor Dewasa (117) Humor Indonesia (70) Humor Umum (112) Humor and Jokes (87) Iklan Kocak (46) Indonesian Jokes (70) Info (130) Istri (75) Keren (49) Kesehatan (28) Kisah Abu Nawas (66) Komik (299) Komik Mahasiswa (123) Komik dewasa (30) Kumpulan Cerita Humor Dewasa Lucu (118) Kumpulan SMS Humor Lucu (40) Lucu (389) Mahasiswa (37) Maho (61) Mengenal Diri (58) Murid (54) Ngeri (28) Ngocol Aja (113) Parah (48) Pasien (30) Pelayan (36) Pembeli (38) Pengetahuan (35) Penjual (53) Polisi (63) SMS (83) Sekolah (55) Seven story (35) Sex (35) Sms Cinta (88) Sms Jail (52) Sms Narsis (62) Sms Romantis (80) Sms iseng (286) Sms lucu (204) Sms untuk pacar (62) Sms untuk sahabat (70) Sms untuk teman (88) Suami (41) Teka Teki (36) Tips (66) Top Ten (43) Top sepuluh (53) Umum (75) Wanita (48) bego (146) cerita anak (29) cerita manajemen (20) cerita ngakak (122) cerita pendek (179) cerpen (65) dongeng sang kancil (28) goblog (151) gokil (341) hikayat abu nawas (28) humor (99) humor abu nawas (37) kocak (340) koplak (348) lirik lagu keren (29) ngakak (352) pluralisme dan kebenaran (33) psikologi (25) puisi (106) sms idul fitri (40) sms ucapan selamat tidur (86) video (74)
Rezeki dari SMS
 
Kumpulan Humor Terbaru | Copyright © 2011 Diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger